Ekspor Jerman Tertekan Ancaman Tarif Trump
BERLIN, investortrust.id - Ketidakpastian yang berkepanjangan mengenai kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump telah menekan ekspektasi ekspor Jerman secara signifikan pada Juni.
Hal ini terlihat dari indeks Ifo yang turun ke -3,9 dari -3,0 pada bulan sebelumnya, penurunan berturut-turut yang memperkuat kekhawatiran sektor bisnis terhadap masa depan perdagangan transatlantik.
Baca Juga
Negosiasi Alot, Trump Ancam Kenakan Tarif 50% untuk Uni Eropa
“Tarif dari AS masih mengancam,” ujar Klaus Wohlrabe, Kepala Survei Ifo, dalam keterangan resmi, seperti dikutip Reuters.
“Kesepakatan dagang Uni Eropa-AS belum tercapai, dan ketidakpastian ini jelas menurunkan harapan para eksportir.”
Tarif yang diumumkan Trump — bagian dari ambisinya memangkas defisit perdagangan barang dengan Eropa — memicu kecemasan luas di kalangan industri, terutama sektor otomotif Jerman yang mengandalkan ekspor ke pasar AS sebagai salah satu tulang punggung.
Negosiasi antar kedua blok ekonomi besar itu sejauh ini belum menghasilkan titik temu. Lima sumber diplomatik kepada Reuters mengungkapkan bahwa pejabat Eropa mulai mengantisipasi skenario terburuk: tarif resiprokal sebesar 10% yang diterapkan secara sepihak oleh Washington sebagai dasar perjanjian dagang baru.
Dilema Jerman
Bagi Jerman, tarif bukan sekadar isu dagang. Ini adalah ancaman terhadap struktur ekonomi ekspor yang menopang lapangan kerja dan pertumbuhan industri. Para eksekutif perusahaan otomotif seperti BMW, Volkswagen, dan Mercedes-Benz, dilaporkan mulai mengevaluasi ulang rantai pasok dan ekspansi mereka di Amerika Utara.
Baca Juga
Eropa Masuki Zona Konsolidasi, Pasar Tunggu Arah Ekonomi Jerman
“Setiap tarif baru akan menggerus daya saing kami di pasar utama,” ujar seorang petinggi dari asosiasi produsen mobil Jerman (VDA) yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Data IMF mencatat bahwa sekitar 20% dari total ekspor mobil Jerman pada 2023 dikirim ke Amerika Serikat. Setiap kenaikan tarif 10% dapat memangkas marjin keuntungan hingga 6–8% untuk unit ekspor utama.

