Wall Street Bergerak ‘Sideways’ Setelah The Fed Tahan Suku Bunga
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (19/6/2025).
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup sedikit melemah, menyusul kebijakan terbaru dari Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga dan menyiratkan tidak akan terburu-buru menurunkannya. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan akan menunggu dampak tarif Presiden Donald Trump terhadap inflasi sebelum mengambil langkah lanjutan.
Baca Juga
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Deeskalasi Israel-Iran, Dow Melonjak di Atas 300 Poin
Dow yang berisi 30 saham utama turun 44,14 poin atau 0,10% ke level 42.171,66. S&P 500 terkoreksi 0,03% dan berakhir di 5.980,87, sementara Nasdaq Composite naik tipis 0,13% ke posisi 19.546,27.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%–4,5%, sesuai ekspektasi pasar. Namun, meski bank sentral masih mengisyaratkan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, proyeksi ekonomi menunjukkan tekanan stagflasi yang menguat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2025 dipangkas menjadi hanya 1,4%, sementara inflasi inti dinaikkan menjadi 3,1%.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Bunga Acuan, Proyeksikan Dua Pemangkasan Tahun Ini
Dalam konferensi pers usai pengumuman kebijakan, Powell mengatakan pihaknya mulai melihat dampak tarif terhadap inflasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa The Fed “dalam posisi yang tepat untuk menunggu” sebelum mengubah kebijakan.
“Besarnya efek tarif, durasinya, dan waktu tempuhnya sangat tidak pasti,” kata Powell. “Karena itulah langkah paling tepat saat ini adalah menahan posisi sambil menunggu informasi lebih lanjut.”
Ketegangan Israel-Iran
Sementara itu, Presiden Trump mengatakan bahwa pihak Iran telah menghubungi AS dan mengisyaratkan niat untuk mengirim delegasi ke Washington untuk bernegosiasi.
“Mereka ingin bernegosiasi,” ujar Trump. “Bahkan mereka menyarankan datang langsung ke Gedung Putih. Itu tindakan berani. Tidak mudah bagi mereka melakukan itu.”
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel terus menekan sentimen pasar sepanjang pekan, mendorong harga minyak naik. Pada hari Rabu, konflik memasuki hari keenam. Ayatollah Ali Khamenei kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah dan memperingatkan AS bahwa jika turut campur, mereka akan menghadapi “kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.”
Baca Juga
Tak Gentar Ultimatum Trump, Khamenei Serukan ‘Perang Dimulai’
“Pasar tampaknya cenderung mengabaikan risiko geopolitik,” kata Zachary Hill, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments kepada CNBC. “Itu memang secara historis sering menjadi pendekatan yang benar, jadi saya pikir itu yang sedang mendorong arah pasar.”

