Krisis Kripto 2025 Jadi Likuidasi Terbesar dalam Sejarah, Lampaui 'Crash' Maret 2020
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -Pasar kripto mengalami guncangan hebat setelah ancaman tarif 100% dari mantan Presiden AS, Donald Trump, terhadap impor dari Tiongkok. Kebijakan tersebut langsung memicu aksi jual besar-besaran dan membuat kapitalisasi pasar kripto anjlok hampir 10% dalam sehari, turun menjadi $3,73 triliun.
Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa lebih dari 1,6 juta trader mengalami likuidasi dalam waktu 24 jam, dengan total nilai yang dilikuidasi mencapai US$19,13 miliar — menjadikannya likuidasi terbesar dalam sejarah kripto. Menurut analis Ash Crypto, dampaknya bahkan 20 kali lebih besar dibanding crash akibat COVID-19 pada Maret 2020 dan 10 kali lipat lebih besar dari kehancuran bursa FTX pada 2022.
Diberitakan Coinedition.com, Sabtu (11/10/2025), Bitcoin, yang selama ini menjadi indikator utama pasar kripto, kini berada di bawah level support pentingnya, diperdagangkan di angka US$ 111.802 atau turun hampir 8% dalam 24 jam terakhir. Ethereum juga merosot lebih dari 12% ke US$ 3.778. Sementara itu, altcoin mengalami penurunan yang lebih tajam: Binance Coin (BNB) anjlok 13%, Solana dan Cardano masing-masing turun lebih dari 16% dan 20%, dan XRP kehilangan hampir 14% nilainya, kini berada di kisaran US$2,42 per keping.
Baca Juga
Pasar Kripto 'Crash', Bitcoin Sempat Jatuh ke Level Terendah Sejak Juni 2025
Krisis ini juga diperparah oleh tertundanya persetujuan 90 ETF kripto oleh pemerintah AS karena penutupan sebagian layanan pemerintah, yang membekukan potensi arus masuk dana sebesar US$10 miliar ke pasar.
Meski suasana pasar dipenuhi kepanikan, beberapa analis melihat peluang di tengah kekacauan ini. Ekonom Henrik Zeberg menyebutkan bahwa kondisi saat ini bisa menjadi awal dari "rally terakhir" sebelum pasar kripto memasuki fase pendinginan besar. Ia menilai melemahnya data ekonomi AS, termasuk angka tenaga kerja non-pertanian, menunjukkan pelemahan ekonomi yang biasanya menjadi pemicu lonjakan harga aset berisiko seperti kripto.
Menurut Zeberg, rally vertikal terakhir inilah yang sering kali memberikan keuntungan paling besar dalam siklus pasar. Namun, ia juga memperingatkan bahwa fase ini tidak akan bertahan lama. Ketika dolar AS mulai menguat kembali, potensi koreksi berikutnya di pasar kripto dan ekuitas bisa terjadi.
Sementara itu, analis pasar Michael van de Poppe mengatakan bahwa nasib Bitcoin dalam jangka pendek bergantung pada kemampuannya untuk bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 mingguan yang saat ini berada di sekitar US$112.000. Jika harga mampu stabil dan memantul dari level ini, koreksi besar yang terjadi bisa menjadi fase kapitulasi terakhir sebelum siklus pasar mencapai puncaknya, sebagaimana yang terjadi pada krisis COVID-19 dan kejatuhan FTX.

