Khamenei: Rakyat Iran Tolak ‘Tunduk’ pada Tekanan AS
Poin Penting
- Khamenei menegaskan rakyat Iran menolak tekanan AS untuk “patuh.”
- Teheran dan kekuatan Eropa sepakat lanjutkan pembicaraan nuklir pekan ini.
- Negosiasi dengan AS terhenti setelah serangan udara ke fasilitas nuklir Iran.
- Khamenei tuding AS dan Israel mencoba memecah belah persatuan rakyat Iran.
TEHERAN, investortrust.id - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat yang disebutnya ingin menjadikan Iran “patuh”. Ia menyebut tuntutan Washington sebagai “penghinaan besar” yang akan dihadapi dengan seluruh kekuatan bangsa Iran.
Baca Juga
Buka Diplomasi Baru, AS Siap Gelar Dialog Nuklir dengan Iran
“Mereka ingin Iran patuh kepada Amerika. Bangsa Iran akan berdiri dengan seluruh kekuatannya melawan mereka yang memiliki harapan keliru semacam itu,” kata Ayatollah Ali Khamenei dalam sebuah acara keagamaan pada Minggu, seperti dikutip Al Jazeera.
“Orang-orang yang meminta kami untuk tidak mengeluarkan slogan melawan AS … untuk melakukan negosiasi langsung dengan AS hanya melihat permukaan … Masalah ini tidak bisa diselesaikan,” ujarnya di tengah kebuntuan dengan kekuatan Barat mengenai program nuklir Iran.
Komentar Khamenei datang setelah Iran dan kekuatan Eropa pada Jumat sepakat untuk melanjutkan pembicaraan guna mencoba menghidupkan kembali negosiasi penuh terkait pembatasan pekerjaan pengayaan nuklir Teheran. Prancis, Inggris, dan Jerman mengatakan mereka dapat mengaktifkan kembali sanksi PBB terhadap Iran melalui mekanisme “snapback” jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Pertemuan dijadwalkan berlangsung Selasa.
Teheran menangguhkan perundingan nuklir dengan AS setelah Washington dan Israel mengebom fasilitas nuklirnya selama perang 12 hari pada Juni.
Baca Juga
Pasukan AS Bombardir Situs Nuklir Iran, Trump Sebut Fordow Sudah Dihancurkan
“Jalan musuh ke depan adalah menciptakan perpecahan di Iran," kata Khamenei. Ia menyalahkan “agen Amerika dan rezim Zionis” – merujuk pada Israel – karena berusaha menabur perpecahan. Ia mendesak rakyat Iran untuk tetap bersatu menghadapi apa yang ia sebut sebagai upaya AS untuk menundukkan negara tersebut.
Negara-negara Eropa, bersama AS, mengeklaim Iran tengah berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun Iran menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan sipil.
Pada 2015, Iran menandatangani kesepakatan nuklir penting dengan AS dan negara-negara Eropa di mana Teheran sepakat mengurangi ambisi nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.
Namun pada masa jabatan pertamanya, Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi sebagai bagian dari kebijakan “tekanan maksimum”. Sekutu regional terdekat Washington, Israel, juga menentang kesepakatan dengan Iran.
Perang 12 hari pecah pada Juni 2025 saat Teheran dan Washington dijadwalkan menggelar putaran keenam pembicaraan mengenai program nuklir Iran. Negosiasi yang sudah dimulai beberapa minggu sebelumnya akhirnya gagal karena konflik.
Hubungan antara Teheran dan Washington terputus setelah revolusi Islam 1979 menggulingkan pemerintahan pro-Barat Shah Mohammad Reza Pahlavi.
