Diplomasi AS-Iran Buka Harapan Baru, Harga Minyak Turun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Iran dan AS melakukan pembicaraan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Diplomasi AS-Iran membuka harapan baru terkait pembukaan Selat Hormuz, sehingga membuat harga minyak turun.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,3% pada perdagangan Jumat (25/9/2026) menjadi US$92,41 per barel. Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, melemah 2,1% ke US$104,32 per barel.
Baca Juga
Minyak Brent Melonjak Lebih dari 3%, AS-Iran Upayakan Kesepakatan Bertahap Buka Selat Hormuz
Dengan penurunan tersebut, WTI mencatat pelemahan 7,9% sepanjang pekan. Brent juga berakhir lebih rendah pada Jumat, meski secara mingguan pergerakannya relatif datar.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Iran mengisyaratkan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik penting perdagangan minyak dunia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa Teheran bersedia membuka Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila AS memenuhi sejumlah persyaratan yang tercantum dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) yang dicapai pada Juni.
Pernyataan tersebut muncul ketika Iran dan AS kembali melakukan pembicaraan di tengah konflik yang telah mengganggu aktivitas pelayaran dan meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global.
Namun, kesepakatan yang dicapai pada Juni sebelumnya dengan cepat runtuh setelah pertempuran kembali pecah terkait hak transit melalui Selat Hormuz. Karena itu, masih belum jelas bagaimana proposal terbaru Iran dapat mencegah kembali pecahnya konflik.
Araghchi mengatakan Iran akan kembali melakukan perundingan untuk mencapai kesepakatan final apabila AS menerapkan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam MOU tersebut. “Teheran sedang menunggu tanggapan dari AS,” ujar Araghchi kepada wartawan.
Baca Juga
Menurut dia, kesepakatan tersebut sebaiknya dicapai sebelum pemilihan paruh waktu AS atau midterm election. Namun, ia menegaskan Iran tidak terburu-buru.
“Saya pikir akan jauh lebih baik jika ini dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu, tetapi keputusan itu bergantung pada pemerintahan AS. Kami tidak sedang terburu-buru,” kata Araghchi, seperti dilansir CNBC.
Perkembangan diplomatik tersebut menjadi perhatian pasar minyak karena setiap tanda menuju penyelesaian konflik berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau kembali pecahnya konflik dapat mempertahankan tekanan terhadap jalur pelayaran dan pasokan energi global.
