Pemerintah Baru Suriah Minta Kompensasi dan Ganti Rugi pada Rusia
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintahan baru Suriah, yang mengambil alih kekuasaan setelah penggulingan rezim Bashar al-Assad, menuntut kompensasi dari Rusia dalam perundingan, demikian laporan dari kantor berita negara Suriah, SANA.
"Pihak Rusia sekali lagi menyatakan dukungannya terhadap perubahan positif yang terjadi di Suriah, dan dalam dialog tersebut, ditekankan peran Rusia dalam membangun kembali kepercayaan dengan rakyat Suriah melalui langkah-langkah konkret seperti kompensasi, rekonstruksi, dan pemulihan," lapor SANA yang dikutip Rabu (29/1/2025). Sayangnya laporan tersebut tidak merinci bentuk kompensasi yang dimaksud.
Selama pembicaraan, menurut SANA, otoritas baru Suriah menegaskan bahwa "pemulihan hubungan harus mempertimbangkan kesalahan masa lalu, menghormati kehendak rakyat Suriah, dan melayani kepentingan mereka."
Baca Juga
Assad Jatuh, Rusia Berkeras Tetap ‘Ngendon’ di Dua Pangkalan Militer Suriah
Delegasi Rusia yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov tiba di Suriah pada 28 Januari 2025, yang merupakan kunjungan pertama pejabat Rusia sejak pergantian kekuasaan di negara tersebut. Bogdanov bertemu dengan pemimpin baru Suriah, Ahmed al-Sharaa. Sumber Bloomberg di Moskow melaporkan pada 28 Januari 2025, bahwa perundingan telah "menemui jalan buntu."
Setelah pembicaraan, Bogdanov mengatakan kepada TASS bahwa diperlukan diskusi lebih lanjut mengenai masa depan pangkalan militer Rusia di Suriah. "Untuk saat ini, tidak ada yang berubah," ujarnya, seraya menambahkan bahwa "secara keseluruhan, pertemuan berlangsung konstruktif, dan atmosfernya positif."
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak berkomentar mengenai laporan bahwa Suriah telah menuntut kompensasi. "Saya tidak akan mengomentari hal itu dalam bentuk apa pun. Kami akan terus berdialog dengan otoritas Suriah," katanya kepada wartawan pada 29 Januari 2025 yang dikutip meduza.io.
Menurut laporan Bloomberg, Rusia berupaya mempertahankan dua pangkalan militernya di Suriah, yang menjadi pijakan penting bagi pengaruhnya di Timur Tengah dan Afrika. Kremlin berharap dapat mencapai kesepakatan mengenai masalah ini dengan Hayat Tahrir al-Sham, kelompok yang mengambil alih kekuasaan setelah kejatuhan Assad.
Rusia diketahui membantu pelarian Bashar al-Assad dari Suriah, dan Presiden Vladimir Putin memberikan suaka kepada Assad beserta keluarganya.

