Globis University Ingin Lebih Banyak Pemimpin Bisnis Tumbuh pada Era AI di Indonesia
Jakarta, Investortrust.id — Pendiri Globis University, Yoshito Hori, melihat Indonesia sebagai negara dengan populasi keempat terbesar di dunia dan berpotensi memiliki bonus demografis—sebagai salah satu pasar strategis bagi pengembangan pemimpin bisnis masa depan. Dengan pengalamannya membangun sekolah bisnis sejak 1992, Hori menawarkan pendekatan yang menggabungkan kompetensi manajemen, teknologi, dan pencarian misi pribadi (kokorozashi).
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus bertumbuh dan semakin pesat. Keberadaan AI memengaruhi perubahan lanskap bisnis global, transformasi digital, serta persaingan ekonomi yang semakin kompleks. Para eksekutif pengambil keputusan dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Untuk itu, pendidikan bisnis dituntut tidak sekadar menghasilkan lulusan yang memahami teori manajemen. Dunia usaha juga membutuhkan pemimpin yang mampu berinovasi, menggerakkan organisasi, serta menciptakan nilai bagi masyarakat.
Perspektif seperti itulah yang menjadi salah satu landasan kuat bagi Yoshito Hori dalam membangun Globis University, institusi pendidikan bisnis asal Jepang yang ia dirikan pada tahun 1992. Bermula hanya dari sebuah kelas kecil di Tokyo, Globis kini bertransformasi menjadi sekolah bisnis dengan program MBA dalam bahasa Jepang dan Inggris.
Tak cukup di dalam negeri, Globis kini memperluas jangkauan internasionalnya, termasuk melalui kehadiran di Indonesia. Dalam wawancara eksklusif bersama Investortrust, Hori menyatakan bahwa salah satu pilar terpenting dalam perjalanan Globis adalah menempatkan kualitas pendidikan sebagai prioritas utama. Menurutnya, pertumbuhan institusi tidak cukup diukur dari jumlah mahasiswa atau ekspansi pasar, tetapi juga dari kemampuan menjaga kualitas pembelajaran dan mendengarkan kebutuhan peserta didik.
“Kami memutuskan untuk memastikan kualitas Globis yang terbaik di setiap kursus,” pungkas Hori. Ia menjelaskan pendekatan yang ia terapkan sejak awal mendirikan institusi pendidikan Globis. Hori juga menjelaskan bahwa Globis menjalankan kebijakan pengembalian biaya kuliah bagi siswa yang tidak puas dengan metode, materi dan kurikulum pembelajaran dengan ketentuan tertentu. Keluhan dan pengalaman para siswa didik ditindaklanjuti dengan wawancara untuk memahami penyebab ketidakpuasan sekaligus menjadi bahan evaluasi.
Kokorozashi: Bisnis Bukan Sekadar Mencari Uang
Salah satu hal yang membedakan pendekatan Globis adalah konsep kokorozashi, istilah Jepang yang dalam konteks pendidikan kepemimpinan dapat dipahami sebagai misi atau tujuan pribadi yang ingin diwujudkan seseorang bagi masyarakat.
Hori mengatakan, pendidikan bisnis seharusnya menjadi kesempatan bagi seseorang untuk memikirkan lebih jauh mengenai identitas, kekuatan, kelemahan, dan tujuan hidupnya. Mahasiswa tidak hanya diajak menjawab pertanyaan tentang pekerjaan apa yang ingin dijalani, tetapi juga mengapa mereka memilih jalan tersebut dan dampak apa yang ingin mereka hasilkan. Dalam wawancara, Hori menjelaskan bahwa mahasiswa diajak mempertimbangkan tiga pertanyaan utama: apa yang mereka sukai, bidang apa yang menjadi keunggulan mereka dibandingkan orang lain, dan kontribusi apa yang dapat mereka berikan kepada masyarakat.
