Utang Menumpuk, Bunga Utang AS Lebih Besar dari Anggaran Pertahanan
JAKARTA, Investortrust.id - Utang Amerika Serikat yang terus bertumbuh bisa membuat pemerintahan Joe Biden lebih banyak membayar bunga utang ketimbang mengucurkan anggaran belanja pertahanan.
"Dinamika perkembangan utang AS sangat menyedot perhatian," kata Darrell Spence, seorang ekonom dari perusahaan aset manajeman ASCapital Group dalam hasil risetnya pekan laluseperti dikutip Businessinsider, Jumat (20/10/2023). "Dalam lima tahun mendatang, pembayaran bunga bersih atas utang diperkirakan akan melampaui pengeluaran pertahanan," paparnya.
Baca Juga
Spence menambahkan bahwa jika tumpukan utang ekonomi negara terbesar di dunia ini meningkat pada level yang diprediksi oleh Badan Anggaran Kongres (Congressional Budget Office), pengeluaran pemerintah untuk pembayaran bunga bersih dapat melompat dari sekitar US$500 miliar menjadi sekitar US$1,4 triliun pada tahun 2033.
Gambaran bahwa pembayaran bunga pemerintah AS bisa melampaui pengeluaran pertahanan, tentu menjadi sumber kekhawatiran bagi para pembuat kebijakan, di tengah permintaan Presiden Joe Biden ke Kongres untuk mendapatkan lebih dari US$100 miliar bagi dukungan AS kepada Israel dan Ukraina.
Utang telah muncul menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar di Wall Street tahun ini. Anggota legislatif telah mencapai kesepakatan pada menit-menit terakhir untuk menaikkan batas utang pemerintah kembali pada bulan Mei. Sementara obligasi pemerintah AS (T-Bond) saat ini mengalami penurunan harga, dan bahkan mengalami penjualan terburuk dalam sejarah pasar.
Baca Juga
Amerika Serikat Jual Hampir Separuh Cadangan Minyak, Sebuah Persiapan Krisis?
Sekadar informasi, liabilitas pemerintah AS per tanggal 18 Septembertercatat mencapai US$33 triliun, dan sebulan kemudianangka tersebut meniingkat menjadi US$33,64 triliun, sebuah peningkatan rata-rata harian sebesar US$20 miliar.
Menurut Spence, jumlah pinjaman Amerika bisa mendekati level yang mampu menimbulkan krisis ekonomi.
“Biasanya, tingkat utang suatu negara menjadi masalah jika suku bunganya lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan ekonominya, pendapatan yang dihasilkan oleh pergerakan ekonominya setiap tahun menjadi lebih kecil daripada bunga utang yang harus dibayar, dan utangnya bertumbuh dengan sendirinya," tulisnya.
"AS selama ini jauh dari ambang (jumlah utang dan bunga) tersebut. Kecuali sekarang," tambahnya.
Spence memperingatkan bahwa utang yang membengkak bisa memaksa pemerintah untuk menaikkan pajak, memicu penjualan obligasi lebih besar, dan memaksa Federal Reserve untuk mengunci suku bunga di level yang lebih tinggi.

