Pendapatan Tesla Inc Tak Sesuai Harapan, Sinyal Buruk Bagi Produsen EV Dunia
JAKARTA, Investortrust.id – Produsen mobil listrik Tesla Inc pekan ini harus menekan harapannya untuk bisa menikmati pertumbuhan penjualan mobil listrik hasil produksinya. Morgan Stanley pun menyebutkan sebuah sinyal adanya tantangan yang akan datang bagi para pelaku industri kendaraan listrik.
Kepala Riset Bidang Otomotif dan Luar Angkasa Morgan Stanley, Adam Jonas yang selama ini dikenal sebagai pendukung pertumbuhan perusahaan raksasa kendaraan listrik (EV) Tesla dalam pernyataannya Jumat (20/10/2023), meminta para investor untuk serius mempertimbangkan implikasi lebih luas bagi industri EV secara global. Hal ini menimbang hasil kuartal III-2023 Tesla Inc yang mengecewakan. Permintaan sepertinya melambat bagi produsen mobil ini, kata Jonas dalam sebuah conference call yang dikutip Bloomberg.
Baca Juga
"Kami melihat adanya peringatan dari 'Gold Standard' kendaraan listrik akan memiliki efek domino di seluruh industri," tulis Jonas dalam catatan kepada kliennya berjudul “Tesla’s 3Q: A Watershed Warning to the EV Industry?”
Sekadar informasi, kata Gold Standard yang disebut Jonas merujuk pada Tesla Inc sebagai pemimpin pasar dan pemilik standar tertinggi dalam industri kendaraan listrik (EV).
Setelah penutupan pasar pada hari Rabu (17/10/2023), Tesla memaparkan kinerjanya yang di bawah prediksi analis, baik dari sisi pendapatan yang disesuaikan, maupun pendapatan. Penurunan harga mobil Tesla yang diterapkan beberapa waktu lalu ternyata hanya memberikan dampak terbatas dalam meningkatkan demand.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Tinggal 3 Bulan, Hyundai Geber Penjualan IONIQ 5
Elon Musk, sang Chief Executive Officer kembali menyalahkan kenaikan suku bunga di AS, dengan mengatakan bahwa financing cost yang lebih tinggi akan membuat cicilan akan semakin berat buat konsumen, dan membuat orang sulit membeli mobil. Secara keseluruhan, perusahaan ini harus menurunkan level ekspektasi investornya ke depan, meniadakan harapan sejumlah investor bahwa periode sulit bagi perusahaan belumlah lewat.
Komentar pesimistis Musk segera mendorong saham Tesla turun 9,3% pada perdagangan hari Kamis (18/10/2023), yang merupakan penurunan terbesar dalam lebih dari tiga bulan terakhir. Saham tersebut kembali turun pada hari Jumat (19/10/2023), turun sebanyak 4,4% menjadi US$210,42 per lembar saham bursa New York.
Menurut Jonas, Tesla sebagai produsen kendaraan listrik global terkemuka, sikap berhati-hati yang diambilnya merupakan kabar buruk bagi industri kendaraan listrik secara umum. Perusahaan lain, baik perusahaan EV baru maupun yang sudah mapan, masih jauh tertinggal dari Tesla dalam persaingan kendaraan listrik.
Baca Juga
Bersaing dengan Tesla dan BYD, Semua Model Baru Nissan di Eropa akan “Full Electric”
Sementara itu perusahaan-perusahaan otomotif berbasis berbasis di Detroit yang menjadi pesaing Tesla punya struktur biaya yang lebih tinggi karena karyawan mereka tergabung dalam serikat pekerja. Sehingga jika Tesla kesulitan menghasilkan marjin yang layak dari kendaraan-kendaraannya, produsen otomotif lainnya mungkin akan menghadapi masalah yang lebih besar. Kesulitan yang dialami Tesla pun dapat berdampak pada pemasok kendaraan listrik.
"Jika Tesla kesulitan menghasilkan marjin laba operasional sebesar 5% untuk produk kendaraan listriknya, di tengah upah pekerja Amerika sebesar US$45 per jam, bagaimana dengan marjin kendaraan listrik untuk produsen mobil Detroit yang kemungkinan besar harus membayar pekerjanya hampir US$100 per jam dengan segala tunjangan dan manfaat?," tulis Jonas.
General Motors Co, Ford Motor Co, dan Stellantis NV saat ini menghadapi mogok kerja karena serikat pekerja meminta perusahaan untuk menaikkan upah secara signifikan.
Namun, Jonas tetap mempertahankan peringkat “buy-equivalent” pada Tesla. Ia pun mengatakan bahwa masuk akal jika Tesla harus berhati-hati dalam situasi yang penuh risiko makro, rendahnya daya beli konsumen, dan dan risiko geopolitik yang tinggi.
