Iran Tingkatkan Serangan di Selat Hormuz, Minyak Brent Sentuh US$110 per Barel
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah Iran meningkatkan serangan di Selat Hormuz. Sementara itu, kelompok militan Houthi meluncurkan rudal ke Arab Saudi, dan Ukraina menegaskan akan melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia.
Baca Juga
Brent Naik Lebih dari 14% Sepanjang September, Pasar Minyak Dibayangi Krisis BBM AS dan Konflik Iran
Dikutip dari CNBC, pada perdagangan Jumat (16/10/2026), minyak mentah Brent sempat menyentuh US$110 per barel, untuk pertama kalinya sejak Mei, sebelum sedikit terkoreksi dan ditutup pada US$109,86 per barel. Harga tersebut naik 3,7% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) meningkat 3,5% menjadi US$101,41 per barel. Sepanjang pekan ini, harga WTI melonjak lebih dari 10%, sedangkan Brent naik hampir 5%.
Kenaikan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan berlanjutnya serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.
Arab Saudi pada Jumat mencegat sejumlah rudal yang melintas di atas Laut Merah. Salah satu rudal dilaporkan mengarah ke terminal ekspor minyak Yanbu, menurut seorang juru bicara militer. Militer Saudi juga menyatakan telah menghancurkan tiga pesawat nirawak di Riyadh dan wilayah selatan negara tersebut.
Kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, berulang kali melancarkan serangan ke Arab Saudi sepanjang pekan ini. Perusahaan minyak raksasa Saudi, Aramco, juga menjadi sasaran ketika salah satu gedung administrasinya di Dhahran terkena serangan pada Selasa, menurut Kementerian Energi Arab Saudi. Sebelumnya, serangan Houthi terhadap Bandara Internasional Riyadh pada 10 Oktober menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan
Di Selat Hormuz, setidaknya sembilan kapal tanker dan kapal kargo telah menjadi sasaran serangan sejak Minggu. Iran berupaya membatasi ekspor minyak melalui jalur pelayaran strategis tersebut.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan Iran menenggelamkan kapal kontainer GFS Pride pada Rabu. Otoritas maritim Singapura menyebut seluruh awak kapal berbendera Singapura tersebut berhasil dievakuasi dengan selamat.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan bahwa rangkaian serangan sepanjang pekan ini menyebabkan tiga pelaut terluka dan dua lainnya hilang.
Gangguan keamanan tersebut terjadi ketika pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz kembali menurun, setelah sempat mencapai tingkat sebelum perang pada September.
Data perusahaan riset energi Kpler menunjukkan pengiriman minyak mentah melalui jalur tersebut mencapai 9,4 juta barel per hari pada pekan yang berakhir Rabu. Angka ini setara dengan sekitar 70% dari rata-rata pengiriman sebelum perang Iran.
Situasi ini memperbesar risiko terhadap pasokan minyak global. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi internasional sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, premi risiko, dan volatilitas harga minyak.
Konflik Rusia-Ukraina
Tekanan terhadap pasar energi juga datang dari konflik Rusia-Ukraina. Upaya Presiden AS Donald Trump untuk memediasi gencatan senjata energi antara kedua negara dengan cepat kehilangan momentum.
Baca Juga
Ukraina Serang Terminal Minyak Rusia, Usai Trump-Putin Sepakat soal Pasokan Solar Dunia
Kremlin tetap melanjutkan serangan terhadap infrastruktur Ukraina meskipun sebelumnya terdapat kesepakatan gencatan senjata. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Kyiv akan kembali menyerang kilang minyak Rusia sebagai pembalasan.
Harga solar di AS telah melonjak tahun ini akibat serangan Ukraina terhadap kilang Rusia serta serangan Iran terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Menurut data American Automobile Association (AAA), harga rata-rata solar di AS mencapai US$6,33 per galon pada Jumat, lebih dari 70% di atas tingkat pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan harga minyak AS juga didorong oleh penurunan persediaan komersial yang cukup besar. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah komersial turun lebih dari 8 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober.
Penurunan tersebut terjadi di tengah penghentian sementara produksi di wilayah Pantai Teluk AS akibat Badai Isaias.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah, ancaman terhadap infrastruktur energi Rusia, dan penurunan persediaan minyak AS meningkatkan tekanan kenaikan harga. Di pasar global, perkembangan ini menambah risiko inflasi energi dan meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek ekonomi serta biaya produksi industri.
