Iran Disebut Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Ini Syaratnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Iran disebut mengisyaratkan kesediaan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Pembukaan Selat Hormuz akan dilakukan jika Amerika Serikat (AS) mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga
Hormuz Terancam, Lalu Lintas Tanker Anjlok dan Harga Minyak Melonjak
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir justru mengancam akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Reuters dan kantor berita Jepang Kyodo, sama-sama mengutip seorang pejabat senior pemerintah Iran yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Teheran telah menyampaikan sejumlah persyaratan yang diperlukan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Bila laporan itu benar, maka diplomasi antara AS dan Iran kembali terbuka setelah hampir tujuh bulan perang di Timur Tengah. CNBC menyatakan tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Seorang pejabat senior pemerintah Iran mengatakan kepada MS Now, mitra CNBC dari Versant Media, bahwa laporan Reuters dan Kyodo tersebut tidak benar.
Perang telah mengganggu secara serius aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur perairan sempit tersebut biasanya menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di kawasan itu pun telah menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian global.
Pasar keuangan langsung merespons laporan tersebut. Kontrak berjangka indeks saham AS bergerak beragam, sementara harga minyak berbalik melemah.
Harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional untuk kontrak November tercatat turun 2,6% menjadi US$97,73 per barel. Pada Selasa (22/9/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober turun 3,1% menjadi US$92,40 per barel.
Laporan mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz muncul menjelang pidato Trump di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa waktu setempat.
Hal itu terjadi di tengah meningkatnya tekanan domestik terhadap keputusan Trump melancarkan perang terhadap Iran, konflik yang telah mengguncang perekonomian global.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengancam akan "mematikan" seluruh maskapai penerbangan Iran mulai Rabu.
Dalam wawancara dengan CNBC pada Senin, Bessent mengatakan Washington dapat melakukan tekanan dengan mencegah pesawat Iran memperoleh bahan bakar, layanan pendaratan maupun penjualan tiket. Perusahaan yang memberikan layanan tersebut, katanya, dapat kehilangan akses terhadap sistem dolar AS.
Bessent mengatakan Washington kini menekan Iran "seperti yang belum pernah dilakukan sebelumnya". Ia juga mengatakan AS tengah menargetkan pihak-pihak yang memungkinkan Iran menjalankan aktivitas ekonominya di berbagai negara, termasuk melalui sanksi terhadap bank.
Baca Juga
Akankah Perang Iran vs AS Segera Berakhir, Bagaimana Tren Harga Minyak Mentah Dunia?
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap VTB Bank yang dikendalikan negara Rusia. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Washington mengisolasi Iran secara ekonomi dengan menargetkan mitra bisnis dan pihak-pihak yang mendukung sistem keuangan Iran.
G7 Kecam Serangan Houthi
Secara terpisah, kelompok negara G7 menyerukan penghentian serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Yaman dan Arab Saudi.
G7 mengecam "serangan berkelanjutan yang tidak dapat diterima" oleh kelompok tersebut serta menyerukan agar Houthi menghentikan seluruh aktivitas militer dan serangan terhadap kapal sipil. Kelompok tersebut juga meminta Iran menghentikan dukungannya terhadap Houthi.
Houthi sebelumnya dilaporkan mengeklaim telah menyerang sejumlah lokasi yang disebut "sensitif" di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada akhir pekan. Kebakaran dan kepulan asap dilaporkan terlihat di sekitar bandara kota tersebut.
Baca Juga
Hindari Serangan Houthi, Arab Saudi Alihkan Ekspor Minyak Lewat Mediterania
Kelompok Houthi juga baru-baru ini merebut Pulau Perim di Laut Merah, memperkuat kendalinya atas Selat Bab el-Mandeb.
Perkembangan tersebut menempatkan Iran dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya dalam posisi berpotensi memengaruhi dua titik sempit yang sangat penting bagi perdagangan dan energi dunia, yakni Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz.
Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur alternatif penting bagi ekspor minyak untuk menghindari Selat Hormuz. Jalur tersebut terutama penting bagi Arab Saudi karena jaringan pipa East-West milik kerajaan memungkinkan sebagian aliran minyak dialihkan untuk diekspor melalui Laut Merah.
Pernyataan G7 tersebut muncul setelah Inggris dilaporkan menyatakan akan mendukung Arab Saudi menghadapi kelompok Houthi yang didukung Iran. Angkatan Udara Kerajaan Inggris disebut akan menyediakan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat Arab Saudi.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengatakan dukungan tersebut akan diberikan selama beberapa pekan dan akan terus dievaluasi.
Langkah Inggris muncul setelah Trump menolak permintaan Riyadh untuk membantu menghadapi Houthi pada akhir pekan. Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan udara yang sebelumnya dipertimbangkan.
Burnham mengatakan langkah Inggris dilakukan untuk mengamankan kepentingan Inggris dan kawasan yang lebih luas, mengingat Arab Saudi telah mengalami serangan dan menghadapi potensi gangguan lebih lanjut terhadap jalur distribusi minyak.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sebelumnya juga mengisyaratkan kemungkinan negara-negara Eropa memberikan dukungan kepada Arab Saudi. Dalam wawancara dengan BBC, Rutte mengatakan dirinya tidak akan terkejut jika negara-negara Eropa telah melakukan pembicaraan mengenai cara menghadapi situasi tersebut.
