Dibayangi Inflasi dan Harga Minyak, Yield Treasury AS Kembali Melonjak
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id — Imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada awal pekan, melanjutkan tekanan terhadap pasar obligasi global di tengah kenaikan harga minyak dan kekhawatiran terhadap inflasi.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 5,1%, Tertinggi dalam 19 Tahun
Dikutip dari CNBC, yield Treasury AS 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi biaya hipotek, kredit kendaraan dan kartu kredit, naik lebih dari 5 basis poin menjadi 5,234% pada Senin (28/9/2026).
Yield Treasury 30 tahun yang lebih sensitif terhadap risiko geopolitik meningkat 5 basis poin menjadi 5,552%. Adapun yield Treasury 2 tahun, yang lebih erat merespons ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), naik lebih dari 6 basis poin menjadi 4,926%.
Kenaikan yield Treasury terjadi ketika pasar obligasi pemerintah di berbagai negara juga menghadapi tekanan. Investor masih mencermati tingginya beban utang pemerintah global serta kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama.
Pergerakan tersebut melanjutkan volatilitas yang terjadi pada pekan sebelumnya. Yield Treasury 10 tahun pada Kamis lalu sempat mencapai level tertinggi sejak Juni 2007 sebelum akhirnya turun dari level tersebut.
Pada saat yang sama, yield obligasi Treasury 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2004.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Terus Bergejolak, Yield Treasury 30-Tahun Sentuh 5,5%
Tekanan terhadap pasar obligasi kembali muncul ketika harga minyak mentah global masih berada pada level tinggi. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pada Senin diperdagangkan di sekitar US$92 per barel.
Harga minyak yang tinggi menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan tekanan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS.
Investor kini mengalihkan perhatian ke sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Data lowongan pekerjaan AS melalui Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk Agustus dijadwalkan keluar pada Selasa. Pasar memperkirakan jumlah lowongan pekerjaan turun tipis menjadi 7,24 juta dari 7,27 juta pada Juli.
Setelah itu, investor akan mencermati indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) inti, yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed, serta data pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) kuartalan.
Laporan nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran juga akan menjadi perhatian utama pada akhir pekan.
Rangkaian data tersebut berpotensi menjadi bahan pertimbangan investor dalam membaca arah kebijakan suku bunga The Fed sekaligus menentukan apakah kenaikan yield Treasury masih akan berlanjut.
