Minyak Brent Dekati US$ 110, Gangguan Pipa Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah kembali melonjak, dengan minyak AS menembus level US$105 per barel dan Brent mendekati US$110 per barel. Kenaikan terjadi setelah Arab Saudi dilaporkan membatalkan sebagian pengiriman minyak mentah akibat penutupan pipa ekspor utama menyusul serangan drone oleh Houthi.
Baca Juga
Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman terdekat naik 4,4% menjadi US$105,83 per barel pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Ini merupakan level penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga global, naik 2,9% dan ditutup pada US$108,75 per barel.
Lonjakan itu memperpanjang reli harga minyak yang kini telah meningkat lebih dari 20% sepanjang September. Eskalasi pertempuran di kawasan Teluk Persia dan gangguan terhadap jalur transportasi minyak menjadi pendorong utama kenaikan.
Sumber perdagangan mengatakan kepada Reuters bahwa Arab Saudi telah memberi tahu sejumlah pelanggan di Eropa bahwa sebagian pengiriman minyak mentah untuk September dibatalkan.
Keputusan tersebut terjadi setelah Riyadh menutup East-West Pipeline, salah satu infrastruktur energi strategis Arab Saudi. Pipa yang memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari tersebut mengalami kerusakan akibat serangan drone yang diluncurkan dari Irak pekan lalu.
Arab Saudi menyebut penutupan pipa sebagai langkah “pencegahan”. Namun, pemerintah Riyadh belum memberikan penilaian mengenai tingkat kerusakan maupun perkiraan berapa lama fasilitas tersebut akan berhenti beroperasi.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa pipa tersebut kemungkinan kembali beroperasi dalam beberapa hari. “Ini akan menjadi gangguan yang singkat dan sementara,” kata Wright kepada CNBC.
Sebelum gangguan terjadi, Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak melalui jaringan pipa tersebut menuju Laut Merah. Jalur alternatif ini menjadi semakin penting ketika AS dan Iran memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.
Namun, kemampuan untuk mengalihkan ekspor melalui jalur lain tidak sepenuhnya menghilangkan risiko gangguan pasokan global.
Yulia Zhestkova Grigsby, senior commodity strategist Goldman Sachs, mengatakan serangan terhadap infrastruktur minyak menunjukkan eskalasi konflik yang signifikan.
Menurutnya, perkembangan tersebut meningkatkan kemungkinan harga minyak bergerak menuju skenario kenaikan, dengan Brent berpotensi menembus US$120 per barel.
Baca Juga
Harga Minyak Bergolak Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran, Brent Menuju US$ 120?
Risiko pasokan juga muncul dari Libya. Perusahaan minyak nasional negara tersebut menghentikan operasi di dua ladang minyak dan satu stasiun pemompaan setelah terjadi aksi protes, menurut Reuters.
Sementara itu, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Koalisi militer pimpinan Saudi mengatakan Houthi menembakkan drone dan rudal balistik ke sejumlah kota, termasuk Khamis Mushait, Abha, dan Taif.
Situasi keamanan di Selat Hormuz juga tetap sangat rentan. Sedikitnya dua kapal tanker dilaporkan mengalami serangan sejak Sabtu, menurut laporan insiden dari United Kingdom Maritime Trade Operations.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga membantah klaim Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahwa kapal tanker berbendera Panama, El Gaia, terkena ranjau laut di Selat Hormuz.
CENTCOM menyatakan kapal tersebut terkena rudal Iran pada bulan lalu dan mengalami kerusakan hingga tidak dapat beroperasi. Pernyataan itu menambah ketegangan mengenai keamanan pelayaran di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Dengan konflik AS-Iran yang kembali meningkat, gangguan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi, serta ancaman terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, pasar energi menghadapi risiko pasokan yang semakin besar.
Kondisi tersebut menjadi ancaman baru bagi perekonomian global karena kenaikan harga minyak dapat dengan cepat meningkatkan biaya transportasi, energi, dan produksi, sekaligus memperbesar tekanan inflasi.
