Wall Street Menguat Jelang Keputusan The Fed, Saham Chip dan AI Jadi Motor Penggerak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (28/10/2026) WIB, memperpanjang kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Reli saham perusahaan semikonduktor dan optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi pendorong utama, sementara penurunan harga minyak ikut memperbaiki sentimen investor.
Indeks S&P 500 naik 0,6% dan ditutup pada 7.722,60. Dow Jones Industrial Average bertambah 15,99 poin atau 0,03% menjadi 52.377,57. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 1,18% ke level 26.477,81.
Baca Juga
Wall Street Bangkit Didorong Saham Teknologi, IPO Anthropic Jadi Katalis Baru
Saham perusahaan teknologi semikonduktor menjadi salah satu penggerak utama perdagangan. Saham Broadcom melonjak sekitar 4% setelah sejumlah bank besar, yakni Bank of America, Citi, dan Morgan Stanley, bersama perusahaan investasi Blackstone mengumumkan pendanaan senilai US$63 miliar untuk pembelian teknologi Broadcom bagi Anthropic.
Pengumuman tersebut mendorong saham perusahaan semikonduktor lainnya. Micron Technology naik hampir 3%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) menguat 5%.
Kenaikan itu melanjutkan penguatan pada sesi perdagangan sebelumnya, ketika saham-saham terkait AI mendapat dorongan dari rencana Anthropic untuk melantai di bursa Nasdaq melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Jika terealisasi, IPO Anthropic akan menjadi salah satu pencatatan saham perusahaan teknologi besar pada 2026, setelah SpaceX melakukan pencatatan saham besar-besaran pada Juni.
Optimisme terhadap prospek AI kembali menjadi perhatian investor setelah sebelumnya muncul kekhawatiran mengenai besarnya belanja perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI.
“Pasar saham secara berkala mengalami fase kekhawatiran terhadap belanja AI. Namun, investor cenderung kembali memburu saham teknologi ketika kekhawatiran tersebut mereda,” kata manajer portofolio Argent Capital Management Jed Ellerbroek, dilansir CNBC.
Menurutnya, sentimen terhadap saham teknologi yang melemah selama dua pekan terakhir mulai berbalik pada dua hari pertama pekan ini.
Ellerbroek menilai perusahaan-perusahaan pemilik pusat data masih memiliki keyakinan kuat untuk melanjutkan ekspansi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa volatilitas pasar modal tetap menjadi risiko yang dapat mengganggu prospek investasi.
Penurunan Harga Minyak Ikut Menopang Saham
Selain saham teknologi, pelemahan harga minyak turut mendukung penguatan Wall Street. Harga minyak turun setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan pejabat tinggi keamanan nasional Mohsen Rezaei membahas persyaratan Iran untuk mengakhiri konflik dengan AS.
Minyak mentah WTI ditutup turun sekitar 1,83% menjadi US$99,90 per barel. Sementara itu, Brent melemah 1,67% ke level US$113,88 per barel.
Baca Juga
Iran Bahas Syarat Akhiri Perang, Harga Minyak Turun Hampir 2%
Penurunan harga energi berpotensi meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi, meskipun harga minyak masih berada pada level tinggi akibat konflik di Timur Tengah.
Perkembangan geopolitik tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Di luar sektor teknologi, saham JetBlue melonjak 19% meskipun maskapai tersebut melaporkan kerugian kuartal III yang lebih besar daripada perkiraan. Investor merespons positif proyeksi perusahaan yang memperkirakan margin keuntungan akan kembali meningkat pada kuartal IV.
Saham United Parcel Service (UPS) juga menguat lebih dari 5% setelah perusahaan pengiriman tersebut membukukan kinerja kuartal III yang melampaui ekspektasi pasar.
Menanti Keputusan The Fed
The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu sore waktu AS, setelah menggelar rapat kebijakan selama dua hari.
Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga. Namun, investor akan mencermati pernyataan pejabat The Fed untuk mencari petunjuk mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Ellerbroek menilai rapat kali ini berpotensi berlangsung tanpa kejutan besar. Menurutnya, pendekatan komunikasi Ketua The Fed Kevin Warsh dapat membuat pasar lebih jarang mengalami rapat kebijakan yang mengejutkan.
Namun, ia memperkirakan rapat pada Desember berpotensi menjadi perhatian lebih besar bagi investor karena arah kebijakan moneter selanjutnya masih belum pasti.
Bagi pasar saham, keputusan The Fed menjadi penting karena suku bunga memengaruhi biaya pendanaan perusahaan, valuasi saham, serta daya tarik investasi berisiko.
Saham teknologi, khususnya perusahaan yang membutuhkan investasi besar untuk pengembangan AI dan pusat data, relatif sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.
Jika The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, valuasi saham teknologi berpotensi menghadapi tekanan. Sebaliknya, kepastian bahwa suku bunga tidak segera naik dapat membantu mempertahankan minat investor terhadap sektor tersebut.
Dengan demikian, penguatan Wall Street pada Selasa ditopang oleh kombinasi reli saham semikonduktor, optimisme terhadap AI, penurunan harga minyak, dan respons positif terhadap laporan keuangan perusahaan. Namun, keberlanjutan reli masih bergantung pada hasil rapat The Fed dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
