Yield Obligasi AS 10 Tahun Anjlok di Bawah 5%, Ini Risiko yang Diwaspadai Investor
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam ketika investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Penurunan ini terjadi di tengah aksi jual saham yang dipicu kekhawatiran terhadap pembiayaan industri kecerdasan buatan (AI) dan lonjakan harga minyak.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan penetapan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), pinjaman kendaraan, dan kartu kredit, merosot lebih dari 17 basis poin menjadi 4,972% pada Kamis (22/10/2026). Sejak 23 September, ini pertama kalinya imbal hasil obligasi acuan itu turun di bawah 5%.
Baca Juga
Yield Treasury AS Melonjak, Tekanan Inflasi Bayangi Keputusan The Fed
Penurunan tersebut juga menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak 10 Maret 2023.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun, yang lebih erat mengikuti ekspektasi kebijakan suku bunga jangka pendek Federal Reserve (The Fed), turun lebih dari 16 basis poin menjadi 4,659%.
Imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun, yang lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan risiko jangka panjang, juga merosot lebih dari 14 basis poin menjadi 5,296%.
Mitch Goldberg, Presiden ClientFirst Strategy, mengatakan pergerakan tersebut mencerminkan peralihan investor menuju aset yang dinilai lebih aman.
“Ini adalah pelarian ke aset yang lebih aman,” ujar Goldberg,” dikutip CNBC. Investor, tambah dia, mulai khawatir terhadap besarnya penerbitan obligasi oleh perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AI.
Menurutnya, ketika imbal hasil obligasi meningkat dan risiko pembiayaan perusahaan membesar, investor cenderung mencari instrumen yang diyakini mampu memberikan pembayaran hingga jatuh tempo.
Larry Holzenthaler, manajer portofolio senior untuk investasi pendapatan tetap di Catalyst Funds, mengatakan obligasi pemerintah AS kembali memperoleh status sebagai aset lindung nilai setelah sempat menghadapi tekanan.
Perubahan Sentimen
Pelemahan saham teknologi, meningkatnya risiko di Timur Tengah, dan kenaikan harga minyak membuat obligasi pemerintah AS terlihat relatif lebih menarik dalam jangka pendek.
Perubahan sentimen tersebut terjadi ketika investor semakin mempertanyakan besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan.
CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan kepada CNBC pada Kamis bahwa permintaan terhadap layanan neocloud sangat tinggi. Neocloud merupakan penyedia layanan komputasi awan khusus yang berfokus pada infrastruktur teknologi berkinerja tinggi untuk kebutuhan AI.
Namun, Huang juga mengingatkan bahwa ketersediaan modal masih terbatas dan menjadi penghambat pertumbuhan sektor tersebut.
Pernyataan itu memperkuat kekhawatiran pasar mengenai kemampuan perusahaan-perusahaan AI untuk membiayai ekspansi mereka. Investor tidak hanya menilai potensi pertumbuhan bisnis AI, tetapi juga besarnya kebutuhan belanja modal, risiko utang, dan kemampuan menghasilkan keuntungan dari investasi tersebut.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$113 per Barel, Pasar Cemas AS Kembali Serang Iran
Kenaikan harga minyak turut meningkatkan ketidakpastian. Brent melonjak 4% menjadi US$113,17 per barel, sedangkan WTI naik sekitar 2,39% menjadi US$99,47 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah laporan mengenai kemungkinan serangan baru AS dan Israel terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
“Investor kini menghadapi beberapa sumber risiko sekaligus, sehingga sulit menentukan satu faktor yang paling menentukan arah pasar,” kata Gregory Faranello, kepala strategi makro AS di South Street Securities.
Namun, menurutnya, perkembangan geopolitik menjadi salah satu faktor terpenting saat ini.
Faranello juga memperingatkan bahwa konsumen AS semakin terbebani oleh kenaikan biaya energi. Apabila harga energi terus bertahan tinggi, kondisi itu dapat mempersulit bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Tekanan tersebut berpotensi memaksa The Fed mengambil langkah kebijakan yang lebih ketat jika inflasi kembali meningkat, sebuah skenario yang dapat menambah tekanan terhadap pasar obligasi.
Penurunan imbal hasil pekan ini menjadi pembalikan dari kondisi awal Oktober, ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun dan 30 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade akibat kekhawatiran terhadap inflasi dan tingginya harga energi.
Ketika imbal hasil obligasi 10 tahun menembus 5%, sebagian investor mulai melihat tingkat tersebut sebagai titik masuk yang menarik karena menawarkan kompensasi lebih besar terhadap risiko inflasi yang berada di atas 3%.
Kini, kombinasi tekanan terhadap saham teknologi dan meningkatnya ketegangan geopolitik kembali mengarahkan sebagian dana investor ke obligasi pemerintah AS.
