Wall Sreet Bergolak Dipicu Sentimen Tarif dan Inflasi, Dow Ambles Lebih dari 400 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada Jumat waktu AS atau Sabtu (08/02/2025) pagi WIB. Sentimen terkait tarif dan inflasi membuat para trader khawatir menjelang penutupan pekan. Dow Jones ambles lebih dari 400 poin.
Baca Juga
Wall Street ‘Mixed’: S&P 500 Reli Tiga Sesi Beruntun, Dow Anjlok
Indeks utama anjlok lebih dalam selama sesi perdagangan setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia berencana menerapkan tarif timbal balik pada mitra dagang. Ini bisa berarti menaikkan tarif secara menyeluruh agar setara dengan tarif yang dikenakan kepada AS.
Dow Jones Industrial Average turun tajam 444,23 poin, atau 0,99%, dan ditutup di 44.303,40. S&P 500 melemah 0,95% menjadi 6.025,99, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,36% menjadi 19.523,40. Kerugian pada hari Jumat membuat indeks utama berakhir di zona negatif untuk pekan ini.
"Saya akan mengumumkan perdagangan timbal balik minggu depan, sehingga kami diperlakukan setara dengan negara lain," kata Trump dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba yang berkunjung ke AS.
Pasar saham sudah berada dalam kondisi tegang sebelum komentar Trump, karena beberapa data sentimen konsumen dan ketenagakerjaan sebelumnya mengindikasikan peningkatan inflasi. Ini mendorong imbal hasil Treasury 10 tahun naik di atas 4,5% pada level tertingginya selama sesi perdagangan.
Baca Juga
Nonfarm Payroll AS Hanya Meningkat 143.000 pada Januari, tapi Tingkat Pengangguran Turun
Sentimen konsumen turun pada Februari menjadi 67,8, menurut pembacaan awal indeks sentimen konsumen Universitas Michigan. Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan angka 71,3.
Namun, yang mungkin lebih mengkhawatirkan adalah bahwa responden laporan tersebut memperkirakan tingkat inflasi satu tahun ke depan mencapai 4,3%, naik satu poin persentase dari bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak November 2023.
Data ketenagakerjaan untuk Januari yang dirilis pada hari Jumat juga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran turun menjadi 4% dari 4,1% dan bahwa rata-rata pendapatan per jam bulan lalu lebih tinggi dari yang diperkirakan.
Saham Amazon turun 4% setelah proyeksi dari raksasa e-commerce tersebut mengecewakan investor. Perusahaan memperkirakan pertumbuhan pendapatan sebesar 5% hingga 9% pada kuartal pertama, yang merupakan pertumbuhan terlemah dalam catatan mereka. Prospek tersebut membayangi hasil yang lebih baik dari perkiraan pada kuartal keempat. Saham Alphabet juga terus melemah setelah laporan keuangan yang kurang memuaskan awal pekan ini.
“Kami baru saja mengalami beberapa kekecewaan di sektor teknologi yang secara tradisional jarang mengecewakan atau kelompok ‘Magnificent Seven’, dan saya pikir kita sedang melihat rotasi keluar dari sektor-sektor tersebut,” kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research, seperti dikutip CNBC. Ia mengaku tidak berpikir pasar menuju bearish, tetapi lebih pada peningkatan volatilitas dan kekecewaan jangka pendek.
Baca Juga
Ini adalah minggu yang penuh gejolak. Saham-saham turun pada hari Senin setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 10% terhadap Tiongkok. Ia juga mengusulkan, lalu menunda, tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko.
S&P 500 sempat naik selama tiga hari berturut-turut setelah penundaan tarif, tapi melemah kembali melemah pada hari Jumat.

