Industri Properti Belum Bangkit, Stok Bahan Bangunan Menumpuk
JAKARTA, Investortrust.id – Stok bahan bangunan di toko-toko material menumpuk akibat sepinya pembeli. Industri properti yang belum bangkit dari krisis akibat pandemi Covid-19 dandaya beli masyarakat yang belum pulih menjadi penyebabnya.
Hasil pemantauan investortrust.id di sejumlah toko bahan bangunan di berbagai lokasi Jabodetabek, akhir pekan lalu, menunjukkan, toko-toko bahan bangunan tampak lengang. Para penjual kini memiliki stok lebih banyak dibanding sebelum pandemi. Alhasil, harga beberapa jenis bahan bangunan pun stagnan, bahkan beberapa di antaranya turun.
Budi, pramuniaga toko material Daya Bangunan di kawasan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, mengatakan, penurunan penjualan terjadi sejak pandemi Covid-19.
"Ya, sejak adanya pandemi Covid-19, penjualan memang turun. Toko kami sepi pembeli," tutur Budi kepada investortrust.id.
Budi menduga daya beli masyarakat belum pulih akibat pandemi. Selain itu, pengembang properti belum bangkit setelah terpuruk akibat pandemi Covid-19. "Sekarang toko kami jarang dikunjungi pembeli," ujar dia.
Harga Stagnan
Budi mengakui, meski penjualan turun, harga beberapa jenis bahan bangunan tidak mengalami perubahan yang signifikan. "Kalau harga mah tetap aja segitu, jarang naik atau turun, cuma beda-beda dikit," tegas dia.
Dia mencontohkan, semen merek Toga Roda dipatok Rp 60.000 per sak. Sedangkan besi cor dibanderol Rp 27.500 per 6 ml. “Untuk pasir, kami jual Rp 300.000 permobil bak terbuka ukuran kecil,” kata dia.
Secara umum, kata Budi, harga semen, besi cor, dan pasir tidak berubah alias stagnan. Begitu pula harga paku berbagai ukuran, rata-rata tetap Rp 15.000 per kg. Hal yang sama terjadi pada cat merek Vinilex berbagai varian. Tak terkecuali kayu ukuran 4x6 yang kini dijual seharga Rp 35.000 per batang.
Budi menambahkan, harga perabotan sanitasi, seperti keran, juga tidak berubah, rata-rata Rp 15.000 per unit untuk berbagai merek.
Sepinya pembeli dan stok menumpuk juga tampak di toko-toko material lainnya di kawasan Ciputat yang dipantau investortrust.id dalam beberapa hari terakhir.
Menumpuk di Bekasi
Tak hanya di Ciputat, stok bahan bangunan juga menumpuk di sejumlah toko material di beberapa lokasi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kondisi itu memaksa para pedagang menahan harga.
“Harga kayu, besi cor, paku, dan seng yang biasanya paling sering naik, sekarang stagnan,” kata seorang pedagang material di Tambun, Kabupaten Bekasi, kepada investortrust.id.
Namun, menurut pedagang yang enggan disebutkan namanya itu, harga sejumah merek semen, seperti Semen Gresik, kini merangkak naik. ”Awalnya Rp 50.000 per sak, sekarang Rp 52.000,” ujar dia.
Harga metarial lain yang naik di antaranya pasir dan cat. Berbeda dengan harga semen dan pasir yang mulai menanjak, harga seng justru merosot. “Stok di gudang banyak, tapi daya beli masyarakat masih lemah, makanya harganya turun,” ucap dia. (CR-2/CR-5)