Ketiga pertanyaan itu kemudian menjadi bahan refleksi dan diskusi dengan mahasiswa lain yang memiliki latar belakang industri, pengalaman, dan kebangsaan berbeda. Melalui proses tersebut, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan misi pribadi yang lebih jelas. “Bisnis bukan hanya untuk membuat uang. Bisnis adalah sesuatu yang sangat berharga bagi masyarakat,” kata Hori.
Ia berpendapat, pemimpin yang memahami misi pribadinya akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk bekerja, memotivasi tim, dan menghadapi tantangan. Dalam lingkungan bisnis yang penuh ketidakpastian, kejelasan tujuan dapat menjadi salah satu fondasi pengambilan keputusan.
Mengembangkan MBA untuk Era Teknologi dan AI
Selain misi pribadi, Hori menilai pendidikan bisnis harus terus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Menurut dia, model bisnis, persaingan industri, pemasaran, dan cara perusahaan beroperasi telah mengalami perubahan besar seiring kemajuan teknologi digital. Ia mencontohkan perubahan yang terjadi pada layanan transportasi dan perdagangan digital. Perusahaan yang mampu memanfaatkan teknologi dapat membentuk pasar baru, sedangkan perusahaan yang terlambat beradaptasi berisiko kehilangan daya saing.
Atas dasar itu, Globis mengembangkan pendekatan yang disebut Technovate, yaitu perpaduan teknologi dan inovasi dalam bisnis. Pendekatan ini berupaya membekali mahasiswa dengan kemampuan menghubungkan pemahaman teknologi dengan strategi bisnis, bukan hanya memahami teknologi sebagai persoalan teknis.
Hori juga menyebut bahwa Globis telah berinvestasi di perusahaan berbasis teknologi, termasuk perusahaan perangkat lunak, deep tech, robotika, energi, material, dan teknologi antariksa. Aktivitas investasi tersebut memberikan perspektif tambahan mengenai perkembangan industri dan peluang bisnis yang muncul.
Bagi Hori, perubahan teknologi menuntut pembaruan kurikulum MBA. Kompetensi dasar seperti pemasaran, keuangan, operasi, dan strategi tetap diperlukan, tetapi pemimpin masa depan harus mampu menghubungkan kompetensi tersebut dengan perkembangan teknologi.
Ia juga menyoroti pentingnya pembelajaran yang fleksibel. Globis mengembangkan program tatap muka dan daring agar mahasiswa dapat menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan profesional mereka. Dalam wawancara, Hori menyebut bahwa kedua pendekatan pembelajaran tersebut dirancang dengan kurikulum dan biaya kuliah yang sama.
Indonesia Dinilai Memiliki Potensi Besar
Ekspansi ke Indonesia menjadi bagian penting dari strategi internasional Globis. Dalam wawancara, Hori menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar karena jumlah penduduk, generasi muda, dan sumber daya alamnya.
Ia bahkan memperkirakan ekonomi Indonesia berpotensi melampaui Jepang pada masa mendatang. Pernyataan itu merupakan pandangan Hori mengenai prospek jangka panjang, bukan kepastian mengenai kapan atau dalam kondisi apa perubahan tersebut akan terjadi.
Menurut Hori, salah satu faktor yang menentukan kemampuan Indonesia merealisasikan potensinya adalah kualitas pendidikan dan kepemimpinan. Pemimpin yang baik, menurut dia, dapat menciptakan nilai ekonomi, menarik investasi, serta membangun siklus pertumbuhan yang berkelanjutan. Karena itu, pendidikan bisnis dinilai memiliki peran lebih luas daripada sekadar meningkatkan keterampilan individu.
Pendidikan juga dapat membantu memperkuat kualitas pengambilan keputusan di perusahaan dan organisasi. Langkah konkret Globis di Indonesia dimulai melalui pembentukan PT Globis Indonesia Hub di Jakarta pada November 2025. Dalam pengumuman resminya, Globis menyebut kehadiran tersebut sebagai bagian dari ekspansi internasional untuk mengembangkan pemimpin bisnis di kawasan dan memperkuat ambisi menjadi sekolah MBA nomor satu di dunia pada era Technovate.
