PDB Jepang Turun 1,8% YoY, Tertekan Ekspor dan Investasi Perumahan
Poin Penting
- PDB Jepang turun 1,8% secara tahunan dan 0,4% secara kuartalan, menandai kontraksi pertama dalam enam kuartal.
- Ekspor anjlok 4,5% secara tahunan, sementara investasi residensial jatuh lebih dari 32%, menjadikan permintaan domestik penekan terbesar pertumbuhan.
- Konsumsi pemerintah dan swasta membantu memperlambat penurunan, dengan permintaan publik mencatat pertumbuhan yang solid.
- Data lemah ini memperkuat dorongan PM Sanae Takaichi untuk meluncurkan paket stimulus besar lebih dari ¥10 triliun.
TOKYO, investortrust.id - Ekonomi Jepang mengalami kontraksi pertama dalam enam kuartal pada periode Juli–September, tertekan oleh melemahnya ekspor dan anjloknya investasi perumahan. Pada basis tahunan, PDB turun 1,8%, lebih baik dari perkiraan jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan kontraksi 2,5%.
Baca Juga
Secara kuartalan, PDB menyusut 0,4% pada kuartal III, menjadi penurunan pertama dalam satu setengah tahun. Angka tersebut lebih ringan dibanding perkiraan penurunan 0,6%.
Permintaan publik tumbuh 2,2% secara tahunan, didongkrak oleh konsumsi pemerintah. Sebaliknya, permintaan swasta turun 1,8%, terseret penurunan tajam lebih dari 32% pada investasi residensial.
Ekspor turun 4,5% secara tahunan dan 1,2% dibanding kuartal sebelumnya, setelah sempat meningkat 2,3% pada kuartal II. Melemahnya ekspor terjadi setelah pengiriman Jepang mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut sejak Mei akibat tarif AS, meski September mencatat rebound.
Di pasar keuangan, yen sedikit melemah terhadap dolar, sementara Nikkei 225 turun 0,29%. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 1,73%.
Konsumsi domestik membantu memperlambat kontraksi, dengan konsumsi pemerintah naik 0,5% dan konsumsi swasta meningkat 0,1% dari kuartal sebelumnya. Permintaan publik menjadi titik terang, tumbuh 0,5% secara kuartalan dan menyumbang 0,1 poin persentase bagi ekonomi.
Sebaliknya, permintaan swasta menjadi penekan terbesar pertumbuhan, turun 0,4% dan mengurangi PDB sebesar 0,3 poin persentase. Penurunan besar investasi perumahan mencapai 9,4%.
Harumi Taguchi, ekonom utama di S&P Global Market Intelligence, dikutip dari CNBC, Senin (17/11/2025), memperkirakan pertumbuhan PDB akan kembali membaik seiring meredanya dampak aturan baru perumahan—Jepang mulai April tahun ini mewajibkan standar konservasi energi yang lebih ketat untuk proyek baru.
Taguchi menambahkan bahwa meredanya ketidakpastian terkait tarif AS dan kesepakatan penurunan tarif antara Washington dan Beijing tampaknya mulai memberikan dampak positif pada pesanan dari Jepang.
Baca Juga
Inflasi Jepang Naik Pertama Kali Sejak Mei, Ujian Awal bagi PM Baru Takaichi
Data pertumbuhan yang lemah ini kemungkinan akan memperkuat rencana Perdana Menteri baru, Sanae Takaichi, untuk menstimulasi perekonomian. Pemerintah Jepang dilaporkan tengah merancang paket stimulus “berani dan strategis” untuk mendorong sektor-sektor pertumbuhan utama.
Mengutip rancangan dokumen, Reuters melaporkan bahwa pemerintah akan meningkatkan belanja “tanpa ragu” untuk mendukung ekonomi yang berada di ambang keluar dari stagnasi. Pemerintah juga akan mendorong investasi pada sektor-sektor strategis seperti artificial intelligence, semikonduktor, dan industri galangan kapal.
Pada awal bulan ini, Nikkei melaporkan bahwa paket tersebut bernilai lebih dari 10 triliun yen (US$64,63 miliar), mencakup subsidi listrik dan gas serta dukungan bagi usaha kecil dan menengah untuk membantu peningkatan upah.

