Profesor Webster University: Pemimpin Negara Barat Harus Belajar dari Prabowo
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Profesor Departemen Hubungan Internasional Webster University, Rovshan Ibrahimov, menilai langkah Presiden Prabowo Subianto melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia patut menjadi pelajaran bagi para pemimpin di negara-negara Barat. Hal itu disampaikan Ibrahimov dalam tulisannya berjudul "Indonesia’s ‘Prabowonomics’ is shaming the West’s approach to reform" yang dipublikasikan media terkemuka Inggris The Telegraph pada Kamis (17/9/2026).
Dalam tulisannya, Ibrahimov menyatakan keberanian Prabowo membongkar struktur BUMN yang telah terbentuk selama puluhan tahun menunjukkan adanya upaya serius untuk menghadapi kepentingan-kepentingan yang telah mengakar di dalam sistem ekonomi negara.
“Apakah gebrakan Prabowo melawan berbagai kepentingan ini akan terbukti sebagai kenekatan atau justru membuahkan hasil, hanya waktu yang dapat menjawabnya,” kata Ibrahimov dikutip dari The Telegraph, Jumat (18/9/2026).
Baca Juga
Pengamat Internasional Puji Danantara, Nilai Pemimpin Barat Mesti Contoh Prabowonomics
Ia menyoroti target restrukturisasi BUMN Indonesia yang mencakup lebih dari 750 entitas. Langkah tersebut, menurutnya, berpotensi menjadi salah satu restrukturisasi korporasi terbesar di dunia mengingat total aset yang berada dalam jaringan BUMN Indonesia hampir mencapai US$1 triliun.
Ibrahimov membandingkan langkah tersebut dengan dinamika politik di Inggris dan Amerika Serikat. Menurut dia, para politikus Inggris masih menghadapi kesulitan ketika harus mengalihkan sekitar 2% belanja negara dari kesejahteraan sosial ke pertahanan.
Sementara di Amerika Serikat, menurutnya, para pemimpin politik bahkan menghadapi tantangan ketika membicarakan defisit fiskal yang sangat besar, apalagi mengambil langkah untuk menguranginya.
Danantara di Pusat Restrukturisasi BUMN
Ibrahimov menyebut Danantara Indonesia berada di pusat proses restrukturisasi tersebut. Lembaga pengelola investasi negara itu diluncurkan Prabowo pada Februari 2025 dengan tujuan menghimpun portofolio BUMN Indonesia dalam satu atap.
Menurutnya, kritik terhadap Danantara terutama berpusat pada dua persoalan. Pertama, kekhawatiran mengenai konsentrasi kekuatan ekonomi yang sangat besar pada sebuah institusi yang pada akhirnya bertanggung jawab kepada Presiden. Kedua, mandat Danantara yang dinilai jauh lebih luas dibandingkan fungsi sovereign wealth fund (SWF) konvensional.
Namun, Ibrahimov menilai motif pembentukan Danantara tidak semestinya disederhanakan hanya berdasarkan latar belakang Prabowo sebagai mantan jenderal.
“Namun, narasi semacam itu terlalu sederhana, dan berisiko mengaburkan apa yang sesungguhnya menggerakkan Prabowonomics serta alasan di balik keberaniannya memutus status quo ekonomi Indonesia,” katanya.
Ia mengakui kekhawatiran mengenai sentralisasi aset negara di bawah Danantara bukan persoalan sepele. Namun, menurutnya, sentralisasi diperlukan untuk memetakan sekaligus merasionalisasi struktur BUMN yang selama ini sangat kompleks.
Prabowo sebelumnya memperkirakan jumlah entitas BUMN hanya sekitar 300 hingga 400. Namun, setelah dilakukan pemetaan, jumlahnya ternyata mencapai 1.074 entitas.
Struktur tersebut berkembang melalui pembentukan anak perusahaan hingga cucu dan cicit perusahaan. Menurut Ibrahimov, semakin banyak lapisan organisasi membuat akuntabilitas melemah, sementara fungsi yang tumpang tindih dan pemborosan semakin berkembang.
“Ketika struktur BUMN semakin jauh dari pemilik utamanya, kepentingan mempertahankan diri mulai menggantikan tujuan pelayanan publik,” tulisnya.
Karena itu, menurut Ibrahimov, diperlukan kepemimpinan yang cukup tegas untuk membongkar struktur yang telah mengakar.
290 BUMN Sudah Dipangkas
Ibrahimov mencatat hingga Agustus 2026 Danantara telah memangkas 290 entitas melalui merger, likuidasi, dan divestasi. Namun, apabila target Prabowo adalah merampingkan struktur tersebut menjadi sekitar 300 entitas pada akhir tahun, diperlukan percepatan signifikan dalam proses restrukturisasi.
