Harga Minyak Bergolak Tiga Hari Beruntun, Ini yang Jadi Biang Kerok
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak naik untuk hari ketiga berturut-turut pada Kamis (20/02/2025) setelah data menunjukkan penurunan stok bensin dan distilat di AS. Sementara itu, kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Rusia mendorong kenaikan harga.
Baca Juga
Gara-gara Serangan Drone Ukraina, Harga Minyak Melonjak saat Pasar 'Bearish'
Kontrak berjangka Brent naik 44 sen, atau 0,58%, menjadi $76,48 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik 32 sen, atau 0,44%, menjadi $72,57 per barel.
Persediaan minyak mentah AS meningkat lebih dari yang diperkirakan, sementara stok bahan bakar turun pekan lalu karena pemeliharaan musiman di kilang menyebabkan penurunan pemrosesan, menurut Administrasi Informasi Energi AS pada Kamis.
"Penambahan stok minyak mentah sedikit lebih besar dari yang diperkirakan, tetapi ada sedikit penurunan pada bensin dan penurunan yang lebih besar pada distilat, sehingga total persediaan tetap stabil," urai Giovanni Staunovo, analis di UBS, seperti dikutip CNBC.
Kontrak berjangka minyak mentah memperpanjang kenaikannya setelah laporan tersebut.
Faktor geopolitik juga menjadi faktor yang memengaruhi harga minyak. Rusia dan AS mengadakan pertemuan pertama mereka sejak dimulainya perang Ukraina, dengan tujuan memulihkan hubungan dan mempersiapkan jalan bagi penyelesaian konflik.
Namun, gangguan pasokan minyak membuat harga tetap tinggi.
“Rusia menyerang infrastruktur gas Ukraina dan merusak fasilitas produksi gas,” kata Menteri Energi Ukraina German Galushchenko.
Rusia menyebut aliran minyak Konsorsium Pipa Kaspia, rute utama ekspor minyak mentah dari Kazakhstan, berkurang 30%-40% pada Selasa setelah serangan drone Ukraina terhadap stasiun pompa.
Tambahan Pasokan
Sementara itu, potensi dimulainya kembali aliran minyak dari wilayah Kurdistan Irak mengimbangi risiko pasokan. Menurut analis ING, dimulainya kembali aliran minyak Irak akan menambah pasokan 300.000 barel per hari ke pasar.
Namun, belum ada konfirmasi terkait aliran minyal dari Iran itu. Turki, yang menampung pelabuhan Ceyhan tempat minyak Irak dari wilayah Kurdistan dimuat, belum menerima konfirmasi dari Irak tentang dimulainya kembali pengiriman hingga Kamis, menurut Menteri Energi Turki kepada Reuters.
Tarif impor yang diumumkan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump dapat menekan harga minyak dengan meningkatkan biaya barang konsumsi, menurut analis, yang dapat melemahkan ekonomi global dan mengurangi permintaan bahan bakar. Kekhawatiran tentang permintaan dari Eropa dan China juga membantu menjaga harga tetap terkendali.
“Wajar jika khawatir tentang prospek ekonomi global saat Donald Trump menghancurkan struktur perdagangan bebas global yang ada dengan sinyal tarif 25% pada impor mobil ke AS,” kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB.

