Harapan Perundingan AS-Iran Menguat, Harga Minyak Terjun Lebih dari 7%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 7% setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengisyaratkan adanya peluang penyelesaian diplomatik konflik AS-Iran. Konflik ini telah mengganggu pasar energi selama delapan bulan.
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, patokan internasional, merosot 7,6% menjadi US$104,77 per barel pada perdagangan Senin (2/11/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7,4% dan ditutup pada US$96,46 per barel. Penurunan harian tersebut menjadi yang terbesar sejak 27 Juli 2026.
Baca Juga
Pelemahan tajam ini mencerminkan berkurangnya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan eskalasi militer di Timur Tengah. Selama Oktober, harga minyak telah meningkat lebih dari 10% karena pasar memperhitungkan risiko serangan militer yang lebih besar setelah pemilihan paruh waktu AS.
Trump mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan dan peluang untuk mewujudkannya masih terbuka. “Mereka ingin membuat kesepakatan dan itu bisa terjadi,” ujar Trump.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan bahwa Trump lebih memilih tidak menggunakan kekuatan militer terhadap Iran dan ingin menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi.
Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa keputusan mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran belum diambil. “Presiden belum membuat keputusan” mengenai apakah AS akan kembali menyerang Iran, kata Rubio kepada wartawan.
Ia menambahkan, Trump memiliki keyakinan bahwa militer AS mampu bertindak apabila diperlukan. Namun, Washington lebih memilih penyelesaian secara damai.
Iran Buka Pintu Perundingan
Sinyal diplomasi juga datang dari Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintahnya berupaya menyelesaikan persoalan melalui dialog, menurut kantor berita milik pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA).
Pezeshkian menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan kewenangan tertentu kepada pemerintah untuk menjalankan upaya tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan kesepakatan dengan Washington masih mungkin dicapai apabila AS menunjukkan iktikad baik dan benar-benar menginginkan penyelesaian damai.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak di Atas 2%, Brent Tembus US$117 di Tengah Ancaman Eskalasi Perang Iran
Menurut Araghchi, para mediator tengah membahas proposal yang diajukan Iran dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September lalu.
Dalam proposal tersebut, Teheran mengharapkan AS mencabut sanksi, mengurangi kehadiran militernya di kawasan hingga kembali ke tingkat sebelumnya, serta mengakhiri blokade.
Namun, harapan diplomasi tersebut masih dibayangi sikap keras militer Iran. Pada Sabtu, Mojtaba Khamenei menyerukan angkatan bersenjata Iran untuk menghadapi setiap tingkat atau jenis ancaman dengan respons segera, berdampak kuat, dan tanpa batasan geografis.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya menghilangkan risiko kembali meningkat konflik.
Premi Risiko Minyak Masih Bertahan
Penurunan harga minyak pada Senin terutama mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga.
Direktur strategi komoditas di TD Securities Ryan McKay mengatakan, laporan mengenai upaya diplomasi dapat memberikan pengaruh besar terhadap harga minyak karena sebagian kenaikan harga sebelumnya berasal dari antisipasi eskalasi konflik.
Namun, menurut dia, kabar perundingan saja belum cukup untuk menghapus seluruh premi risiko selama belum ada penyelesaian konkret.
Selama serangan terhadap kapal tanker dan serangan kelompok Houthi masih terjadi, pasar minyak tetap berpotensi mengalami gejolak.
Artinya, penurunan harga saat ini belum tentu menandai berakhirnya tekanan geopolitik terhadap pasar energi. Investor masih harus mencermati apakah perundingan AS-Iran menghasilkan kesepakatan nyata, termasuk perubahan terhadap sanksi, blokade, dan aktivitas militer di kawasan.
Bagi negara pengimpor energi, pelemahan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan biaya impor minyak mentah dan produk BBM. Namun, dampaknya terhadap harga BBM domestik, inflasi, dan anggaran akan bergantung pada keberlanjutan penurunan harga, nilai tukar, serta kebijakan pemerintah.
Arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan diplomasi AS-Iran. Jika pembicaraan menghasilkan kemajuan nyata, premi risiko dapat terus menyusut. Sebaliknya, kegagalan perundingan atau munculnya serangan baru berpotensi kembali mendorong harga minyak naik tajam.