Di sisi lain, ia menyoroti mandat Danantara yang tidak berhenti pada pencarian imbal hasil finansial jangka panjang. Lembaga tersebut juga menggunakan dividen dan aset dari portofolio BUMN untuk mendukung berbagai prioritas pembangunan nasional. Salah satu contohnya adalah pengembangan industri pengolahan bahan mentah atau hilirisasi yang diharapkan menciptakan kapasitas industri sekaligus lapangan pekerjaan di dalam negeri.
Menurut Ibrahimov, penggunaan kekayaan negara untuk membiayai agenda pembangunan tidak serta-merta berarti Danantara menyimpang dari tujuan pembentukannya. Setiap negara menghadapi pilihan ketika sumber daya fiskal dan investasi terbatas. Memprioritaskan pembangunan smelter aluminium, misalnya, dapat berarti menunda investasi pada fasilitas kesehatan.
Namun, menurut dia, adanya pilihan-pilihan politik tersebut tidak berarti sebuah SWF harus menjadikan tingkat imbal hasil finansial sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Bukan Temasek
Ibrahimov juga menilai perbandingan Danantara dengan Temasek Holdings milik Singapura kurang tepat. Temasek merupakan perusahaan investasi negara yang berorientasi komersial dan kerap dijadikan model bagi pengelolaan investasi negara di kawasan Asia.
Namun, menurut Ibrahimov, karakter Indonesia sangat berbeda dengan Singapura. Singapura merupakan negara-kota dengan sekitar enam juta penduduk, sedangkan Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas, memiliki kekayaan sumber daya alam besar, berpenduduk hampir 300 juta jiwa, dan tengah melakukan transformasi ekonomi.
Menurut Ibrahimov, model yang lebih relevan untuk memahami Danantara adalah tradisi pembangunan ekonomi Asia yang dipimpin negara.
Ia menunjuk Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan sebagai negara yang pernah mengorganisasikan modal secara sengaja untuk mendukung pembangunan industri ketika mengalami periode pertumbuhan ekonomi pesat.
Korea Selatan menjadi salah satu contoh. Pada masa pemerintahan Presiden Park Chung-hee, pemerintah menerapkan rencana pembangunan ekonomi lima tahunan dan memberikan dukungan luas kepada kelompok perusahaan yang kemudian berkembang menjadi chaebol.
Samsung, menurut Ibrahimov, merupakan salah satu contoh transformasi tersebut. Perusahaan yang kini menjadi salah satu perusahaan terbesar Korea Selatan itu pada awalnya bergerak dalam perdagangan beras dan ikan kering. Seiring menguatnya perusahaan-perusahaan Korea Selatan, negara tersebut kemudian melakukan modernisasi dan industrialisasi.
“Jika dilihat dalam tradisi tersebut, mandat luas Danantara tampak bukan sebagai penyimpangan atau perluasan misi, melainkan justru sebagai tujuan utama pembentukan lembaga itu,” tulis Ibrahimov.
Inti Prabowonomics
Ibrahimov menilai inti dari Prabowonomics terletak pada keyakinan bahwa kekayaan nasional Indonesia harus digunakan secara lebih terarah untuk meningkatkan kemakmuran rakyat.
Menurutnya, kepemilikan sumber daya alam saja tidak otomatis membuat sebuah bangsa menjadi kaya. Kekayaan tersebut baru menghasilkan kemakmuran ketika dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
“Danantara merupakan upaya Prabowo untuk menggerakkan neraca keuangan negara bagi kepentingan mereka yang pada hakikatnya merupakan pemiliknya: rakyat Indonesia,” katanya.
Baca Juga
Prabowo Ingin Terus Pangkas BUMN, Targetkan 300 per 31 Desember 2026
Meski demikian, Ibrahimov mengingatkan adanya risiko jika Danantara berubah menjadi sumber pendanaan politik yang tidak memiliki pengawasan memadai.
“Jika Danantara berubah menjadi sumber dana politik yang terlindungi dari pengawasan, para pengkritiknya akan terbukti benar,” katanya.
Namun, menurut dia, risiko tersebut tidak seharusnya membuat eksperimen ekonomi yang sedang dilakukan Indonesia dipandang secara terlalu sederhana. Ia menilai langkah Prabowo menunjukkan bahwa transformasi ekonomi membutuhkan keberanian menghadapi risiko dan mengambil pilihan-pilihan yang sulit.
“Eksperimen ini juga menunjukkan kepada kepemimpinan politik dunia Barat bahwa keberhasilan tidak mungkin diraih tanpa risiko ataupun pilihan-pilihan yang sulit,” katanya.
