Wall Street Pecah Rekor Baru, Saham Apple Jadi Motor Penggerak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat memulai bulan Mei dengan performa impresif, ditopang lonjakan saham teknologi dan meredanya tekanan harga minyak di tengah dinamika baru konflik Timur Tengah.
Indeks S&P 500 ditutup naik 0,29% ke level rekor 7.230,12 pada Jumat waktu AS atau Sabtu (2/5/2026) WIB. Nasdaq Composite melesat 0,89% ke 25.114,44. Kedua indeks utama itu mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,31% ke 49.499,27.
Baca Juga
Optimisme Dongkrak Wall Street: Dow Melesat Hampir 800 Poin, S&P 500 Cetak Rekor Baru di Atas 7.200
Pergerakan ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya S&P 500 ditutup di atas ambang batas 7.200 untuk pertama kalinya. Hal itu membantu S&P 500 dan Nasdaq mengamankan kinerja bulanan terkuat mereka sejak 2020. Sementara itu, Dow mencatatkan kinerja bulanan terkuatnya sejak November 2024.
Kenaikan pasar terutama didorong oleh lonjakan saham Apple Inc. yang naik 3,2% setelah melaporkan kinerja kuartalan di atas ekspektasi. Selain laba dan pendapatan yang solid, proyeksi pendapatan perusahaan juga melampaui perkiraan analis, meski penjualan iPhone kembali mengecewakan.
Di sisi lain, harga minyak mengalami tekanan setelah laporan bahwa Iran mengirimkan respons terhadap proposal terbaru AS melalui mediator Pakistan. Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap tawaran tersebut, meski membuka kemungkinan kesepakatan.
Minyak mentah AS jenis WTI turun 2,98% ke US$101,94 per barel, sementara Brent melemah 2,02% ke US$108,17 per barel.
Baca Juga
Donald Trump Tolak Proposal Damai Baru Iran, Negosiasi Mandek Meski Harga Minyak Turun
Secara keseluruhan, reli pasar saham didorong oleh musim laporan keuangan kuartal I yang kuat dan harapan meredanya ketegangan geopolitik. Meski sempat terguncang akibat konflik AS-Iran, ketiga indeks utama kini berada jauh di atas posisi awal tahun 2026.
David Krakauer dari Mercer Advisors, seperti dikutip CNBC, menilai tren positif masih berlanjut, didukung potensi pertumbuhan laba global. Ia mengingatkan bahwa volatilitas jangka pendek tetap mungkin terjadi, terutama di sektor teknologi yang sangat bergantung pada investasi kecerdasan buatan.
Meskipun Krakauer berharap perang Iran akan segera berakhir, yang mengarah pada pembukaan kembali Selat Hormuz, ia yakin bahwa potensi pertumbuhan pendapatan perusahaan di AS maupun di luar negeri akan memberikan momentum bagi saham, bahkan jika konflik berlanjut.
“Selalu ada kemungkinan berita baru atau sentimen yang menurun, di mana kita bisa melihat sedikit penurunan setelah kenaikan yang kuat, tetapi secara keseluruhan kami masih optimis secara strategis terhadap ekuitas,” kata wakil presiden manajemen portofolio itu.

