Trump Ancam Tarif 245%, Ini Reaksi China
BEIJING, investortrust.id - Tiongkok menyatakan, jika Amerika Serikat terus memainkan "permainan angka tarif", maka mereka tidak akan memberikan perhatian.
Baca Juga
Gedung Putih Beri Klarifikasi soal Tarif 245% Barang Tiongkok
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Tiongkok, dikutip dari Reuters, Kamis (17/4/2025). Ini merupakan tanggapan atas pernyataan Gedung Putih bahwa Tiongkok menghadapi tarif hingga 245% akibat tindakan balasan yang diambilnya.
Pemerintahan Trump telah mengumumkan tarif baru secara besar-besaran hingga 245% terhadap impor dari Tiongkok, yang secara tajam meningkatkan ketegangan dalam konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Keputusan tersebut dirinci dalam lembar fakta Gedung Putih yang dirilis pada Selasa malam.
"Lebih dari 75 negara telah menghubungi kami untuk membahas kesepakatan perdagangan baru. Akibatnya, tarif individu yang lebih tinggi saat ini dihentikan sementara selama diskusi berlangsung, kecuali terhadap Tiongkok, yang melakukan pembalasan," demikian bunyi pernyataan tersebut.
"Tiongkok kini menghadapi tarif hingga 245% terhadap impor ke Amerika Serikat sebagai akibat dari tindakan balasan yang diambilnya," tulis lembar fakta itu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Dalam lembar fakta itu, Gedung Putih juga menuduh Beijing melarang ekspor ke AS atas galium, germanium, antimoni, dan material teknologi tinggi penting lainnya yang memiliki potensi aplikasi militer.
Tiongkok menangguhkan ekspor enam logam tanah jarang berat, serta magnet tanah jarang, dalam upaya untuk menutup pasokan komponen penting bagi produsen otomotif, industri dirgantara, perusahaan semikonduktor, dan kontraktor militer di seluruh dunia.
Pekan lalu, Tiongkok menaikkan tarif tambahannya terhadap impor dari AS hingga 125% sebagai bentuk pembalasan atas tarif 145% yang diberlakukan pemerintahan Trump terhadap ekspor Tiongkok. Tiongkok juga mengajukan gugatan ke WTO menyusul kenaikan tarif dari AS.
Baca Juga
Minggu ini, Tiongkok secara mengejutkan menunjuk negosiator perdagangan baru yang akan menjadi tokoh kunci dalam setiap pembicaraan untuk menyelesaikan perang tarif yang terus memanas, dengan menggantikan ketua perdagangan Wang Shouwen dengan Li Chenggang, utusan Tiongkok untuk WTO.
Beijing menyatakan bahwa tarif dari Amerika “bertentangan dengan seluruh dunia” dan akan “merusak sistem perdagangan multilateral berbasis aturan secara serius.”
Sementara itu, Washington menyatakan bahwa Trump terbuka untuk membuat kesepakatan dagang dengan Tiongkok, namun Beijing harus mengambil langkah pertama, dengan menegaskan bahwa Tiongkok “membutuhkan uang AS.”

