Pemilu Serbia dan Brasil: Gelombang Antikemapanan Lintas Benua?
“Hasil pemilu Serbia dan Brasil pada hari yang sama memperlihatkan bahwa ketidakpercayaan terhadap elite menguat di banyak negara, tetapi tidak selalu berubah menjadi penolakan terhadap kemapanan“.
Oleh: Mahendra Siregar - Pemerhati Geopolitik, Mantan Wamenlu 2019-2022 dan Mantan Dubes di AS 2019.
INVESTORTRUST - Pada Minggu, 25 Oktober 2026, dua pemilu di dua benua berakhir dengan hasil yang arahnya berlawanan. Di Serbia, Student List (Daftar Mahasiswa) mengalahkan koalisi Aleksandar Vučić, yang lebih dari satu dekade mendominasi politik negara itu. Di Brasil, Presiden Lula da Silva justru terpilih kembali, padahal sempat tertinggal dari Flávio Bolsonaro pada putaran pertama. Apakah kedua hasil ini bagian dari satu kecenderungan yang sama, atau justru menunjukkan batas dari penjelasan tentang gelombang antikemapanan?
Untuk menjawabnya, dua hal perlu dibedakan. Pemilih yang menghukum petahana karena kinerjanya belum tentu menolak sistem politik yang ada; itu sentimen antipetahana. Sentimen antikemapanan melangkah lebih jauh, karena ketidakpuasan diarahkan pada elite dan tata kekuasaan yang dianggap tertutup serta saling melindungi. Penandanya dapat dikenali: dukungan berpindah kepada kekuatan di luar partai-partai yang biasa bergiliran memerintah, atau tuntutan bergeser dari kebijakan tertentu menjadi penolakan terhadap elite secara keseluruhan. Penanda itu perlu dibaca bersama pesan kampanye dan alasan pemilih. Dengan ukuran itu, perkembangan terakhir dapat diuji.
Penolakan terhadap Kelas Politik, dari Kanan dan dari Kiri
Jerman memperlihatkan penanda pertama dari dua arah ideologi yang berlawanan. Pada September 2026, partai kanan jauh AfD menang besar di negara bagian Sachsen-Anhalt, sementara partai kiri jauh Die Linke menjadi partai terbesar di negara bagian Berlin dengan dukungan kuat pemilih muda. Die Linke memang pernah menjadi bagian pemerintahan Berlin, tetapi kemenangannya bertumpu pada janji melaksanakan hasil referendum perumahan 2021 yang tidak pernah dijalankan. Bukti antikemapanan pada Die Linke lebih tipis dibanding AfD, tetapi keduanya sama-sama menawarkan diri sebagai penantang kelas politik yang dianggap mengabaikan warga. Fragmentasi suara menyulitkan pembentukan koalisi selama partai arus utama mempertahankan Brandmauer, yaitu penolakan berkoalisi dengan AfD.
Di Prancis, RN menjadi fraksi tunggal terbesar di Majelis Nasional sejak 2024. Putusan pengadilan banding pada Juli 2026 membuka jalan bagi Marine Le Pen untuk maju pada pemilu presiden tahun depan, walau kasasi masih berjalan. Seperti diuraikan dalam tulisan tanggal 20 Oktober 2026, ketidakpuasan itu bersumber dari jarak antara besarnya belanja publik dan layanan yang dirasakan warga.
Italia memperlihatkan apa yang terjadi setelah penantang berkuasa. Giorgia Meloni memerintah sejak Oktober 2022 dan Fratelli d'Italia tetap partai terbesar, tetapi setelah empat tahun berkuasa partai itu praktis telah menjadi bagian dari kemapanan. Penantang baru muncul dari sisi kanannya melalui partai pimpinan Roberto Vannacci yang dalam sejumlah survei telah melampaui Lega. Masuknya pembawa pesan antikemapanan ke pemerintahan tetap menyisakan ruang bagi penantang baru, termasuk dari sisi ideologi yang sama.
Kaum Muda sebagai Penggerak
Benang merah lain yang menonjol adalah peran generasi muda dalam mobilisasi. Pada Agustus 2024, protes mahasiswa di Bangladesh yang semula menentang kuota pegawai negeri berkembang menjadi gerakan yang memaksa Perdana Menteri Sheikh Hasina meninggalkan negaranya. Setahun kemudian, protes Gen Z di Nepal yang dipicu pemblokiran media sosial dan korupsi membuat Perdana Menteri K.P. Sharma Oli mengundurkan diri. Dalam kedua kasus, tuntutan atas kebijakan tertentu meluas menjadi penolakan terhadap seluruh elite yang berkuasa; di Nepal, gedung parlemen bahkan dibakar.
