Wall Street Tetap Tertekan meski Inflasi AS Melandai, Dow Anjlok Hampir 450 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Indeks saham Amerika Serikat bergerak beragam pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (01/10/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Dow Jones berakhir di zona merah meskipun data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan.
S&P 500 turun 0,25% menjadi 7.651,54 setelah sempat menguat hampir 0,7% pada sesi perdagangan. Nasdaq Composite naik 0,24% menjadi 26.861,06. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menjadi indeks dengan penurunan terbesar. Dow anjlok 443,87 poin atau 0,86% menjadi 50.906,05.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan inflasi berdasarkan indeks harga personal consumption expenditures (PCE) meningkat 3,4% secara tahunan pada Agustus.
Baca Juga
Inflasi PCE AS Agustus Melunak, Ekspektasi Kenaikan Bunga Fed Menurun
Angka inflasi PCE AS September turun dari 3,7% pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memperkirakan inflasi tetap berada di 3,7%.
PCE inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, bahkan menunjukkan perkembangan yang lebih rendah. Inflasi inti hanya mencapai 3%, turun dari 3,3% pada Juli dan berada di bawah perkiraan ekonom.
Namun, kabar positif dari sisi inflasi belum cukup untuk mendorong kenaikan saham secara berkelanjutan.
Investor justru mengalihkan perhatian kepada prospek pertumbuhan ekonomi dan laporan tenaga kerja yang akan dirilis Jumat.
"Saya tidak melihat ekspektasi inflasi benar-benar melonjak. Jadi, saya pikir angka pertumbuhanlah yang menjadi perhatian para trader," kata Rob Haworth, senior investment strategy director di U.S. Bank Asset Management Group, kepada CNBC.
Menurut Haworth, ekspektasi pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang relatif kuat serta revisi pertumbuhan kuartal kedua turut mendorong kenaikan ekspektasi terhadap tingkat suku bunga riil jangka panjang.
Di pasar obligasi, yield Treasury 10 tahun ditutup naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,298%.
Yield Treasury 30 tahun juga naik hampir 5 basis poin menjadi 5,642%.
Kenaikan yield menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan saham meskipun inflasi menunjukkan perlambatan.
Pasar Menanti Data Tenaga Kerja
Perhatian investor kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls September yang dijadwalkan dirilis Jumat.
Ekonom memperkirakan jumlah tenaga kerja nonpertanian bertambah 84.000 pada September. Angka tersebut sekitar separuh dari penambahan lapangan kerja pada Agustus.
Pasar juga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober. CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan 25 basis poin pada bulan depan sekitar 35%, turun dari 51% sehari sebelumnya.
Namun, investor masih memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember.
"Meski data inflasi hari ini sedikit lebih baik dari perkiraan, data tenaga kerja dan PDB yang kuat menunjukkan laporan ini kemungkinan tidak akan mengubah ekspektasi umum terhadap kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun," kata Adam Hetts, global head of multi-asset dan portfolio manager Janus Henderson Investors.
Data ketenagakerjaan sektor swasta yang dirilis ADP pada Rabu juga menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan.
ADP melaporkan sektor swasta menambah 90.000 pekerjaan pada September, dibandingkan konsensus ekonom sebesar 68.000.
Perdagangan Rabu sekaligus menandai berakhirnya September dan kuartal ketiga 2026.
Baca Juga
Wall Street Tertekan Lonjakan Yield Obligasi AS, Dow Jones Melemah Tiga Hari Beruntun
Sepanjang September, S&P 500 turun 0,5%, sementara Dow Jones merosot 4,3%. Nasdaq justru naik 1,9%.
Untuk kuartal ketiga, S&P 500 menguat 2%, sedangkan Nasdaq naik 2,5%. Dow Jones mencatat kinerja lebih rendah dengan penurunan 2,7%.
