Pasar Saham AS Masih Tertekan di Tengah Inflasi yang Melandai
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS tertekan pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (14/2/2026) WIB. Indeks S&P 500 ditutup nyaris tidak berubah. Laporan inflasi konsumen utama yang sedikit lebih rendah dari perkiraan gagal memicu reli signifikan.
Indeks S&P 500 naik tipis 0,05% dan berakhir di 6.836,17, sementara Nasdaq Composite turun 0,22% ke 22.546,67. Dow Jones Industrial Average bertambah 48,95 poin atau 0,10% menjadi 49.500,93.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu Kekhawatiran Disrupsi AI, Dow Anjlok Lebih dari 650 Poin
Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) — yang mengukur biaya barang dan jasa dalam perekonomian AS — naik 0,2% pada Januari, mencerminkan kenaikan 2,4% secara tahunan. Ukuran inflasi tersebut sebelumnya diperkirakan naik 0,3% secara bulanan dan 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.
Jika mengecualikan harga makanan dan energi yang volatil, CPI inti sesuai ekspektasi, yakni naik 0,3% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan.
“Ini seharusnya menjadi kabar baik bagi pasar, dan bagi calon Ketua The Fed Kevin Warsh,” ujar Phil Blancato, kepala strategi pasar Osaic. “Ini memang baru satu bulan data, tetapi jika tren ini berlanjut, hal ini dapat membuka jalan bagi suku bunga yang lebih rendah dan inflasi yang lebih terkendali.”
Baca Juga
Inflasi AS Januari Lebih Rendah dari Perkiraan, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Menguat
Inflasi juga “tidak sepenuhnya terpisah” dari kekhawatiran investor bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengganggu potensi pendapatan di berbagai industri, menurut Keith Buchanan dari Globalt Investments. “Meskipun data CPI Jumat tidak ada hubungannya dengan apa yang kami antisipasi terkait disrupsi industri, pasar masih mencoba memahami apa arti AI dan implementasinya terhadap perekonomian, yang menciptakan ‘tekanan naik pada pengangguran’ serta tekanan turun pada inflasi,” beber Buchanan kepada CNBC.
Keuntungan di satu sisi dan kerugian di sisi lain dinilai sebagai bagian dari perkembangan bisnis. “Bagaimana mungkin kita berpikir semua orang akan menang tanpa ada yang kalah?” ujar manajer portofolio senior itu.
Kekhawatiran terhadap disrupsi AI mengguncang pasar pekan ini, meluas dari aksi jual di saham perangkat lunak ke sektor real estat, transportasi truk, dan jasa keuangan. Saham keuangan Charles Schwab dan Morgan Stanley masing-masing turun 10,8% dan 4,9% minggu ini, sementara saham perangkat lunak Workday merosot 11%. Saham perusahaan real estat komersial CBRE turun 16% sepanjang minggu berjalan.
Kekhawatiran tersebut juga meluas ke industri media, menekan Walt Disney dan Netflix. Saham Disney naik sekitar 3% sepanjang minggu, sementara Netflix anjlok 6%.
“Di tengah pergerakan harga yang takk menentu dan kekhawatiran disrupsi AI berubah menjadi isu makro/kredit yang lebih luas, latar belakang pertumbuhan, suku bunga, dan laba masih cukup baik,” kata analis Barclays Emmanuel Cau.
Ketiga indeks utama mencatat penurunan mingguan, dengan S&P 500 turun 1,4% dan membukukan pekan negatif kedua berturut-turut. Dow melemah 1,2%, sementara Nasdaq mencatat penurunan 2,1%.
