Menlu: Ada 4 Roh Besar Pertemuan KTT Asean Ke-43
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi mengatakan, paling tidak ada 4 roh besar keketuaan Indonesia di Asean tahun 2023. Yang pertama adalah, kita akan meletakkan visi jangka panjang Asean.
“Kenapa visi jangka panjang penting kalau keketuaan di Asean cuma satu tahun? Ini kan perlu ada sustainability dari apa yang sudah kita capai, kemudian dilanjutkan oleh negara-negara yang lain,” kata Retno dalam diskusi bersama para pemimpin redaksi media massa mengenai KTT Asean Ke-43 di Jakarta, Senin (28/08/2023).
Visi jangka panjang ini sangat penting, karena akan menjadi guidance bagi Asean untuk berjalan ke depan. Fondasinya akan mulai dibangun selama atau dalam keketuaan Indonesia di Asian 2023.
Yang kedua, Asean matters, menjadikan Asean lebih tangguh menghadapi tantangan jaman. Karena ke depan tantangannya akan sangat banyak, maka diperlukan sebuah Asean yang dapat merespons tantangan jaman.
Yang ketiga menyangkut Asean epicentrum of growth. Sebanyak 65% responden memperkirakan peningkatan profit bisnis di Asean dan 99% dari responden ingin agar negosiasi Asean-European Union (EU) Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dapat dipercepat. “Itu adalah hasil survei dari Asean-EU Business Council yang baru saja keluar untuk tahun 2023,” paparnya.
Kempat, kata Retno, dalam konteks di luar Asia Tenggara, kita sudah mencanangkan sebuah tekad, konsep dan kerja sama konkret di dalam konteks Indo Pasifik.
Tanpa Harus Ubah Piagam Asian
Retno menjelaskan lebih lanjut satu persatu dari keempat roh yang akan diperdebatkan, dan apa yang akan dihasilkan dari pertemuan pembahasan masalah tersebut. “Roh pertama mengenai visi jangka panjang Asean. Insya Allah, negosiasi sedang berjalan terus. Kalau kita menemukan jalan persetujuan, maka kita akan dapat menghasilkan apa yang dinamakan Asean Concord IV,” paparnya.
Retno mengatakan, kita memiliki Asean Concord I tahun 1976, Concord II tahun 2003, Concord III tahun 2011, dan Concord IV 2023. Ini adalah fondasi yang kita bangun supaya Asean dapat terus melaju untuk masa depan yang baik.
Roh yang kedua Asean matters, yang menjadikan Asean lebih tangguh. Beberapa hal yang akan didiskusikan dan dihasilkan antara lain adalah rule of prosedur to support decision making process at the Asean summit. Hal ini terkait masalah pengambilan keputusan, terutama pada saat Asean menghadapi suatu krisis, tanpa harus mengubah charter itu sendiri.
“Kalau isu charter digulirkan, maka reaksinya sudah akan mulai muncul, karena apa pun perubahan sebuah charter itu akan menjadi isu yang sensitif. Namun, semua negara merasakan perlunya Asean mengakselerasi, mempercepat pembuatan keputusan, terutama pada saat Asean di tengah situasi krisis. Nanti kita lihat hasilnya seperti apa, tetapi pada titik ini yang baru dapat disampaikan adalah ada diskusi mengenai pengambilan keputusan yang lebih cepat, tanpa harus mengubah piagam Asian tersebut,” ucapnya.
Bahwa Asian matters, lanjut Retno, adalah Jakarta sebagai headquarters Asean di mana sekretariat Asean berada, maka di sini diperlukan sebuah penguatan Jakarta based diplomatic activities yang terkait dengan Asean. Misalnya penguatan para duta besar untuk mengambil keputusan terbesar yang berbasis di Jakarta.
“Kemudian penguatan sekretariat Asean itu sendiri. Penguatan peran sekjen dan tentunya karena ada penguatan, maka kita harus bicara mengenai masalah pendanaannya bagaimana," ucapnya.
Ketahanan Pangan-Energi
Roh yang ketiga, rinci Retno, terkait masalah epicentrum of growth. Ini ada beberapa cluster, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, kesehatan, stabilitas keuangan, dan akses pasar yang terbuka dan adil. Ada beberapa dari kluster ini yang sudah disepakati pada KTT Asean Ke-42.
Maka, di KTT Asean Ke-43 ini ada beberapa yang kemudian diterjemahkan di dalam plan of action atau ada yang diterjemahkan di dalam bentuk kemitraan dengan negara mitra. Misalnya untuk ketahanan pangan, kita punya kerja sama Asean-India dan Asean-Kanada.
“Untuk ketahanan energi, mengenai ekosistem EV (kendaraan listrik), di KTT ini kita akan perkuat di dalam EPT (Exercise Planning Team) Asean clustry. Jadi ceritanya bersambung, semuanya berusaha diterjemahkan dalam kerja sama yang sifatnya konkret,” tuturnya.
Kemudian mengenai masalah Indo Pasifik, Asean Outlook on the Indo-Pacific, lahir diinisiasi oleh Indonesia. Pada saat itu belum banyak negara yang memiliki konsep Indo-Pacific.
Tetapi Indonesia sudah melihat bahwa sebagai negara-negara di kawasan yang berada di tengah Indo Pasifik, maka penting bagi Asean untuk mengeluarkan konsepnya, kalau Asean ingin mempertahankan sentralitasnya dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan. Maka, keluarlah Asean Outlook on the Indo-Pacific.
“Apa yang membedakan Asean Outlook on the Indo-Pacific? Banyak konsep Indo Pasifik yang lebih menekankan pada isu keamanan. Kita sampaikan, ya keamanan penting, tetapi kerja sama konkret di bidang ekonomi tidak kalah pentingnya. Di Asean Outlook on the Indo-Pacific, kita sekaligus sudah meletakkan 4 prioritas kerja sama yang kita tawarkan kepada para mitra kita,” ungkap Retno.
Jadi, perbedaan pertama itu tekanan kepada kerja sama konkret di bidang ekonomi. Perbedaan kedua, Asean Outlook on the Indo-Pacific menekankan pada inclusiveness, karena kita yakin dengan inklusif maka akan meredakan ketegangan.
“Saya ingin kembali ke kerja sama ekonomi yang konkret di keketuaan Indonesia ini untuk pertama kalinya, kita mengadakan sebagai flagship event Asean-Indo-Pacific Forum (AIPF). AIPF merupakan pertemuan antara para pembuat keputusan dengan private sector yang akan membahas kerja sama ekonomi di Indo Pasifik. Kaptennya Pak Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Nugraha Mansury,” imbuhnya.
Penyelenggaraan AIPF, kalau dari data yang disampaikan Wamenlu, lanjut Retno, terlihat bagus. Ini termasuk dari sisi hasil yang konkret. (pd)
