Yield Treasury AS 10-Tahun Sentuh 4,1% Setelah Sinyal Hati-hati dari The Fed
Poin Penting
- Imbal hasil Treasury 10 tahun bertahan di sekitar 4,093% setelah sempat menyentuh 4,10%, sementara tenor 2 tahun turun ke 3,596%.
- The Fed memangkas suku bunga 25 bps ke kisaran 3,75%–4,00%, level terendah dalam tiga tahun.
- Ketua Jerome Powell menegaskan pemotongan suku bunga lanjutan pada Desember belum pasti.
- Dua pejabat regional The Fed, Jeffrey Schmid dan Lorie Logan, menilai kondisi ekonomi belum mendesak untuk pelonggaran moneter lebih lanjut.
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun sedikit berubah pada Jumat (31/10/2025) setelah rebound pekan ini, menyusul keputusan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dan nada yang lebih berhati-hati terhadap kebijakan ke depan.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, tapi Powell Ragukan Kemungkinan Pemotongan Lanjutan Akhir Tahun
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun — yang menjadi acuan untuk berbagai instrumen seperti utang kartu kredit, hipotek, dan pinjaman mahasiswa — terakhir tercatat sedikit berubah di 4,093% setelah sempat menyentuh 4,10% di awal sesi. Imbal hasil Treasury tenor 2-tahun berada di 3,596% setelah turun lebih dari 1 basis poin, sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun naik lebih dari 1 basis poin menjadi 4,665%.
Pergerakan imbal hasil 10 tahun saat ini mencerminkan pembalikan dari pasar obligasi yang sempat menguat dalam beberapa hari menjelang keputusan bank sentral pada Rabu, ketika imbal hasil sempat turun di bawah 4,00%.
Federal Reserve menurunkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pekan ini ke kisaran target 3,75%–4,00% — level terendah dalam tiga tahun — dengan hasil pemungutan suara 10 banding 2. Ketua Fed Jerome Powell memperingatkan dalam konferensi pers setelahnya bahwa pemangkasan suku bunga lagi pada Desember “jauh dari” sebuah “kepastian.” Bank sentral tidak mengadakan pertemuan pada November.
Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeffrey Schmid, pada Jumat mengatakan kekhawatiran terhadap inflasi di masa depan menjadi alasan dirinya menolak pemangkasan suku bunga acuan sebesar seperempat poin pekan ini.
“Pasar saham berada dekat rekor tertinggi, spread obligasi korporasi sangat sempit, dan penerbitan obligasi berimbal hasil tinggi meningkat. Tidak ada yang menunjukkan bahwa kondisi keuangan saat ini terlalu ketat atau kebijakan moneter bersifat restriktif,” beber Schmid dalam pernyataan, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Wall Street Menghijau, Nasdaq dan S&P 500 Melesat Berkat Saham Amazon
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, pada Jumat mengatakan bahwa ia juga akan menolak pemangkasan suku bunga pekan ini, dengan alasan bahwa “prospek ekonomi saat ini tidak mendukung pemotongan suku bunga.” Logan mengatakan ia akan “sulit menyetujui” penurunan suku bunga lagi pada Desember tanpa “bukti jelas bahwa inflasi akan turun lebih cepat dari perkiraan atau pasar tenaga kerja melemah lebih signifikan.”
Logan bukan anggota yang memiliki hak suara dalam Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada tahun 2025.
Dengan minimnya data ekonomi yang dirilis akibat penutupan sebagian pemerintahan AS yang telah berlangsung empat minggu, perhatian tertuju pada data terbaru Chicago Purchasing Managers’ Index yang mencatat angka 43,8 untuk Oktober — lebih baik dari perkiraan konsensus ekonom sebesar 42,0, menurut layanan StreetAccount milik FactSet.

