Saham Berjangka AS Melemah, Wall Street Dibayangi Harga Minyak dan Lonjakan Yield Treasury
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Saham berjangka Amerika Serikat (AS) turun setelah Wall Street mencatat pekan positif. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 97 poin atau 0,2%. S&P 500 futures dan Nasdaq-100 futures masing-masing melemah 0,2% pada perdagangan Minggu malam waktu AS atau Senin (28/9/2026) WIB.
Baca Juga
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang menekan kontrak saham pada awal perdagangan.
Harga minyak Brent naik lebih dari 1% menjadi US$105,86 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1% menjadi US$93,20 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak persyaratan gencatan senjata yang diajukan Iran.
Perkembangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran investor bahwa konflik di Timur Tengah dapat terus mengganggu pasokan energi global dan mempertahankan tekanan inflasi.
Padahal, Wall Street baru saja mencatat pekan positif. Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,3% sepanjang pekan lalu sekaligus mengakhiri penurunan selama tiga pekan berturut-turut.
Indeks S&P 500 naik 1,2%, sedangkan Nasdaq Composite menguat 2,1%. Keduanya mencatat kinerja mingguan terbaik sejak awal Agustus.
Saham-saham teknologi menjadi penggerak utama kenaikan tersebut. Meta Platforms melonjak hampir 13% sepanjang pekan lalu setelah investor merespons positif perkembangan agen kecerdasan buatan Muse milik perusahaan tersebut.
Microsoft naik lebih dari 4%, sedangkan Apple dan Nvidia masing-masing menguat lebih dari 1%.
Yield Treasury Jadi Perhatian
Kenaikan saham pekan lalu terjadi di tengah lonjakan imbal hasil Treasury AS yang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke level yang belum terlihat sejak 2007. Sementara imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2004.
Imbal hasil Treasury 2 tahun juga melonjak sekitar 17 basis poin sepanjang pekan lalu.
Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi investor bahwa Federal Reserve masih dapat menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk merespons tekanan inflasi yang berasal dari harga minyak yang tinggi.
Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, mengatakan kenaikan cepat imbal hasil obligasi pemerintah bertenor dua tahun di berbagai negara menunjukkan bahwa bank-bank sentral utama menghadapi tekanan untuk kembali menaikkan suku bunga.
Menurutnya, kenaikan harga minyak yang bertahan lebih lama akibat eskalasi kembali konflik Timur Tengah dapat memperbesar tekanan inflasi.
Namun, kenaikan suku bunga juga berpotensi memperburuk prospek defisit anggaran pemerintah di berbagai negara karena biaya pembiayaan utang semakin tinggi.
“Sayangnya, suku bunga yang lebih tinggi juga memperburuk prospek defisit pemerintah yang besar di seluruh dunia,” tulis Yardeni, dikutip CNBC.
Perhatian investor kini beralih ke serangkaian data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) untuk Agustus, yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve, akan dirilis pada Rabu.
Data manufaktur AS terbaru dijadwalkan keluar Kamis. Sementara laporan ketenagakerjaan AS untuk September yang menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan moneter akan dirilis Jumat.
Rangkaian data tersebut akan menjadi perhatian pasar karena meningkatnya ekspektasi investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Kombinasi harga minyak yang kembali naik, inflasi yang tetap menjadi perhatian dan lonjakan imbal hasil Treasury menjadi tantangan bagi pasar saham setelah Wall Street berhasil mencatat pekan positif.
