Memahami Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto
Oleh Alexander Ivanov
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk Indonesia (2007–2012),
Duta Besar Rusia untuk ASEAN di Jakarta (2017–2023),
Anggota Dewan Ahli Portal Ilmiah dan Analitis The Oriental Tribune
INVESTORTRUST.ID - Pada 19 Juni tahun ini, KTT Rusia-Indonesia dimulai di St. Petersburg. Bertepatan dengan peristiwa penting ini, Institut Studi Oriental dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan portal ilmiah dan analitis The Eastern Tribune menerbitkan memoar dua jilid yang ditulis oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto — seorang Letnan Jenderal, tokoh politik, pribadi dengan kecerdasan luar biasa, Presiden Republik Indonesia, negara muslim terbesar di dunia dengan sejarah yang rumit namun gemilang, anggota berpengaruh dari “Mayoritas Global”, yang mendapat penghormatan luas di tingkat internasional dan regional.
Buku yang diperkenalkan kepada pembaca Rusia ini berjudul The Art of Military Leadership (Seni Kepemimpinan Militer), ditulis oleh Prabowo Subianto saat ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan Indonesia.
Apa yang membuat buku dua jilid ini menarik? Pertama, sulit menentukan genrenya, karena disusun dengan cara yang sangat orisinal dan menggugah. Jilid pertama berisi narasi tentang orang-orang, terutama dari kalangan militer, yang ditemui sang penulis sepanjang hidupnya dan yang menjadi teladan dalam pengabdian militer maupun kontribusi sipil.
Baca Juga
Perlu dicatat bahwa mereka bukan hanya senior atau rekan seangkatan sang penulis, tetapi juga bawahan dalam hal pangkat atau jabatan. Namun, buku ini bukan memoar dalam arti sempit, karena penulis tidak berfokus pada rangkaian peristiwa, melainkan pada karakter manusia dan standar perilaku.
Bahasa yang digunakan tampak sederhana. Tetapi bagi pembaca yang cermat, kesederhanaan ini menyimpan kedalaman motivasi psikologis di balik tindakan-tindakan manusia dalam berbagai situasi yang sering kali luar biasa.
Banyak bagian yang disampaikan oleh Prabowo Subianto mengangkat lembaran sejarah Indonesia —baik masa lalu maupun kontemporer— yang belum dikenal publik secara luas. Bahkan saya, yang telah bertugas di Indonesia selama 11 tahun sebagai Duta Besar Rusia untuk Indonesia dan ASEAN, dan mempelajari sejarah serta tokoh-tokoh besar bangsa ini secara mendalam, terkejut oleh banyak fakta menarik dan sebelumnya tidak saya ketahui.
Hal ini tidak hanya mencakup uraian Prabowo tentang tokoh-tokoh besar Indonesia, seperti Kartanegara, Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, Sukarno, dan Jenderal Sudirman, tetapi juga kisah-kisah dari karier militernya sendiri: operasi tempur di Timor Timur, Papua, dan Aceh, hingga perjalanannya dari Letnan muda menjadi Letnan Jenderal, Panglima Kopassus, Pangkostrad, dan Menteri Pertahanan.
Setelah pensiun dari militer, Prabowo Subianto pernah berada di kubu politik yang berseberangan dengan beberapa mantan rekan seperjuangannya. Namun, tidak ada satu kata pun dalam bukunya yang merendahkan mereka. Sebaliknya, ia justru menonjolkan sifat-sifat mereka yang, menurutnya, patut diteladani oleh generasi muda.
Kualitas Kemanusiaan
Jilid kedua buku ini memuat renungan tentang kepemimpinan dan kualitas kemanusiaan dari berbagai tokoh dunia sepanjang sejarah. Tampaknya, Prabowo tidak bertemu langsung dengan sebagian besar dari mereka, tetapi membaca banyak tentang mereka. Jelas bahwa ia adalah pembaca yang cermat dan penuh pengamatan terhadap nuansa-nuansa kecil yang mencerminkan tindakan para pemimpin besar yang dapat menjadi panutan bagi generasi muda.
Baca Juga
Memoar Presiden Prabowo di Rusia: Diplomasi, Kepemimpinan, dan Pesan untuk Dunia
Dengan menguraikan kisah hidup para tokoh sejarah, Prabowo menyoroti karakter dan perilaku mereka yang, menurutnya, menjadi kunci keberhasilan mereka sebagai pemimpin. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Gaius Julius Caesar, Alexander Agung, Sun Tzu, Salahuddin Al-Ayyubi, Jenghis Khan, Toyotomi Hideyoshi, George Washington, Simon Bolivar, Zhu De, Emiliano Zapata, Nelson Mandela, Vo Nguyen Giap, dan banyak lainnya.
Prabowo juga tidak lupa menyebut tokoh Rusia, seperti Mikhail Kutuzov, Georgy Zhukov, dan Konstantin Rokossovsky. Perbandingan kualitas kepemimpinan lintas zaman dan budaya ini adalah pendekatan penulis yang langka dan menarik, yang tidak hanya memberikan penilaian terhadap para tokoh itu, tetapi juga mengajak pembaca untuk bercermin pada diri sendiri di saat-saat penting dan sulit dalam hidup.
