Wall Street Tertekan Lonjakan Yield Obligasi AS, Dow Jones Melemah Tiga Hari Beruntun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (25/9/2026) WIB. Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan untuk hari ketiga berturut-turut. Lonjakan imbal hasil Treasury ke level tertinggi dalam beberapa dekade menjadi tekanan utama bagi saham.
Dow Jones turun 161,61 poin atau 0,31% dan ditutup pada 51.349,98. Indeks S&P 500 turun tipis 0,02% menjadi 7.704,13, sedangkan Nasdaq Composite justru naik tipis 0,01% ke 26.939,37.
Wall Street sempat berada di posisi lebih rendah sebelum berbalik setelah Reuters melaporkan bahwa perunding AS dan Iran di New York sedang mempertimbangkan kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik di Timur Tengah secara bertahap.
Baca Juga
Minyak Brent Melonjak Lebih dari 3%, AS-Iran Upayakan Kesepakatan Bertahap Buka Selat Hormuz
Dalam skema tersebut, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan AS mencabut blokade ekonomi terhadap Teheran. Namun, harga minyak dan yield obligasi tetap berada di level tinggi sehingga membatasi pemulihan pasar saham.
Yield Treasury Kembali Melonjak
Yield Treasury 30 tahun sempat mencapai 5,501%, level tertinggi sejak Juni 2004. Yield Treasury 10 tahun yang menjadi acuan biaya kredit perumahan juga melonjak ke 5,223%, tertinggi sejak Juni 2007. Yield Treasury 2 tahun naik menjadi 4,941%.
Lonjakan yield tersebut terjadi ketika investor memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.
Data perdagangan kontrak Fed Funds menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober mendekati 71%, menurut CME FedWatch. Angka tersebut meningkat dari sekitar 55% sepekan sebelumnya.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Yield obligasi yang lebih tinggi dapat memberikan tekanan terhadap keuangan rumah tangga karena biaya pinjaman meningkat. Kondisi tersebut terjadi ketika konsumen juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar.
Namun, kuatnya aktivitas ekonomi AS menjadi faktor yang membuat tekanan terhadap inflasi tetap menjadi perhatian.
Data PMI manufaktur dan jasa yang dirilis S&P Global pada Rabu menunjukkan dunia usaha AS masih tumbuh kuat.
"Ekonomi terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa, tetapi kekuatan tersebut membuat kekhawatiran inflasi tetap hidup dan mendorong suku bunga lebih tinggi," ujar pendiri Evertern Wealth Jason Stephens, dikutip CNBC. Menurut Stephens, pasar obligasi kini menjadi salah satu pasar yang paling penting untuk diperhatikan.
Stephens mengatakan perhatian investor seharusnya tidak hanya tertuju pada apakah The Fed akan menaikkan suku bunga lagi.
Pertanyaan yang lebih besar adalah berapa lama suku bunga akan bertahan tinggi dan apa dampaknya jika yield Treasury 10 tahun berada di atas 5% dalam waktu lama.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi sektor perumahan, pembiayaan perusahaan, pasar swasta, hingga valuasi saham.
Harga energi juga menjadi faktor penting.
Setiap kenaikan harga minyak yang cepat akibat perkembangan konflik Timur Tengah dapat langsung memengaruhi inflasi dan ekspektasi suku bunga.
Pasar saat ini menghadapi kondisi yang cukup kontras. Investor mengkhawatirkan kenaikan suku bunga bukan karena ekonomi sedang runtuh, tetapi justru karena data ekonomi menunjukkan kekuatan yang membuat tekanan inflasi sulit mereda.
Saham Oracle Anjlok
Di antara saham individual, Oracle menjadi salah satu pemberat utama perdagangan Kamis.
Saham perusahaan teknologi tersebut turun 3,5% setelah Bloomberg melaporkan, berdasarkan sumber yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa Oracle menggunakan klausul force majeure untuk melindungi perusahaan dari potensi keterlambatan proyek pusat data di New Mexico.
Pergerakan saham teknologi secara keseluruhan juga tetap sensitif terhadap kenaikan yield Treasury karena valuasi perusahaan teknologi umumnya lebih terpengaruh oleh perubahan biaya modal dan tingkat diskonto.
Dengan yield Treasury 10 tahun bertahan di atas 5%, investor kini menghadapi persimpangan antara pertumbuhan ekonomi AS yang masih kuat, tekanan inflasi, harga energi tinggi, dan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.
