Saham Berjangka AS Menguat, Pasar Dibayangi Inflasi Energi dan Arah Kebijakan The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Saham berjangka Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Minggu malam (25/10/2026) waktu setempat. Investor berupaya memulihkan kerugian setelah indeks S&P 500 mencatat penurunan mingguan berturut-turut. Pelaku pasar kini mencermati serangkaian keputusan suku bunga bank sentral utama dunia yang akan menentukan arah perdagangan pekan ini.
Baca Juga
Aksi Jual Meluas di Wall Street, Indeks Dow Jones Terjun Lebih dari 600 Poin
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,4%, sedangkan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average bertambah 128 poin atau 0,2%. Nasdaq-100 futures menguat 0,6%.
Pekan ini menjadi periode penting bagi pasar keuangan global. Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu, disusul Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis dan Bank Sentral Jepang (BOJ) pada Jumat.
Keputusan ketiga bank sentral tersebut akan menjadi perhatian investor untuk memperkirakan arah kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik.
Pasar saham AS menutup perdagangan Jumat dengan pelemahan tajam. Kenaikan harga minyak dan aksi jual yang meluas ke berbagai sektor menekan ketiga indeks utama Wall Street.
Indeks Dow Jones merosot lebih dari 650 poin, sedangkan S&P 500 kehilangan 0,5%. Nasdaq Composite turun 0,2%.
Tekanan tersebut membuat S&P 500 dan Nasdaq mencatat penurunan mingguan selama dua pekan berturut-turut.
Ketegangan Geopolitik Tekan Pasar
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen investor. Pada Jumat, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 3% menjadi US$116,72 per barel, sekaligus mencatat harga penutupan tertinggi sejak April.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,8% menjadi US$103,27 per barel.
Baca Juga
Lonjakan harga energi terjadi di tengah laporan yang menyebutkan bahwa AS dan Israel berpotensi merencanakan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS.
Ketidakpastian tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak global. Jika konflik meluas, kenaikan harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi dan mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Bagi pasar saham, kombinasi kenaikan biaya energi dan suku bunga tinggi berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan, mengurangi daya beli konsumen, serta meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.
Keputusan The Fed Jadi Sorotan
Investor terutama menantikan keputusan The Fed pada Rabu. Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka suku bunga federal funds, pasar memperkirakan peluang sekitar 90% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4%.
Namun, Bank of America memperkirakan The Fed justru akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau 0,25 poin persentase.
Ekonom Bank of America Claudio Irigoyen mengatakan keputusan Oktober akan menjadi ujian bagi komitmen Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mengubah secara mendasar strategi komunikasi dan panduan kebijakan bank sentral.
Menurut Irigoyen, tantangan Warsh dalam konferensi pers adalah mencegah pasar menilai keputusan The Fed sebagai kesalahan kebijakan.
Jika suku bunga dinaikkan, investor mungkin khawatir kebijakan moneter menjadi terlalu ketat. Sebaliknya, jika suku bunga dipertahankan, pasar dapat mempertanyakan kredibilitas The Fed dalam mengendalikan inflasi.
Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan dilema yang dihadapi bank sentral AS: menahan tekanan inflasi tanpa memperbesar risiko perlambatan ekonomi.
Moody's Pertahankan Peringkat Kredit Prancis
Di Eropa, Prancis memperoleh sedikit kelegaan setelah Moody's mempertahankan peringkat kredit negara tersebut pada Aa3 dengan prospek negatif.
Keputusan itu meredakan sebagian kekhawatiran pasar setelah imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun sempat menyentuh 5% pada pekan lalu. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2002.
Baca Juga
Prancis Dilanda Kerusuhan dan Penjarahan, Macron: Perusuh Akan Ditindak Tegas
Investor sebelumnya khawatir Prancis, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di kawasan euro, berisiko mengalami penurunan peringkat kredit akibat lonjakan biaya pinjaman dan memburuknya kondisi fiskal.
Moody's menegaskan bahwa Prancis masih membutuhkan upaya fiskal yang signifikan dan berkelanjutan setelah pemilihan presiden pada April dan Mei 2027.
Lembaga pemeringkat itu memperkirakan beban utang pemerintah Prancis akan melampaui 120% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2027.
Moody's juga menyatakan prospek kredit Prancis dapat ditingkatkan menjadi stabil apabila institusi negara tersebut mampu mengurangi defisit anggaran.
Perkembangan ini tetap menjadi perhatian investor karena tekanan fiskal di negara besar kawasan euro dapat memengaruhi pasar obligasi dan meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas keuangan regional.
Dengan keputusan bank sentral, lonjakan harga minyak, dan risiko geopolitik yang berlangsung bersamaan, pergerakan pasar saham pekan ini akan sangat bergantung pada sinyal kebijakan moneter dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
