Giliran CEO Binance Harus Mundur Setelah Terkena Pasal Pidana Pencucian Uang
JAKARTA, Investortrust.id - CEO Binance, Changpeng Zhao, mengundurkan diri dan mengaku bersalah atas pelanggaran persyaratan anti-pencucian uang sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai perusahaannya dengan otoritas AS. Pengunduran diri Zhaomenjadi kejatuhan dramatis bagi pemimpin bursa kripto terbesar di dunia.
Binance sendiri adalah salah satu bursa kripto (cryptocurrency exchange) terbesar dan paling terkenal di dunia. Didirikan pada bulan Juli 2017 oleh Changpeng Zhao (CZ) dan mitra pendirinya, Yi He, Binance telah menjadi salah satu pemain utama dalam ekosistem kripto.
Baca Juga
Pendiri Bursa Kripto FTX Sam Bankman-Fried Bisa Dihukum Penjara 115 Tahun
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Binance akan membayar denda kepada regulator dan kejaksaan sebesar US$4,3 miliar, dan lembaga ini juga mengaku bersalah atas tuduhan pidana terkait pencucian uang, menjalankan bisnis pengiriman uang tanpa izin, dan pelanggaran sanksi.
Zhao juga setuju untuk membayar denda sebesar US$50 juta. Dia dilarang terlibat dalam bisnis Binance selama tiga tahun setelah penunjukan seorang pengawas untuk memastikan bahwa Binance mematuhi semua hukum, menurut dokumen pengadilan. Namun demikian Zhao masih diizinkan untuk tetap mempertahankan mayoritas kepemilikannya pada bursa tersebut.
"Saya melakukan kesalahan, dan saya harus bertanggung jawab," tulis Zhao di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter. "Ini yang terbaik untuk komunitas kami, untuk Binance, dan untuk diri saya sendiri," demikian seperti dilansir Yahoofinance, Selasa (21/11/2023).
Pengumuman yang dilansir oleh pihak otoritas bursa AS (SEC) merupakan kasus kripto paling menonjol sejak pendiri FTX, Sam Bankman-Fried, ditangkap dan didakwa pada 2022 karena mencuri dari bursa kripto miliknya sendiri. Bulan ini, juri telah menyatakan Bankman bersalah atas penipuan terhadap pelanggan, investor, dan pemberi pinjaman FTX.
Baca Juga
Orang Andalan Warren Buffet Sebut Kripto Sebagai Penganggu Sistem Keuangan
Pesan dari kedua kasus ini, kata Jaksa Agung Merrick Garland dalam konferensi pers pada hari Selasa, adalah bahwa "menggunakan teknologi baru untuk melanggar hukum tidak membuat Anda seorang disruptor (pengganggu), tetapi membuat Anda menjadi seorang penjahat."
Sejumlah pegiat kripto berharap penyelesaian Binance akan memungkinkan industri ini melampaui beberapa masalah hukum yang muncul belakangan ini, dan mendapatkan kembali kepercayaan lebih banyak investor setelah penurunan dramatis pada tahun 2022 yang telah membuat beberapa perusahaan bangkrut dan menarik perhatian regulator.
Setidaknya dengan keluarnya pengumuman bursa dan pemberian terhadap Zhao, telah mengurangi sebagian masalah hukum yang telah menggantung di lingkup bursa selama bertahun-tahun, termasuk penyelidikan oleh Departemen Kehakiman dan gugatan perdata dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC), yang menuduh Binance dan Zhao melanggar hukum AS dengan diduga melanggar peraturan lisensi derivatif.
Sementara itu sanksi yang dilansir juga dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan Binance tetap beroperasi. Richard Teng dari Binance di akun X mengatakan, dia telah menggantikan Zhao sebagai CEO dan bahwa “Binance memiliki landasan berdiri yang lebih kuat dari sebelumnya."
Namun demikian, sanksi dan tuduhan tadi tak berarti mengakhiri semua masalah hukum Binance. Kesepakatan dengan regulator tidak menangani gugatan perdata dari Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), yang menggugat Binance pada Juni lalu dan menuduh telah melanggar hukum sekuritas, mengelola dana nasabah dengan sembrono, dan menyesatkan investor.
SEC juga telah mengambil tindakan penegakan hukum terhadap delapan bursa kripto lainnya atas penawaran atau operasi sekuritas tidak terdaftar, termasuk Coinbase (COIN), Kraken, dan Gemini.

