Kontrak Berjangka Saham AS Menguat di Tengah ‘Blackout’ Data Ekonomi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham AS relatif stabil meski penutupan pemerintahan berlanjut dan menyebabkan penundaan rilis data ekonomi. Futures saham AS sedikit menguat setelah melewati pekan yang diwarnai pemecahan rekor.
Baca Juga
Dow Melonjak di Atas 200 Poin, Wall Street Catat Pekan Positif di Tengah Kisruh ‘Shutdown’
Kontrak berjangka saham AS naik tipis pada Minggu (5/10/2025) malam ketika penutupan pemerintahan Amerika Serikat berlanjut, menyusul pekan di mana Wall Street menguat hingga mencetak rekor tertinggi.
Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average naik 37 poin, atau 0,1%. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1% bersamaan dengan kontrak berjangka Nasdaq-100.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat kenaikan mingguan keempat dalam lima pekan terakhir, masing-masing naik 1,1% dan 1,3%. Dow juga naik untuk ketiga kalinya dalam empat pekan, menguat 1,1%.
Investor mengabaikan kekhawatiran atas penutupan pemerintahan setelah para anggota parlemen kembali gagal mencapai kesepakatan pendanaan untuk menjaga agar pemerintahan tetap beroperasi. Penutupan ini menyebabkan tertundanya rilis sejumlah data ekonomi penting — termasuk laporan ketenagakerjaan September — yang seharusnya diterbitkan pada Jumat.
Baca Juga
Kepercayaan Konsumen AS Merosot, ‘Shutdown’ Ancam ‘Blackout’ Data Ekonomi
“Meski demikian, kami menilai ini hanyalah isu sampingan, dan peluang besar masih berpihak pada penguatan saham dari Oktober hingga Desember tahun ini. Faktanya, kami memperkirakan S&P 500 akan mencapai setidaknya 7.000 pada akhir tahun — bahkan mungkin lebih tinggi,” tulis Tom Lee, kepala riset di Fundstrat, seperti dikutip CNBC.
“Kami menyarankan untuk mengabaikan kekacauan akibat penutupan pemerintahan, bahkan sekalipun data ekonomi tidak tersedia. Jika saham melemah secara signifikan, saya akan memanfaatkan situasi ini untuk ‘membeli saat turun,’” urainya.
Terlepas dari keterbatasan data, beberapa pejabat Federal Reserve dijadwalkan berbicara minggu ini, termasuk Gubernur Fed Stephen Miran pada Rabu dan Ketua Jerome Powell pada Kamis.

