Bagikan

CoinGlass Tuduh Binance Sembunyikan Data Likuidasi Saat Crash Kripto Akibat Tarif Trump

Poin Penting

CoinGlass menuduh Binance menyembunyikan data likuidasi saat pasar kripto anjlok akibat ancaman tarif dari Trump.
Binance sedang meninjau kompensasi bagi pengguna terdampak dan berjanji memperbaiki sistem manajemen risiko.
Masalah throttling API yang menyembunyikan data likuidasi juga terjadi di bursa lain seperti Bybit dan OKX.

JAKARTA, Investortrust.id - Binance, salah satu bursa kripto terbesar dunia, tengah berada di bawah sorotan setelah platform analitik CoinGlass menuduhnya menyembunyikan jumlah likuidasi yang sebenarnya saat pasar kripto anjlok akibat ancaman tarif 100% dari mantan Presiden AS, Donald Trump, terhadap impor dari China.

Lonjakan volatilitas yang terjadi setelah pengumuman Trump menyebabkan banyak aset kripto kehilangan nilai dalam waktu singkat. Tiga token utama di Binance—USDe, BNSOL, dan WBETH—mengalami depegging, atau kehilangan keterikatan nilainya terhadap aset acuan.

Kejadian ini memicu likuidasi paksa dalam jumlah besar di platform Binance Futures, menghancurkan posisi leverage para trader dalam hitungan detik.

Sekadar informasi, USDe adalah stablecoin algoritmik yang diterbitkan oleh Ethena, dan dirancang untuk mempertahankan nilai 1:1 terhadap dolar AS (USD). Tidak seperti stablecoin konvensional yang didukung oleh cadangan fiat seperti USDT (Tether) atau USDC (Circle), USDe menggunakan strategi delta-neutral: yaitu memanfaatkan instrumen derivatif dan posisi short untuk mengimbangi volatilitas aset dasar (seperti ETH). Sedangkan BNSOL adalah versi token turunan dari SOL (Solana) yang di-staking melalui platform Binance. Token ini mewakili kepemilikan pengguna atas SOL yang telah dikunci (staking) di jaringan Solana, namun tetap bisa diperdagangkan atau digunakan di DeFi.

Baca Juga

Krisis Kripto 2025 Jadi Likuidasi Terbesar dalam Sejarah, Lampaui 'Crash' Maret 2020 

Sementara  WBETH adalah versi tokenisasi dari Ethereum 2.0 yang di-stake melalui Binance di jaringan Beacon Chain (Ethereum Proof-of-Stake). Ini adalah versi "wrapped" dari ETH yang di-stake, memungkinkan likuiditas pada aset yang sebenarnya terkunci di protokol staking.

Diberitakan Coinedition.com, Sabtu (11/10/2025), Binance mengonfirmasi bahwa mereka sedang meninjau skema kompensasi bagi pengguna yang terdampak. Mereka menyatakan akan mengevaluasi ulang data akun, ambang batas kerugian, dan mekanisme penggantian sebagai bagian dari proses mitigasi. Pihak manajemen juga mengatakan bahwa alat manajemen risiko internal akan dikalibrasi ulang guna mencegah terulangnya kejadian serupa dan untuk mengembalikan kepercayaan pengguna terhadap sistem likuidasi Binance.

Namun, CoinGlass memicu kontroversi lebih lanjut dengan menyatakan bahwa data likuidasi yang dilaporkan Binance hanya mencerminkan 1/10 hingga 1/20 dari jumlah sebenarnya. CoinGlass menjelaskan bahwa batas teknis pada API WebSocket Binance hanya memungkinkan pelaporan satu likuidasi per detik, meskipun ribuan transaksi bisa terjadi dalam waktu bersamaan selama periode volatilitas ekstrem.

CoinGlass bahkan membagikan log dan data internal yang menunjukkan celah besar antara aktivitas pasar riil dan informasi yang ditampilkan secara publik oleh Binance.

Baca Juga

Pasar Kripto 'Crash', Bitcoin Sempat Jatuh ke Level Terendah Sejak Juni 2025

Tuduhan ini mendapat dukungan dari analis kripto populer Marty Party, yang menyebutkan bahwa banyak likuidasi tidak tercatat dalam data publik dan mengakibatkan persepsi pasar yang salah.

Masalah serupa ternyata tidak hanya terjadi di Binance. Pada Februari 2025, CEO Bybit, Ben Zhou, juga mengungkap bahwa likuidasi internal perusahaannya mencapai US$ 2,1 miliar, namun hanya US$ 333 juta yang muncul di platform agregator data.

Zhou menyalahkan throttling API yang serupa, juga digunakan oleh OKX dan Bybit, sebagai penyebab ketidakakuratan data selama lonjakan aktivitas pasar.

Analis dari K33 Research, Vetle Lunde, mengatakan bahwa sejak 2021, data likuidasi publik sudah tidak bisa diandalkan. Ia memperingatkan bahwa kurangnya transparansi real-time bisa menyesatkan trader, memperbesar risiko, dan mendorong pengambilan keputusan yang salah.

Lunde mendorong bursa kripto untuk membuka data likuidasi terverifikasi atau meningkatkan interval API mereka agar bisa diaudit secara publik. 

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024