Kenaikan Yield Treasury Guncang Pasar AS, Wall Street Bergerak ‘Volatile’
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Indeks Dow Jones Industrial Average melemah pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (19/9/2026) WIB. Indeks saham unggulan itu mengakhiri pekan yang penuh gejolak di tengah kenaikan yield Treasury AS dan harga minyak yang masih berada di atas US$100 per barel.
Dow Jones Industrial Average yang berisi 30 saham utama turun 95,40 poin atau 0,18% menjadi 51.682,64. Sebaliknya, indeks S&P 500 naik 0,17% ke level 7.650,50, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,39% dan ditutup pada 26.522,55.
Pergerakan Wall Street terjadi ketika yield Treasury kembali meningkat. Yield Treasury 10 tahun sempat kembali menembus 5% setelah turun pada Kamis. Yield tersebut terakhir naik hampir 6 basis poin menjadi 5,006%.
Kenaikan yield menjadi perhatian investor karena terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu, kenaikan pertama dalam tiga tahun. Bank sentral AS juga memberikan sinyal bahwa setidaknya masih terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya pada tahun ini.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Bergejolak, Yield Treasury 10-Tahun Kembali Tembus 5%
Sebelumnya pada pekan ini, yield Treasury 10 tahun bahkan sempat menembus level yang menjadi tertinggi sejak Juli 2007.
Tekanan terhadap pasar saham juga datang dari harga minyak yang tetap tinggi. Meskipun harga minyak mentah AS relatif tidak berubah sepanjang pekan, harga masih bertahan di atas US$100 per barel.
Pada Jumat, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,58% menjadi US$100,30 per barel. Sementara Brent, patokan harga minyak global, turun 0,91% menjadi US$103,87 per barel.
Kombinasi antara harga minyak yang tinggi dan yield obligasi yang meningkat menjadi perhatian pasar karena dapat memperbesar tekanan inflasi sekaligus mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Kinerja Mingguan Terburuk?
Secara mingguan, kinerja tiga indeks utama Wall Street berakhir beragam.
Dow turun sekitar 1,7%, sekaligus mencatat pekan ketiga berturut-turut dalam zona merah dan menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Maret.
S&P 500 turun sekitar 0,1% sepanjang pekan. Sementara itu, Nasdaq yang didominasi saham teknologi menjadi satu-satunya indeks utama yang mencatat kenaikan, yakni sekitar 0,7%.
Pasar saham sebenarnya sempat bangkit pada Kamis setelah aksi jual sehari sebelumnya menyusul keputusan The Fed menaikkan suku bunga.
Baca Juga
Wall Street Bangkit, Investor Kembali Borong Saham Teknologi
Kenaikan pada saham teknologi menunjukkan sebagian investor masih melihat prospek kecerdasan buatan (AI) sebagai sumber pertumbuhan laba perusahaan, meskipun suku bunga diperkirakan berada pada level tinggi lebih lama.
"Sebagian ketidakpastian telah hilang pekan ini ketika The Fed menaikkan suku bunga," kata Scott Welch, chief investment officer di Certuity, dikutip CNBC.
Namun, Welch menilai kenaikan suku bunga tersebut belum tentu menjadi keputusan terakhir The Fed dalam siklus kali ini. Menurut dia, siklus kenaikan suku bunga baru saja dimulai dan kondisi tersebut berpotensi menekan kinerja saham dalam beberapa bulan mendatang.
Welch memperkirakan The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi pada 2026, serta berpotensi melakukan kenaikan tambahan pada 2027.
Prospek tersebut membuat tekanan terhadap yield Treasury diperkirakan masih berlanjut. Pada saat yang sama, harga minyak juga diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Kombinasi kedua faktor tersebut menjadi tantangan bagi Wall Street. Yield yang tinggi meningkatkan biaya modal perusahaan, sementara minyak mahal dapat menjaga tekanan inflasi dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Meski demikian, Welch tidak melihat kondisi tersebut sebagai alasan untuk bersikap bearish terhadap pasar secara keseluruhan.
Ia menggambarkan prospek pasar hingga akhir tahun sebagai kondisi yang cenderung bergerak secara bertahap, dengan investor masih harus menghadapi kombinasi suku bunga tinggi, yield obligasi yang meningkat, serta harga energi yang mahal.
Dengan demikian, perhatian pasar pada pekan-pekan berikutnya akan tertuju pada data inflasi dan ketenagakerjaan AS, pernyataan pejabat The Fed, pergerakan harga minyak, serta kemampuan saham teknologi mempertahankan momentum di tengah perubahan lingkungan suku bunga.