Karena itu, sebagaimana dinyatakan Prabowo, buku ini dimaksudkan terutama untuk menyemangati generasi muda — membangun keteguhan jiwa mereka berdasarkan teladan nyata, bukan dongeng rekaan — yang sangat penting bagi masa depan bangsa Indonesia.
Dengan merangkai pemikiran tentang pahlawan nasional Indonesia dan tokoh-tokoh besar dunia dalam satu buku, dalam latar sejarah yang luas dari masa kuno hingga abad ke-20, ditambah kenangan pribadinya terhadap tokoh-tokoh luar biasa yang pernah bersamanya, Prabowo berhasil membawa para tokoh ini lebih dekat ke hati pembaca — bukan sebagai legenda jauh, melainkan sebagai manusia nyata.
Sangat menarik bahwa Prabowo Subianto kerap mengutip kearifan rakyat Indonesia, terutama peribahasa Jawa. Salah satu yang sering ia kutip adalah: “Bekerjalah keras, jangan mencari keuntungan berlebihan; kepentingan rakyat dan negara adalah yang utama.” Sebuah pesan yang ditujukan Prabowo kepada “generasi 1945” — istilah yang ia pakai untuk menyebut mereka yang berjuang merebut kemerdekaan Indonesia — mengalir sepanjang buku ini.
Baca Juga
Misi Diplomasi Prabowo di Rusia, Bertemu Putin hingga Pidato di Forum Ekonomi Internasional
Ia lahir pada tahun 1951, sepuluh bulan setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Dua pamannya gugur dalam pertempuran melawan Jepang pada Januari 1946. Kakek dan ayahnya adalah tokoh penting dalam generasi 1945. Sejak kecil, ia telah ditanamkan semangat 1945, yang menurutnya berarti “berjuang menjadikan Indonesia bangsa merdeka, terhormat, yang rakyatnya hidup sejahtera, bahagia, dan setara dengan bangsa lain.” Saat kecil, ia meminta orang tuanya membelikannya seragam militer dan menjadi satu-satunya murid yang selalu datang ke sekolah dengan mengenakan seragam.
Keyakinan Prabowo Subianto
Didikan semacam ini sangat membentuk karakter dan keyakinan Prabowo Subianto. Sejak kecil, ia sudah membenci kolonialisme. Ia mengenang saat menjadi perwira dan menemukan sebuah papan tua di Jakarta bertuliskan dalam bahasa Belanda: “Anjing dan pribumi dilarang masuk.” Dengan nada geram, ia menulis bahwa penjajah memperlakukan anjing lebih baik daripada bangsa Indonesia.
Ketika saya bertugas di Jakarta, saya berkesempatan bertemu dan berbicara dengan Prabowo Subianto saat ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Saya sangat terkesan oleh keluasan wawasannya, pengetahuannya yang luas karena banyak membaca buku, dan yang paling utama, oleh patriotismenya yang tulus serta kebanggaannya terhadap tanah airnya.
Cinta yang mendalam kepada Indonesia dan keinginannya untuk membuat rakyatnya lebih bahagia adalah esensi dari buku luar biasa ini. Hanya dengan cinta sejati pada Tanah Air, seseorang bisa menulis kalimat seperti ini: “Keramahan tertanam dalam jiwa bangsa kita… Seluruh dunia dapat melihat senyum di wajah orang Indonesia. Meski mereka miskin, hanya punya satu baju, rumah mereka reyot, mereka tetap tersenyum. Indonesia sungguh menakjubkan. Inilah yang menyentuh hatiku.” Kami ingin menambahkan: perasaan ini menyentuh hati siapa pun yang mengenal bangsa dan negeri ini.
Baca Juga
Deretan Pasukan Kehormatan Putin Sambut Kedatangan Prabowo di Rusia
Para pembaca Rusia, terutama yang tertarik dengan Indonesia, akan menemukan banyak nilai dalam buku ini. Salah satunya, yang sangat penting dan relevan, adalah bahwa sang penulis yang dengan tulus menyampaikan pandangannya ini adalah Presiden Indonesia — negara yang memiliki ikatan kuat dengan Rusia sejak perjuangan kemerdekaannya.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tahu berterima kasih. Mereka ingat semua bantuan yang diberikan Rusia dalam perjuangan dan tahun-tahun awal pascakemerdekaan. Saat ini, hubungan kedua negara berkembang dinamis, baik dalam kerja sama bilateral maupun dalam format multilateral, seperti ASEAN, G20, dan PBB. Persahabatan kedua bangsa ini sehat dan kokoh karena dilandasi ketulusan. Dan juga karena bersandar pada rasa saling menghormati, saling menyukai, serta filosofi yang serupa dalam menciptakan dunia multipolar yang bebas dari tirani dan pemaksaan nilai-nilai asing.
Kami berharap bahwa Prabowo Subianto, saat memegang jabatan tertinggi sebagai Presiden Indonesia, akan mampu menunjukkan gaya kepemimpinan yang bermartabat sebagaimana yang ia gambarkan dalam bukunya. Kami juga berharap bahwa penerbitan karyanya di Rusia akan turut berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang sejarah, para pahlawan, dan tradisi bangsa kami, serta pada akhirnya mempererat kerja sama persahabatan antara Rusia dan Indonesia. ***

