Luar Biasa Tinggi, Amerika akan Kenakan Bea Masuk Antidumping Baja Berlapis Timah Tiongkok hingga 122,5%
WASHINGTON, investortrust.id – Departemen Perdagangan Amerika Serikat pada Kamis (17/08/2023) waktu setempat menyatakan akan mengenakan bea masuk antidumping awal pada impor baja berlapis timah dari Tiongkok, Kanada, dan Jerman. Tidak tanggung-tanggung, bea masuk tertinggi sebesar 122,5% akan dikenakan pada tin-plated steel dari Tiongkok, termasuk dari produsen terbesarnya yakni Baoshan Iron and Steel.
Untuk impor tin mill dari produsen Jerman -- termasuk Thyssenkrupp (TKAG.DE) -- hanya akan dikenakan bea awal sebesar 7,02%. Sedangkan untuk impor dari produsen Kanada, termasuk ArcelorMittal DOFASCO (MT.LU), sebesar 5,29%.
Seorang pejabat Departemen Perdagangan mengatakan bahwa produsen di Tiongkok, Kanada, dan Jerman ditemukan menjual tin mill steel dengan harga di bawah harga di dalam negeri mereka. “Tarif yang dikenakan untuk produk Tiongkok lebih tinggi, lantaran kurangnya kerja sama dari produsen utama dalam penyelidikan menyebabkan keputusan diambil dari ‘hasil kesimpulan yang merugikan’. Sementara responden lain tidak dapat membuktikan bahwa mereka independen dari pemerintah Tiongkok,” ucap pejabat departemen yang memiliki satu tujuan meningkatkan daya saing ekonomi Amerika secara menyeluruh tersebut, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (17/08/2023) waktu AS.
Namun demikian, lima negara lain luput dari sanksi bea masuk antidumping, yang memberikan sedikit kelegaan bagi produsen kaleng makanan yang takut bahan bakunya terkena tarif lebih tinggi. Tidak ada bea masuk antidumping yang akan dikenakan pada logam perak mengkilap yang diimpor dari Inggris, Belanda, Korea Selatan, Taiwan, dan Turki. Shiny silver metal ini banyak digunakan dalam kaleng-kaleng untuk makanan, cat, produk aerosol, dan wadah lainnya.
Kasus yang diawasi ketat ini dimulai pada Februari lalu, setelah ada petisi dari satu pembuat baja AS, Cleveland-Cliffs (CLF.N) mengenai dugaan dumping oleh asing di sektor pelat timah, yang sudah membuat beberapa fasilitas produksi AS tutup dalam beberapa tahun terakhir. Departemen Perdagangan AS pada Juni 2023 kemudian mengumumkan bea antisubsidi pendahuluan sebesar 543% pada impor tin mill dari Baoshan Iron and Steel dan 89% pada impor dari semua produsen Tiongkok lainnya, sebagai bagian dari penyelidikan paralel terpisah. Negeri Tirai Bambu itu merupakan produsen baja terbesar di dunia.
Di sisi lain, sebelum bea masuk antidumping tersebut diputuskan, kelompok perdagangan Can Manufacturers Institute lantang menentang. Mereka mengingatkan, karena produksi produsen di negara adidaya itu kini kurang dari setengah pelat timah yang dibutuhkan untuk pembuatan kaleng dalam negeri, maka setiap bea impor baru akan menaikkan biaya bahan dan harga makanan pada saat inflasi masih meningkat. Inflasi tinggi inilah yang masih terus diperangi Bank Sentrak AS, The Fed, untuk dipangkas hingga sasaran 2%.

