Suriah Bergolak, Ini yang Dilakukan Rusia dan AS
JAKARTA, investortrust.id – Suriah bergolak. Tentara Suriah menyatakan puluhan tentaranya tewas dalam serangan besar yang dipimpin oleh pemberontak Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Pemberontak berhasil merebut kota Aleppo.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa angkatan udaranya telah melakukan serangan terhadap pemberontak Suriah untuk mendukung tentara negara tersebut. Serangan ini terjadi setelah serangan pemberontak paling berani dalam beberapa tahun terakhir, di tengah perang saudara yang garis depannya sebagian besar membeku sejak 2020.
Baca Juga
Suriah Sebut Serangan Israel Sasar Bangunan Perumahan di Damaskus
Hayat Tahrir al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Nusra Front, telah dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh AS, Rusia, Turki, dan negara-negara lainnya. Assad adalah sekutu dekat Moskow.
Di Washington, Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih (NSC) menyatakan pihaknya memantau situasi dengan cermat dan telah berkomunikasi dengan ibu kota regional selama 48 jam terakhir.
Juru bicara NSC Sean Savett mengatakan penolakan Suriah untuk terlibat dalam proses politik dan ketergantungannya pada Rusia dan Iran telah "menciptakan kondisi yang sekarang terjadi, termasuk runtuhnya garis pertahanan rezim Assad di barat laut Suriah."
Savett menambahkan bahwa AS tidak terlibat dalam serangan yang dipimpin oleh "organisasi yang telah ditetapkan sebagai teroris". AS menyerukan "deeskalasi melalui proses politik yang serius dan kredibel" berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2254 tahun 2015, yang menetapkan langkah-langkah untuk gencatan senjata dan transisi politik.
Perang yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi ini telah berlangsung sejak 2011 tanpa akhir resmi, meskipun sebagian besar pertempuran besar telah berhenti bertahun-tahun lalu setelah Iran dan Rusia membantu pemerintah Assad merebut sebagian besar wilayah dan semua kota utama.
Aleppo telah dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah sejak kemenangan pada 2016, yang merupakan salah satu titik balik utama perang, ketika pasukan Suriah yang didukung Rusia mengepung dan menghancurkan wilayah timur kota yang dikuasai pemberontak.
"Saya adalah putra Aleppo, dan saya mengungsi dari sana delapan tahun lalu, pada 2016. Alhamdulillah, kami baru saja kembali. Ini adalah perasaan yang tak terlukiskan," kata Ali Jumaa, seorang pejuang pemberontak, dalam rekaman televisi yang diambil di dalam kota, dikutip dari CNBC, Minggu (1/12/2024).
Mengakui kemajuan pemberontak, komando tentara Suriah mengatakan bahwa pemberontak telah memasuki sebagian besar wilayah Aleppo.
Setelah tentara menyatakan sedang mempersiapkan balasan, serangan udara menargetkan konsentrasi pemberontak dan konvoi di kota, menurut surat kabar pro-Damaskus al-Watan. Salah satu serangan menyebabkan korban jiwa di alun-alun Basel di Aleppo, kata seorang penduduk kepada Reuters.
Pusat Rekonsiliasi Pihak yang Bermusuhan di Suriah, yang dijalankan oleh Rusia, mengatakan serangan rudal dan bom terhadap pemberontak telah menargetkan "konsentrasi militan, pos komando, gudang, dan posisi artileri" di provinsi Aleppo dan Idlib. Mereka mengklaim sekitar 300 pejuang pemberontak tewas.
Rekaman yang diambil pada Sabtu menunjukkan orang-orang berpose untuk foto di atas patung Bassil al-Assad yang telah diruntuhkan, saudara laki-laki presiden. Para pejuang berkeliaran di kota dengan truk dan berkerumun di jalanan. Seorang pria mengibarkan bendera oposisi Suriah di dekat benteng bersejarah Aleppo.
Komando militer Suriah mengatakan bahwa militan menyerang dalam jumlah besar dan dari berbagai arah, sehingga memaksa "pasukan kami untuk melakukan operasi penataan ulang untuk memperkuat garis pertahanan demi melindungi warga sipil dan tentara."
Pemberontak juga menguasai bandara Aleppo, menurut pernyataan ruang operasi mereka dan sumber keamanan.
Dua sumber pemberontak juga mengatakan bahwa mereka telah merebut kota Maraat al-Numan di provinsi Idlib, sehingga seluruh wilayah tersebut berada di bawah kendali mereka.
Pertempuran ini menghidupkan kembali konflik Suriah yang telah lama membara, di saat kawasan yang lebih luas tengah terguncang oleh perang di Gaza dan Lebanon, di mana gencatan senjata antara Israel dan kelompok Lebanon yang didukung Iran, Hezbollah, mulai berlaku pada Rabu.
Dengan Assad didukung oleh Rusia dan Iran, serta Turki mendukung beberapa pemberontak di barat laut di mana mereka mempertahankan pasukan, serangan ini menyoroti geopolitik konflik yang rumit. Pertempuran di barat laut sebagian besar telah mereda sejak Turki dan Rusia mencapai kesepakatan de-eskalasi pada 2020.
Rusia dan Turki
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengadakan panggilan telepon dengan rekannya dari Turki, Hakan Fidan, membahas situasi di Suriah, menurut Kementerian Luar Negeri Rusia pada Sabtu.
"Kedua pihak menyatakan kekhawatiran serius terhadap perkembangan situasi yang berbahaya," sebut kementerian itu. Mereka sepakat perlunya koordinasi tindakan bersama untuk menstabilkan situasi di negara tersebut.
Pejabat keamanan Turki mengatakan pada Kamis bahwa Ankara telah mencegah operasi yang ingin diorganisir oleh kelompok oposisi untuk menghindari ketegangan lebih lanjut di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kepada Lavrov dalam panggilan telepon bahwa serangan pemberontak merupakan bagian dari rencana Israel-AS untuk mengacaukan kawasan, menurut media pemerintah Iran.
Pertahanan Sipil Suriah )Syrian Civil Defense), sebuah layanan penyelamat yang beroperasi di wilayah yang dikuasai oposisi di Suriah, mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa pesawat pemerintah Suriah dan Rusia melakukan serangan udara di kawasan permukiman di Idlib yang dikuasai pemberontak. Serangan ini menewaskan empat warga sipil dan melukai enam orang lainnya.
Dua sumber militer Suriah menyebutkan bahwa Rusia telah menjanjikan bantuan militer tambahan kepada Damaskus, yang akan mulai tiba dalam 72 jam ke depan.
Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), yang memimpin Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat dan mengontrol sebagian besar wilayah timur laut dan timur Suriah, memperluas pengaruh mereka di kota Aleppo setelah pasukan pemerintah meninggalkan wilayah tersebut, menurut seorang sumber senior YPG.
Mustafa Abdul Jaber, seorang komandan brigade pemberontak Jaish al-Izza, mengatakan kemajuan cepat para pemberontak dipermudah oleh kurangnya dukungan milisi yang didukung Iran untuk membantu pemerintah di wilayah Aleppo yang lebih luas.
Baca Juga
Sekutu regional Iran telah mengalami serangkaian pukulan dari serangan Israel, seiring meluasnya perang Gaza ke kawasan Timur Tengah. Para pejuang oposisi mengatakan kampanye ini adalah tanggapan atas meningkatnya serangan dalam beberapa pekan terakhir terhadap warga sipil oleh angkatan udara Rusia dan Suriah di wilayah provinsi Idlib, sekaligus untuk mencegah serangan yang direncanakan oleh tentara Suriah.

