Keputusan The Fed Guncang Pasar, Yield Treasury AS 10-Tahun Bercokol di Level 5%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil atau yield Treasury AS bertenor 10 tahun kembali menembus level 5% setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai risiko inflasi yang masih tinggi turut mendorong tekanan di pasar obligasi.
Yield Treasury 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 5,016% pada Rabu (16/9/2026). Sebelumnya, yield acuan tersebut telah menyentuh 5,041% pada Selasa (15/9/2026), level tertinggi sejak Juli 2007.
Baca Juga
Peluang Kenaikan Bunga Fed Menguat, Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 5%
Sementara itu, yield Treasury 2 tahun melonjak lebih dari 7 basis poin menjadi 4,738%, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan.
Kenaikan yield terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (16/9/2026). Dengan keputusan tersebut, suku bunga federal funds kini berada dalam kisaran 3,75%-4%, naik dari sebelumnya 3,5%-3,75%.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyebut inflasi masih berada pada level tinggi dan kebijakan tersebut diharapkan mempercepat kembalinya inflasi menuju target 2%.
“Inflasi masih tinggi. Tindakan kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju target 2% Komite,” sebut FOMC dalam pernyataannya.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Keputusan tersebut diambil ketika harga minyak melonjak akibat eskalasi perang AS-Iran. Kenaikan harga energi mulai tercermin dalam data inflasi terbaru, termasuk indeks harga konsumen AS pada Agustus.
Warsh menegaskan bahwa perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum memberikan keyakinan bahwa tekanan harga telah membaik secara mendasar.
“Angka inflasi musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti. Inflasi tinggi dan sudah terlalu tinggi dalam waktu yang terlalu lama,” kata Warsh kepada wartawan. ernyataan tersebut menjadi perhatian investor karena kenaikan harga energi berpotensi membuat inflasi bertahan lebih lama.
Di Bawah Tekanan
Pasar obligasi telah berada di bawah tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Yield Treasury 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 pada Selasa, seiring investor memperhitungkan risiko bahwa harga minyak yang tinggi akan menjaga tekanan inflasi.
Kay Haigh, global head dan CIO fixed income and liquidity solutions di Goldman Sachs Asset Management, mengatakan The Fed sejauh ini belum memberikan sinyal bahwa mereka akan menjalankan siklus pengetatan moneter secara agresif.
“Sebagian besar anggota FOMC memperkirakan total dua kali kenaikan suku bunga pada tahun ini berdasarkan proyeksi ekonomi terbaru,” ujar Haigh, dikutip CNBC.
Ia memperkirakan The Fed kemungkinan melewatkan pertemuan Oktober karena waktunya berdekatan dengan pemilihan paruh waktu AS, sementara satu kali kenaikan tambahan pada Desember menjadi skenario dasarnya.
Namun, Haigh menekankan bahwa arah tersebut masih bergantung pada data inflasi mendatang dan perkembangan harga energi.
Pergerakan yield Treasury menjadi sangat penting bagi pasar keuangan karena kenaikan imbal hasil dapat meningkatkan biaya pembiayaan bagi pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga.
Tekanan tersebut juga muncul ketika harga minyak telah bergerak jauh di atas US$100 per barel akibat konflik AS-Iran dan gangguan terhadap jalur perdagangan energi.
Jika harga energi bertahan tinggi, investor akan mencermati apakah tekanan tersebut hanya berdampak pada inflasi jangka pendek atau mulai menyebar ke berbagai komponen harga dalam perekonomian.
