Wall Street Melemah, Saham Teknologi Rontok Dilanda ‘Profit Taking’
Poin Penting
- S&P 500 turun 0,24% dan Nasdaq 0,67%, ditekan saham teknologi.
- Saham Nvidia, AMD, Broadcom, Intel hingga Apple alami koreksi.
- Risalah Fed tunjukkan kekhawatiran inflasi dan pasar kerja.
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada Rabu waktu AS atau Kamis (21/8/2025) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite tertekan oleh pelemahan luas di sektor teknologi. Investor juga mencerna laporan laba ritel yang beragam serta rilis risalah rapat terbaru Federal Reserve.
Baca Juga
Wall Street Tertekan Saham ‘Big Tech’, tapi Dow Sempat Sentuh Rekor
Indeks pasar luas itu turun 0,24% dan ditutup di 6.395,78, sementara Nasdaq yang sarat teknologi melemah 0,67% dan berakhir di 21.172,86. Rabu menandai hari keempat penurunan S&P 500 dan sesi negatif kedua bagi Nasdaq. Dow Jones Industrial Average menjadi pengecualian dengan naik 16,04 poin atau 0,04% ke 44.938,31.
Investor terus mengambil keuntungan dari sejumlah saham teknologi dan semikonduktor besar, meningkatkan kekhawatiran tentang valuasi tinggi dan ketahanan perdagangan berbasis kecerdasan buatan dalam jangka panjang.
Nvidia berakhir sedikit melemah, sementara Advanced Micro Devices dan Broadcom masing-masing turun sekitar 1%. Saham Palantir melemah sekitar 1%, dan Intel anjlok sekitar 7%. Saham raksasa teknologi Apple, Amazon, Alphabet, dan Meta Platforms juga terkoreksi.
“Tidak mengejutkan melihat beberapa investor mengambil keuntungan pada saham teknologi yang telah melonjak sangat kuat – beberapa naik lebih dari 80% sejak level terendah awal April. Volume perdagangan secara umum biasanya tipis pada akhir Agustus sehingga menghasilkan fluktuasi lebih lebar dari yang seharusnya secara fundamental,” urai Carol Schleif, kepala strategi pasar di BMO Private Wealth, seperti dikutip CNBC.
Di sisi laporan laba, saham Target turun 6% setelah peritel itu melaporkan penurunan penjualan lagi dan mengumumkan CEO baru yang akan mulai menjabat 1 Februari. Sementara itu, Lowe’s sedikit menguat setelah laba peritel perbaikan rumah itu melampaui ekspektasi.
Risalah rapat Federal Reserve bulan Juli yang dirilis Rabu menunjukkan para bankir sentral menyuarakan kekhawatiran terkait kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi, meskipun sebagian besar sepakat masih terlalu dini untuk menurunkan suku bunga.
Baca Juga
The Fed Terbelah dalam Putuskan Kebijakan Suku Bunga, Risalah FOMC Ungkap Alasannya
Saat itu, pembuat kebijakan kembali menahan suku bunga, namun Gubernur Fed Christopher Waller dan Michelle Bowman menyatakan perbedaan pendapat, menandai pertama kalinya sejak 1993 ada dua pejabat voting Fed yang melakukan hal tersebut.
“Peserta umumnya menyoroti risiko pada kedua sisi mandat ganda Komite, dengan menekankan risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan pada lapangan kerja,” demikian risalah. Sementara “mayoritas peserta menilai risiko kenaikan inflasi lebih besar,” beberapa peserta melihat “risiko penurunan pekerjaan lebih menonjol.”
Rilis risalah ini hadir menjelang pernyataan Ketua Fed Jerome Powell pada Jumat, yang akan diawasi investor untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga. Futures Fed funds memperkirakan lebih dari 80% kemungkinan bank sentral akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya di September, menurut CME’s FedWatch tool.
“Jika bahasa Powell lebih hawkish, itu bisa memberi tekanan lebih lanjut pada saham teknologi, karena keberlanjutan suku bunga tinggi biasanya menjadi hambatan bagi sektor teknologi,” ujar Schleif.

