Perang Teknologi, China Dorong Penggunaan Chip Open-Source untuk Pertama Kalinya
BEIJING, investortrust.id - China berencana mendorong penggunaan chip open-source (RISC-V) di seluruh negeri untuk pertama kalinya. Langkah ini sekaligus menjadi upaya Negeri Tirai Bambu untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi yang dimiliki oleh negara-negara Barat.
Dikutip dari Reuters, Selasa (4/3/2025), regulasi yang bertujuan meningkatkan penggunaan chip RISC-V tersebut dapat dirilis secepatnya bulan ini. Dua sumber menyatakan, regulasi ini sedang disusun delapan badan pemerintah, termasuk Administrasi Ruang Siber China, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, Kementerian Sains dan Teknologi, serta Administrasi Kekayaan Intelektual Nasional China.
Sumber tersebut menolak disebutkan namanya karena diskusi kebijakan masih berlangsung. Keempat kementerian terkait belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Apa Itu RISC-V?
Sekadar informasi, RISC-V adalah teknologi open-source yang digunakan untuk merancang berbagai jenis chip dengan tingkat kompleksitas lebih rendah, mulai dari chip di ponsel pintar hingga CPU untuk server kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Teknologi ini bersaing di pasar global dengan arsitektur chip yang umum digunakan, seperti x86 yang didominasi oleh perusahaan AS seperti Intel dan Advanced Micro Devices (AMD).
Di China, lembaga pemerintah dan penelitian telah semakin antusias mengadopsi RISC-V dalam beberapa tahun terakhir karena dianggap netral secara geopolitik. Para perancang chip di sana juga tertarik dengan biaya yang lebih rendah.
Namun, meningkatnya penggunaan RISC-V di China mendapat perhatian dari AS, terutama karena ketegangan yang semakin meningkat antara Washington dan Beijing, khususnya di bidang teknologi.
Baca Juga
Tak Mau Kalah Saing, Alibaba Rilis Model AI Open-Source untuk Buat Video dan Gambar
Pada tahun 2023, Reuters melaporkan bahwa beberapa anggota parlemen AS menekan pemerintahan Biden agar membatasi perusahaan-perusahaan Amerika bekerja dengan teknologi ini. Mereka khawatir China dapat memanfaatkan sifat open-source RISC-V untuk memperkuat industri semikonduktor dalam negeri.
Sementara itu, dalam sebuah acara yang berfokus pada RISC-V yang diselenggarakan oleh XuanTie (milik Alibaba) pekan lalu, para eksekutif industri mengatakan bahwa popularitas DeepSeek dapat semakin mendorong adopsi RISC-V. Model AI buatan DeepSeek diklaim dapat berjalan secara efisien pada chip yang kurang bertenaga dibanding pesaingnya.
Menurut Manajer China Mobile System Integration, Sun Haitao, perusahaan-perusahaan kecil yang ingin menggunakan AI dan teknologi DeepSeek kini dapat beralih ke chip yang dirancang dengan arsitektur RISC-V.
"Meski solusi berbasis RISC-V seharga 10 juta yuan mungkin hanya mencapai sekitar 30% dari tingkat kinerja NVIDIA atau Huawei, (namun) membeli tiga set tetap bisa lebih hemat biaya secara keseluruhan. Saya rasa ini sebuah terobosan" tutupnya.
Dengan mengadopsi teknologi open-source seperti RISC-V, China nampak terus berupaya memperkuat kemandirian industrinya dan mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat, sekaligus menghadapi ketegangan dalam perang teknologi dengan AS. (C-13)

