Houthi Berebut Pegunungan Strategis Yaman, Ribuan Warga Mengungsi ke Djibouti
Poin Penting
|
OBOCK/RIYADH, Investortrust — Perang di Yaman semakin mendekati Selat Bab al-Mandab. Setelah memperluas kendali di pesisir Laut Merah sepanjang September 2026, kelompok Houthi, Senin (21/9/2026), bergerak merebut Pegunungan Kahboub di wilayah Taiz dan Lahij. Lima sumber militer Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa penguasaan dataran tinggi tersebut dapat memutus hubungan antara pesisir Laut Merah dan wilayah selatan yang masih dikuasai pasukan pemerintah dukungan Arab Saudi.
Perkembangan di medan tempur itu berlangsung bersamaan dengan gelombang pengungsian. Dalam laporan lapangan yang terbit Senin (21/9/2026), koresponden keamanan BBC Frank Gardner menemui keluarga-keluarga Yaman yang menyeberangi Bab al-Mandab dengan perahu menuju Djibouti. Mereka kemudian tiba di kawasan penampungan Markazi, dekat kota Obock. Dengan demikian, tanggal 21 September adalah tanggal terbit laporan BBC dan perkembangan pertempuran yang dilaporkan Reuters, sedangkan perpindahan para pengungsi berlangsung selama eskalasi pertempuran pada September; tidak ada satu tanggal penyeberangan yang berlaku untuk seluruh keluarga.
Di Markazi, Gardner bertemu Ibrahim Issa, nelayan berusia 50 tahun dari Dhubab, kota pesisir Yaman yang berada dekat garis depan. Ibrahim membawa keluarganya menyeberang dengan perahu miliknya, bersama beberapa ekor kambing. Ia menggambarkan bagaimana anak-anaknya ketakutan setiap kali mendengar suara pesawat. Sebagian keluarga lain sempat membawa sedikit barang, tetapi ada pula yang tiba hanya dengan pakaian yang dikenakan.
Baca Juga
Kesepakatan Hormuz Makin Dekat, Houthi Gempur Basis Militer Yaman
Menurut Reuters, Arab Saudi telah melancarkan ratusan serangan udara terhadap posisi Houthi di kawasan dataran tinggi, berdasarkan keterangan kelompok tersebut. Namun, pertempuran memperebutkan Pegunungan Kahboub masih berlanjut. Letaknya membuat kawasan itu penting bagi jalur darat antara pesisir Laut Merah dan wilayah selatan Yaman. Perebutan posisi tersebut juga menambah kekhawatiran terhadap keamanan di sekitar Bab al-Mandab, jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Ketegangan meluas hingga Arab Saudi. Houthi menyatakan telah menembakkan rudal ke Riyadh pada Sabtu, 19 September 2026, dalam serangan yang mereka klaim sebagai serangan pertama ke ibu kota Saudi sejak eskalasi terbaru dimulai. Reuters melaporkan adanya suara ledakan dan asap di sekitar bandara, tetapi pemerintah Arab Saudi belum memberikan komentar mengenai klaim Houthi tersebut. Karena itu, sasaran dan akibat serangan yang diklaim Houthi belum dapat dinyatakan sebagai fakta yang telah terkonfirmasi.
Di tengah desakan agar Amerika Serikat membantu Arab Saudi, muncul laporan bahwa Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan udara terhadap Houthi pada saat-saat terakhir. Reuters mengutip laporan The New York Times mengenai persiapan serangan pada Minggu, 20 September 2026, tetapi menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memverifikasi laporan pembatalan itu secara independen. Komando Pusat militer AS mengarahkan pertanyaan kepada Gedung Putih, sementara Gedung Putih belum memberikan tanggapan saat Reuters meminta komentar. Dengan demikian, keputusan mengenai serangan tersebut masih harus disebut sebagai laporan, bukan kepastian resmi dari Washington.
Reuters juga melaporkan, berdasarkan keterangan empat sumber, bahwa Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, meminta bantuan militer AS dalam percakapan telepon dengan Trump pada Minggu, 20 September. Dua sumber mengatakan Trump tidak memberikan janji dukungan militer secara langsung dalam pembicaraan itu.
Baca Juga
Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Dampak kemanusiaan perang terus bertambah. UNHCR pada 15 September 2026 melaporkan lebih dari 100.000 orang mengungsi di dalam Yaman akibat peningkatan pertempuran di pesisir barat. Dalam pembaruan 18 September, badan PBB itu menyebut hampir 3.000 orang telah tiba di Djibouti dalam waktu kurang dari sepekan. Laporan Reuters pada 21 September menyampaikan angka yang lebih baru: hampir 130.000 orang mengungsi di dalam Yaman dan lebih dari 3.000 orang menyeberang ke Afrika. Reuters juga mengutip angka PBB bahwa hampir 700 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam eskalasi pertempuran. Perbedaan angka pengungsi tersebut mencerminkan tanggal pembaruan yang berbeda, sementara pengungsi di dalam Yaman dan mereka yang menyeberang ke Djibouti merupakan dua kelompok pencatatan yang berbeda.
Arus kedatangan itu menekan kapasitas Markazi. Menurut UNHCR pada 18 September, kawasan penampungan tersebut dirancang untuk sekitar 5.000 pengungsi dan sebelumnya telah dihuni lebih dari 2.700 pengungsi Yaman serta 1.500 pengungsi Eritrea. UNHCR menyatakan operasinya di Djibouti baru memperoleh sekitar 15% pendanaan yang diperlukan dan membutuhkan tambahan sekitar US$5,1 juta untuk layanan penerimaan, pendaftaran, perlindungan, serta kebutuhan dasar pengungsi yang baru tiba.
Perebutan Pegunungan Kahboub menunjukkan bahwa perang belum berhenti di pesisir. Sementara para pihak menghitung nilai strategis dataran tinggi dan jalur pelayaran, keluarga seperti Ibrahim harus mengambil keputusan yang lebih mendesak: mencari tempat aman bagi anak-anak mereka.
