Wall Street Menguat di Tengah Harapan Deeskalasi Israel-Iran, Dow Melonjak di Atas 300 Poin
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham AS ditutup menguat pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (17/6/2025) WIB. Kenaikan indeks didorong oleh meredanya lonjakan harga minyak dan meningkatnya harapan bahwa konflik antara Israel dan Iran tidak akan melebar menjadi perang regional yang lebih luas.
Baca Juga
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 317,30 poin atau 0,75% ke level 42.515,09. Indeks S&P 500 naik 0,94% menjadi 6.033,11, sedangkan Nasdaq Composite melaju 1,52% dan berakhir di posisi 19.701,21.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi lebih dari 1% ke US$71,77 per barel setelah sempat diperdagangkan di atas US$77 dalam sesi malam sebelumnya. Penurunan ini memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko.
Ketegangan Timur Tengah
Pasar keuangan global terus memantau situasi di Timur Tengah setelah serangan Israel ke Iran pada Jumat lalu yang disusul dengan balasan rudal dari Teheran. Konflik ini telah memasuki hari keempat dengan kedua negara saling menargetkan fasilitas energi satu sama lain.
Namun, laporan NBC News menyebutkan bahwa Iran telah meminta sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, untuk mendorong Presiden AS Donald Trump agar menekan Israel melakukan gencatan senjata segera. Sebagai imbalan, Iran disebut bersedia menunjukkan fleksibilitas dalam perundingan nuklir.
“Pasar merasa lebih tenang dengan prospek bahwa konflik ini bisa tetap dalam skala terbatas. Namun, kami menilai bahwa konflik ini kemungkinan masih akan berlangsung beberapa minggu dan tetap ada risiko eskalasi yang berdampak pada energi dan memicu keterlibatan AS,” urai Krishna Guha, Wakil Ketua Evercore ISI, dalam sebuah catatan kepada klien, seperti dikutip CNBC.
Meski harapan deeskalasi muncul, situasi tetap berisiko tinggi. Iran bahkan menyatakan sedang mempertimbangkan penutupan Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar 20% pengiriman minyak global. Di sisi lain, militer Israel pada Senin mengklaim telah memperoleh “superioritas udara” atas Iran.
Bursa Pulih
Penguatan ini menjadi pembalikan arah setelah aksi jual masif pada Jumat, saat Dow terjun lebih dari 700 poin dan seluruh indeks utama turun lebih dari 1%. Dalam sepekan, Dow mencatat penurunan 1,3%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,4% dan 0,6%.
Baca Juga
Wall Street Hancur Lebur Setelah Serangan Israel-Iran, Dow Anjlok Lebih dari 750 Poin
Sebelumnya, lonjakan harga minyak pasca serangan Israel sempat menekan aset berisiko, dan mendorong reli emas sebagai aset lindung nilai.
Namun pada Senin, meredanya harga minyak membuat investor kembali memburu saham, terutama di sektor teknologi dan pertahanan. Seluruh saham dalam kelompok “Magnificent Seven” ditutup menguat. Saham Tesla naik lebih dari 1%, sementara Meta Platforms menguat hampir 3% didorong kabar bahwa layanan iklan akan segera hadir di WhatsApp. Saham Palantir, yang dinilai sebagai perusahaan yang diuntungkan dari meningkatnya belanja pertahanan global, naik hampir 3%.
Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan The Fed yang akan diumumkan pada Rabu malam waktu setempat. Data survei manufaktur AS yang lebih lemah dari ekspektasi juga dirilis Senin pagi, menambah ketidakpastian.
Menurut alat pemantau FedWatch milik CME Group, pasar kini memperkirakan hampir 100% kemungkinan bahwa The Fed akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini, meskipun Presiden Trump terus mendesak Ketua The Fed Jerome Powell untuk segera memangkas suku bunga.
Namun, prospek pelonggaran kebijakan moneter tampaknya kian mengecil setelah harga minyak melonjak akibat konflik Timur Tengah, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi jangka pendek.

