Kesepakatan Hormuz Makin Dekat, Houthi Gempur Basis Militer Yaman
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan besar-besaran menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak ke sejumlah kamp militer Pasukan Darurat Yaman di Provinsi Marib dan Hadramaut. Serangan Kamis (06/08/2026) dilaporkan menewaskan sedikitnya 30 personel militer dan melukai lebih dari 50 lainnya, sekaligus menandai peningkatan signifikan konflik yang sebelumnya relatif mereda sejak gencatan senjata de facto pada 2022.
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim operasi tersebut sebagai bagian dari ekspansi kampanye militernya terhadap pasukan yang didukung Arab Saudi. Menurut juru bicara Houthi, serangan itu menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone bersenjata yang menghantam beberapa fasilitas militer secara bersamaan. Pemerintah Yaman mengecam aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap upaya perdamaian yang selama ini dimediasi berbagai pihak internasional.
Di tengah meningkatnya pertempuran di Yaman, secercah harapan muncul dari perkembangan diplomatik di Teluk Persia. Pemerintah Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai mekanisme pelayaran komersial di Selat Hormuz kini “hampir mencapai tahap final”. Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengatakan kedua negara telah menyepakati koordinat jalur pelayaran yang akan digunakan sebagai dasar pembukaan kembali jalur energi paling strategis di dunia tersebut.
Meski demikian, Teheran menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz belum akan berlangsung otomatis. Iran menyatakan Amerika Serikat terlebih dahulu harus memenuhi berbagai komitmen yang telah dibahas dalam perundingan sebelumnya. Iran juga kembali menegaskan tidak sedang melakukan negosiasi langsung dengan Washington terkait penyelesaian konflik tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Karena itu, setiap perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar energi global. Bahkan, harga minyak dunia kembali melonjak setelah muncul kekhawatiran bahwa ketegangan baru dapat menghambat arus pengiriman energi internasional.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan mengenai menipisnya persediaan amunisi militer AS setelah perang dengan Iran. Trump menegaskan Pentagon masih memiliki “persediaan amunisi dalam jumlah sangat besar” dan berjanji akan memburu pihak-pihak yang membocorkan informasi mengenai dugaan kekurangan persenjataan tersebut. Ia juga menyatakan sangat puas terhadap kinerja Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan menyebut operasi militer terhadap Iran berjalan “sangat baik”.
Di front lain, ketegangan antara Israel dan Lebanon kembali meningkat setelah ledakan di Kota Majdal Selem, Lebanon Selatan, menewaskan dua tentara Israel. Insiden tersebut memicu serangan udara balasan Israel terhadap sejumlah target yang dikaitkan dengan Hizbullah dan sekaligus mengganggu proses perundingan yang dimediasi Amerika Serikat antara kedua negara.
Militer Israel juga terus meningkatkan operasi di Tepi Barat yang diduduki. Pasukan Israel kembali menggerebek Kamp Pengungsi Qalandiya untuk hari kedua berturut-turut. Dalam operasi tersebut, sejumlah warga Palestina dilaporkan terluka dan puluhan lainnya ditangkap sebagai bagian dari operasi keamanan yang masih berlangsung.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun diplomasi mengenai Selat Hormuz mulai menunjukkan kemajuan, stabilitas kawasan Timur Tengah masih sangat rapuh. Konflik di Yaman, ketegangan Israel-Lebanon, serta operasi militer di Tepi Barat berpotensi menghambat proses perdamaian sekaligus mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar energi global.
