Bursa Eropa Tertekan, Saham Otomotif Terpukul Ancaman Tarif Trump
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Pasar saham Eropa ditutup melemah pada awal pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah dan ancaman baru perang dagang transatlantik.
Baca Juga
Kejutan Baru untuk Uni Eropa: Trump Naikkan Tarif Mobil Jadi 25%
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx Europe 600 Senin (4/5/2026) ditutup turun 1%, berbalik arah dari penguatan yang sempat terjadi di awal sesi. Bursa utama di Frankfurt, Paris, dan Milan kompak berada di zona merah, mencerminkan sentimen risiko yang kembali meningkat. Sementara itu, perdagangan di London tutup karena libur bank musim semi.
Tekanan terbesar datang dari sektor otomotif setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor mobil dan truk dari Uni Eropa hingga 25%. Pernyataan tersebut langsung mengguncang saham produsen mobil Eropa.
Saham perusahaan suku cadang Continental AG jatuh ke posisi terbawah indeks dengan penurunan 4,6%. Produsen mobil premium Mercedes-Benz Group melemah 3,4%, sementara Volkswagen Group terkoreksi lebih dari 2%.
Di sisi lain, saham Nokia justru melonjak 7,4% setelah kabar bahwa Inseego akan mengakuisisi bisnis fixed wireless access miliknya. Kinerja tersebut mendorong kenaikan saham Nokia lebih dari 100% sejak awal tahun.
Ancaman tarif ini muncul meskipun Mahkamah Agung AS sebelumnya telah membatalkan sebagian besar agenda tarif Trump pada Februari lalu, menambah ketidakpastian arah kebijakan perdagangan Washington.
Gedung Putih juga meluncurkan inisiatif “Project Freedom” untuk mengawal kapal dagang melewati Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang kini terancam konflik.
Baca Juga
Trump Siapkan “Project Freedom” untuk Bebaskan Kapal di Selat Hormuz
Ketegangan meningkat setelah laporan serangan terhadap kapal di dekat Fujairah, Uni Emirat Arab. Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak global.
Harga minyak mentah Brent crude oil naik lebih dari 5% ke sekitar US$114 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat hingga menembus US$105 per barel.

