Ekspor Indonesia ke China, Jepang, India, dan Korea Selatan Berpotensi Tertekan Akibat Perang di Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ekspor Indonesia ke China, Jepang, India, dan Korea Selatan berpotensi tertekan akibat perang di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Kenaikan biaya energi akibat perang bakal memengaruhi kinerja industri dan perekonomian negara-negara tersebut, sehingga impornya berpotensi turun.
Menurut Head Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, perhatian dunia sekarang tertuju ke Timur Tengah yang tengah bergolak. Timur Tengah memiliki peran strategis dalam sistem energi global karena menyumbang lebih dari 30% produksi minyak dunia. Selain itu, sekitar 20–30% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz.
“Gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat memengaruhi harga energi internasional sekaligus meningkatkan biaya logistik perdagangan global,” kata Rini dalam keterangan resmi, Kamis (18/3/2026).
Rini menjelaskan, walaupun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap dapat dirasakan melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia.
Baca Juga
Sekutu AS Enggan Kawal Tanker di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 103
“Singapura dan Malaysia juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia,” tutur dia.
Rini Satriani menambahkan, Indonesia Eximbank Institute terus mencermati dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama Timur Tengah, seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan konsumen energi utama dari kawasan Teluk Persia sekaligus pasar ekspor penting bagi Indonesia.
"Peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut dan memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia," ujar dia.
Rini mengakui, eskalasi konflik di Teluk Persia berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan internasional. Namun bagi Indonesia, dampak langsung terhadap perdagangan diperkirakan relatif terbatas mengingat eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil.
Risiko utama, menurut Rini Satriani, justru muncul melalui kanal tidak langsung, terutama kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia.
Baca Juga
Harga Minyak Kembali Naik, Trump Kritik Sekutu yang Enggan Ikut Misi Pengamanan Selat Hormuz
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional, dengan komoditas utama meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703).
Adapun impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai 3,9% dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas.
Berdasarkan data terkini, sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain, seperti Asia Timur (36,4%), Asia Tenggara (20,8%), Amerika Utara (11,5%), Asia Selatan (9,6%), dan Eropa Barat (5,7%). Alhasil, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor yang menentukan bagi kinerja ekspor nasional.
Rini Satriani mengemukakan, apabila ketegangan geopolitik berlangsung dalam periode yang relatif lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran US$ 85–120 per barel secara rata-rata. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di level US$ 60 per barel.
Menurut Rini, kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan tersebut akan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar.
Baca Juga
Israel Perluas Serangan ke Elite Iran, Trump Desak Sekutu “Tuntaskan” Konflik
“Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama apabila di saat yang sama permintaan global mengalami perlambatan,” tutur dia.
Rini menambahkan, volatilitas pasar keuangan global juga dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik sehingga memperbesar tekanan biaya bagi sektor berorientasi ekspor.
Di tengah berbagai risiko tersebut, kata dia, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru mengalami kenaikan harga seiring kenaikan harga energi global. Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek.
“Namun, volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tandas dia.

