Belajar dari Tiongkok, Boy Thohir Dorong Akademisi UI Jadi Profesor Entrepreneur
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Dewan Pembina Yayasan Mochamad Thohir, Garibaldi ‘Boy’ Thohir, mendorong akademisi dan profesor di Universitas Indonesia (UI) untuk tidak hanya berfokus pada teori formal, melainkan terjun ke dunia kewirausahaan (entrepreneurship). Langkah ini krusial agar hasil riset perguruan tinggi dapat bertransformasi menjadi produk industri unggulan yang memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
Boy membagikan pengalamannya saat berinteraksi dengan jajaran pimpinan korporasi global asal Tiongkok. Ia mengaku kagum melihat lanskap industri Tiongkok yang banyak dilahirkan oleh para akademisi dan peneliti kampus.
Baca Juga
Boy Thohir Masih Pede IHSG Tembus 9.000 di Akhir 2026, Ini Alasannya
"Banyak sekali perusahaan-perusahaan besar di Tiongkok yang dibentuk atau dilahirkan oleh profesor-profesor. Jadi profesor di sana bukan sekadar by the book, tetapi dari research and development-nya terus menciptakan produk unggulan," ujar Boy Thohir saat meresmikan fasilitas pembelajaran modern Smart Classroom At-Thohir Vidya Loka Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (MM FEB UI) di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Boy mencontohkan raksasa industri dunia, seperti CATL—produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia—yang didirikan oleh seorang akademisi. Fenomena serupa juga ditemui pada industri pengolahan nikel dan sektor teknologi tinggi lainnya.
Menurutnya, di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi masa depan, kontribusi akademisi di Tiongkok sangat dominan hingga mengisi jajaran tokoh paling berpengaruh dan berkonstribusi besar.
"Kalau masuk ke rich list di Tiongkok itu, mungkin 20%-nya adalah profesor. UI diharapkan bisa menciptakan profesor-profesor entrepreneur yang masuk daftar bukan masalah kayanya, tetapi kontribusinya terhadap universitas yang kita banggakan ini," tuturnya.
Pentingnya Ruang Diskusi Inovatif
Untuk mendukung lahirnya gagasan-gagasan besar dan iklim akademik yang kolaboratif, Yayasan Mochamad Thohir menghadirkan Smart Classroom At-Thohir Vidya Loka. Boy Thohir bahkan terlibat langsung dalam meninjau desain dan konsep ruang kelas tersebut untuk memastikan suasana pembelajaran yang kondusif.
Ia menilai, proses penciptaan inovasi dan penyelesaian masalah (problem solving) sering kali lahir dari interaksi yang fleksibel dan terbuka, bukan sekadar dari ruang rapat formal.
Baca Juga
"Pengalaman saya, ruangan itu penting untuk sharing dan diskusi. Pertemuan formal itu penting, tetapi pertemuan informal jauh lebih penting. Lewat diskusi informal kita bisa lebih terbuka, rileks, dan saling berbagi gagasan," terang Boy.
Fasilitas At-Thohir Vidya Loka ini diharapkan menjadi inkubator lahirnya kolaborasi antara dunia akademik dan industri, sekaligus melahirkan generasi pengusaha maupun akademisi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global.
