Minyak Brent Melonjak Lebih dari 3%, AS-Iran Upayakan Kesepakatan Bertahap Buka Selat Hormuz
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada Kamis (24/9/2026). Namun, harga minyak bergerak turun dari level tertingginya setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah membahas kesepakatan bertahap untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga
Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah pada AS, Harga Minyak Melonjak
Dikutip dari CNBC, harga minyak Brent, patokan global, naik 3,4% menjadi US$106,60 per barel. Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% menjadi US$94,61 per barel.
Pada perdagangan intraday, kedua kontrak sempat melonjak sekitar 5% sebelum mengurangi sebagian kenaikannya setelah muncul laporan mengenai pembicaraan AS-Iran.
Reuters melaporkan para perunding AS dan Iran di New York sedang mengeksplorasi skema bertahap untuk mengakhiri konflik. Salah satu opsi yang dibahas adalah Iran membuka kembali Selat Hormuz, sementara AS mencabut blokade ekonominya terhadap Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu kunci dalam negosiasi karena merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak global. Iran sebelumnya juga menyatakan kesiapan membuka kembali jalur tersebut jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Namun, perkembangan diplomatik tersebut belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.
Serangan Houthi Dorong Harga Minyak
Sebelum laporan mengenai negosiasi tersebut muncul, Brent sempat melonjak sekitar 5% hingga mencapai US$108,23 per barel.
Kenaikan dipicu serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman terhadap Arab Saudi.
Baca Juga
Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Militer Arab Saudi menyatakan telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan Houthi menuju wilayah Yanbu dan Taif.
Yanbu merupakan salah satu terminal ekspor minyak penting Arab Saudi yang berada di pesisir Laut Merah.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Brent telah naik lebih dari 17% sepanjang September, sedangkan minyak mentah AS meningkat lebih dari 10%.
Pergerakan tersebut menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap perkembangan konflik dan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.
Belum Ada Titik Temu
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan tegas dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.
Trump pada Selasa mengatakan dirinya menghadapi "keputusan besar" mengenai apakah akan bernegosiasi dengan Iran atau mengambil tindakan yang jauh lebih keras.
Sehari kemudian, Pezeshkian mengatakan Iran tidak akan menyerah kepada tekanan AS dan akan terus berjuang.
Namun, di balik pernyataan publik yang keras, para perunding kedua negara tetap melakukan pembicaraan di New York.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa opsi yang paling realistis adalah kesepakatan bertahap, dengan Teheran mengizinkan pelayaran kembali melalui Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi AS.
Pembicaraan tersebut masih menghadapi hambatan karena kedua pihak belum bersedia menjadi pihak pertama yang kehilangan pengaruh dalam negosiasi.
Perkembangan terbaru menunjukkan pasar minyak masih harus menghadapi dua skenario. Eskalasi konflik dapat kembali mendorong harga minyak lebih tinggi, sementara kesepakatan diplomatik yang membuka kembali Selat Hormuz berpotensi meningkatkan pasokan dan meredakan tekanan harga.