Serbia menempuh jalan berbeda. Gerakan mahasiswanya lahir dari protes antikorupsi setelah runtuhnya kanopi stasiun Novi Sad pada November 2024, lalu berhasil diterjemahkan menjadi kemenangan pemilu.
Di India, gerakan satire anak muda Cockroach Janta Party (CJP) memilih tetap di luar jalur pemilu, sementara di Prancis blokade ratusan sekolah menengah oleh pelajar pada Oktober 2026 berujung kerusuhan.
Pemilih muda umumnya memiliki keterikatan yang lebih lemah dengan partai-partai lama dan langsung merasakan persoalan pendidikan, pekerjaan, dan perumahan. Kondisi itu memudahkan mobilisasi mereka, meski peran mereka di jalanan belum tentu mencerminkan sikap seluruh pemilih.
Teknologi informasi tidak menjelaskan mengapa ketidakpuasan muncul, tetapi menjelaskan mengapa mobilisasi menyebar cepat. Media sosial menurunkan biaya mobilisasi, sementara simbol dan taktik berpindah lintas negara dalam hitungan hari, seperti bendera bajak laut dari serial One Piece dalam protes kaum muda sepanjang 2025. Namun kecepatan tidak menggantikan organisasi. Mobilisasi digital dapat memperbesar tekanan terhadap pemerintah, tetapi keberhasilan gerakan Serbia di kotak suara juga ditopang pembangunan jaringan selama hampir dua tahun.
Brasil sebagai Batas Tesis
Brasil membatasi tesis ini. Lula adalah petahana, sedangkan kubu Bolsonaro, yang pada 2018 tampil sebagai penantang kemapanan, kini menjadi blok mapan dengan basis kuat di Kongres. Pada pemilu 2026, hampir seluruh suara tetap mengalir kepada dua kekuatan lama, dan tidak ada penantang baru yang mendapat dukungan berarti. Kemenangan tipis Lula dapat mencerminkan kepercayaan atau toleransi pada kinerjanya, penolakan terhadap lawannya, atau keduanya. Hasil pemilu Brasil tidak memberikan bukti kuat tentang keberhasilan elektoral kekuatan antikemapanan baru. Gelombang ini nyata di banyak negara, tetapi tidak universal.
Struktur politik ikut berperan, seperti sistem dua putaran di Brasil, bersama organisasi, kepemimpinan, respons aparat, dan kredibilitas pemilu. Struktur politik tidak menentukan apakah ketidakpuasan muncul, tetapi sangat memengaruhi ke mana ia mengalir.
Tiga Skenario
Hingga akhir 2027, ada tiga skenario. Skenario A, penyerapan: partai mapan menyerap tuntutan perubahan dan menunjukkan hasil nyata, sehingga gelombang antikemapanan mereda tanpa penantang harus berkuasa. Skenario B, pergiliran: penantang memenangkan pemilu di lebih banyak negara lalu menghadapi tuntutan kinerja yang sama dengan pendahulunya, seperti yang kini dialami Meloni. Skenario C, kebuntuan: dukungan makin terpecah, koalisi sulit terbentuk, dan pemerintah kehilangan kemampuan mengambil keputusan. Jerman dan Prancis paling dekat dengan skenario ini.
Peralihannya dapat dibaca dari beberapa variabel. Skenario C menguat bila Brandmauer di Jerman bertahan sementara partai mapan gagal membentuk koalisi yang stabil. Skenario B menguat bila RN, yang belum pernah memimpin pemerintahan nasional, memenangkan pemilu presiden Prancis 2027, dengan Serbia sebagai salah satu ujian apakah gerakan warga mampu memerintah. Skenario A hanya terbuka bila perbaikan nyata dirasakan warga sebelum pemilu berikutnya. Pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 baru menjadi penanda bila penantang dari luar arus utama partai yang menang, bukan sekadar oposisi.
Kesimpulan
Hasil pemilu Serbia dan Brasil pada hari yang sama memperlihatkan bahwa ketidakpercayaan terhadap elite menguat di banyak negara, tetapi tidak selalu berubah menjadi penolakan terhadap kemapanan. Di Serbia, ketidakpercayaan itu menemukan wadah dan menjatuhkan kekuasaan yang lama bertahan, sementara di Brasil pemilih masih memilih di antara dua kekuatan lama. Pesan antikemapanan dapat membawa sebuah gerakan meraih kekuasaan, tetapi untuk mempertahankan kepercayaan, gerakan itu harus menghasilkan perbaikan yang sebelumnya dituntutnya. ***
