Penjualan Anjlok 20%, Nokia PHK 14.000 Karyawan
JAKARTA, Investortrust.id – Perusahaan perlengkapan telekomunikasi asal Finlandia, Nokia mengumumkan bahwa mereka akan melakukan pengurangan jumlah karyawan (PHK) sebanyak 14.000 orang, sebagai langkah pengurangan biaya baru. Rencana PHK yang diumumkan Kamis (19/10/2023) ini dilansir menyusul penjualan kuartal ketiga yang anjlok sebesar 20% akibat laris manisnya angka penjualan perlengkapan 5G generasi lanjutan.
Nokia dan pesaingnya, Ericsson telah berjuang menghadapi perlambatan permintaan untuk peralatan 5G di negara-negara seperti Amerika Serikat. Kedua perusahaan mencoba untuk mengimbangi perlambatan tersebut dengan mengatrol penjualan di India, negara dengan pasar bermargin rendah.
Di sisi lain Nokia menargetkan mampu menghemat antara 800 juta euro (setara Rp13,35 triliun) hingga 1,2 miliar euro (setara Rp20,3 triliun) pada tahun 2026. Pada tahun 2026 Nokia mentargetkan bisa mencapai rencana margin operasional jangka panjang setidaknya sebesar 14%.
Baca Juga
Selain Perketat Impor, Industri Rentan PHK Dibantu Restrukturisasi Pembiayaan
Program efisiensi ini diharapkan akan menghasilkan perusahaan dengan jumlah karyawan antara 72,000 hingga 77,000. Ini berarti bahwa Nokia berencana untuk mengurangi jumlah karyawan dari angka saat ini, yaitu 86,000, menjadi antara 72,000 hingga 77,000.
"Nokia berharap untuk bertindak cepat dalam program ini, dengan setidaknya (diperoleh) 400 juta euro penghematan dalam tahun 2024, dan tambahan 300 juta euro pada tahun 2025."
Ericsson, yang juga telah memecat ribuan karyawan tahun ini. Dalam pernyataannya Selasa (17/10/2023) bahwa ketidakpastian yang mempengaruhi bisnis mereka akan berlanjut hingga tahun 2024.
Baca Juga
"Sementara penjualan bersih kuartal ketiga kami terpengaruh oleh ketidakpastian yang berkelanjutan, kami berharap akan melihat peningkatan musiman yang lebih normal dalam bisnis jaringan kami pada kuartal keempat," kata CEO Pekka Lundmark dilansir Reuters.
Penjualan bersih kuartalan turun menjadi 4,98 miliar euro, dibanding angka 6,24 miliar euro pada tahun lalu. Jauh di bawah perkirakaan yang ditetapkan sebesar 5,67 miliar euro seperti hasil polling oleh LSEG.
