Laba Jaguar Land Rover Anjlok Hampir 50% Akibat Tarif AS
Poin Penting
|
LONDON, Investortrust.id - Produsen mobil sport dan mobil mewah berbasis di Inggris, Jaguar Land Rover mengalami penurunan laba hampir setengahnya setelah terpukul oleh penurunan penjualan sebagai dampak tarif perdagangan Amerika Serikat.
Perusahaan melaporkan penurunan 49,4% laba pra-pajak dasar menjadi £351 juta pada kuartal pertama yang berakhir pada Juni, menyusul penurunan pendapatan sebesar 9,2% menjadi £6,6 miliar.
Penurunan ini terjadi setelah penghentian sementara ekspor ke AS dan penghentian bertahap model Jaguar lama menjelang peluncuran lini mobil listrik baru pada 2026. Manajemen menyebut tarif AS memberikan “dampak langsung dan signifikan terhadap profitabilitas dan arus kas pada periode tersebut.”
Namun demikian dalam pernyataan resminya, perusahaan menambahkan bahwa “kesepakatan dagang AS-Inggris akan secara signifikan mengurangi dampak finansial tarif AS ke depannya.”
“Kami berterima kasih kepada pemerintah Inggris dan AS karena telah bergerak cepat dalam menghadirkan kesepakatan dagang baru AS-Inggris, yang akan mengurangi secara signifikan dampak tarif AS pada kuartal-kuartal berikutnya, sebagaimana juga akan dilakukan oleh kesepakatan dagang Uni Eropa-AS yang diumumkan pada 27 Juli,” kata CEO Jaguar Land Rover Adrian Mardell seperti dikutip LBC.co.uk, Jumat (8/8/2025).
Baca Juga
Sebelumnya pada Juli lalu, Jaguar Land Rover yang sahamnya dimiliki Tata Motors mengumumkan rencana memangkas hingga 500 posisi manajemen di Inggris, setara 1,5% dari total tenaga kerja Jaguar Land Rover di Inggris yang berjumlah lebih dari 33.000 orang. Pemangkasan dilakukan melalui program pengunduran diri sukarela bagi para manajer.
Mardell, yang memimpin perusahaan selama tiga tahun dan telah bekerja 35 tahun di Jaguar Land Rover, juga mengumumkan rencana pensiun pada November mendatang.
Ia akan digantikan oleh PB Balaji, Direktur Keuangan Grup Tata Motors.
Jaguar Land Rover menghentikan pengiriman baru ke AS pada April, namun kembali melanjutkannya pada awal Mei di tengah harapan adanya kesepakatan dagang untuk sektor otomotif. Penjualan grosir di Amerika Utara turun 12,2% secara tahunan pada kuartal tersebut akibat penghentian sementara ekspor.
Perusahaan kini menyambut baik kesepakatan dagang dengan AS yang memangkas tarif kendaraan buatan Inggris yang diekspor ke Amerika dari 27,5% menjadi 10% mulai 30 Juni. Kesepakatan dagang Uni Eropa-AS yang diumumkan pada 27 Juli juga akan menurunkan tarif kendaraan JLR yang dibuat di Uni Eropa dan diekspor ke AS dari 27,5% menjadi 15%.
